PorosLombok.con– Relawan Agam Rinjani menggunakan teknik vertical rescue untuk mengevakuasi pendaki asal Brazil, Juliana Merins, yang mengalami kecelakaan di jalur ekstrem Gunung Rinjani.
Korban dilaporkan terjatuh di medan curam yang menyulitkan proses evakuasi manual. Karena itu, tim SAR gabungan memutuskan menggunakan metode vertical rescue.
Teknik ini dikenal sangat berisiko, namun menjadi pilihan utama dalam evakuasi korban di jalur terjal dan berbatu seperti kawasan Rinjani.
Melansir dari laman resmi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), vertical rescue merupakan teknik penyelamatan korban dari lokasi vertikal menggunakan sistem tali, alat pengaman, dan tenaga terlatih.
“Vertical rescue diperlukan dalam kondisi di mana medan curam atau vertikal menghambat akses tim evakuasi,” tulis BNPB dalam panduan teknisnya.
Teknik ini diterapkan pada situasi khusus, seperti di gunung, tebing, jurang, atau gedung bertingkat, di mana korban tidak dapat dijangkau dengan metode biasa.
Peralatan utama yang digunakan antara lain tali statis dan dinamis, harness, carabiner, katrol, dan alat pengendali tali seperti descender.
Dengan alat tersebut, korban diikat dengan pengaman dan ditarik naik atau diturunkan perlahan dari titik penyelamat yang lebih aman.
Gunung Rinjani memiliki banyak titik rawan, terutama di sekitar kaldera, jalur Segara Anak, dan puncak, yang dikenal licin dan terjal.
Dalam kasus Juliana Merins, lokasi kejadian membuat tim tidak bisa menggunakan tandu atau cara evakuasi manual biasa.
Relawan Agam Rinjani bersama unsur SAR lainnya kemudian merakit sistem vertical rescue untuk menjangkau titik jatuh korban.
Setelah sistem tali siap, proses evakuasi berlangsung dengan pengawasan ketat dan dukungan medis di lapangan.
Proses ini membutuhkan koordinasi tinggi, karena kesalahan kecil bisa membahayakan baik korban maupun petugas penyelamat.
Setelah beberapa jam operasi, Juliana berhasil dievakuasi dengan selamat dan dibawa menuju pos aman untuk penanganan lanjutan.
Dengan Pola ini tentu butuh Pelatihan teknis dan kesiapsiagaan relawan serta tim SAR dalam menghadapi kondisi ekstrem di lapangan.
(Redaksi/PorosLombok)



















