(PorosLombok.com) — Tragedi memilukan menimpa keluarga YW. Perempuan yang berstatus ibu rumah tangga itu ditemukan meninggal dunia dengan tubuh hangus terbakar di sebuah lahan terbuka di Kecamatan Sekotong, Lombok Barat, beberapa waktu lalu.
Kasus tersebut menyita perhatian publik bukan hanya karena kondisi korban, tetapi juga karena dugaan pelaku mengarah ke lingkaran terdekat. Kepolisian menetapkan BP, anak kandung YW, sebagai tersangka utama dalam perkara kematian tersebut.
Di balik proses hukum yang berjalan, tersisa duka mendalam bagi Nindi Febrianti. Anak kedua korban itu kini harus menghadapi kehilangan orang tua sekaligus kenyataan pahit bahwa kakak kandungnya terseret dugaan tindak pidana berat.
“Saya benar-benar tidak siap menerima semua ini. Rasanya seperti kehilangan ibu dan abang dalam waktu bersamaan,” kata Nindi, Rabu (28/01/2026).
Bagi Nindi, almarhumah dikenal sebagai pribadi hangat yang selalu memberi ruang bagi anak-anaknya untuk memperbaiki diri. Sosok itulah yang selama ini menjadi sandaran emosional keluarga.
“Ibu itu orangnya ceria. Kalau kami salah, beliau tidak pernah marah lama. Selalu ada maaf buat anak-anaknya,” ujarnya.
Interaksi terakhir Nindi dengan YW terjadi pada Sabtu sebelum kejadian terungkap. Melalui pesan singkat, sang ibu mengirimkan harapan agar anak-anaknya dapat menata masa depan secara lebih baik dan memperoleh kelancaran rezeki.
“Chat terakhir ibu isinya doa. Beliau minta kami jadi orang yang lebih baik dan hidupnya lancar,” tutur Nindi.
Isi pesan tersebut kini berubah menjadi kenangan yang sulit dihapus. Nindi mengaku tak pernah membayangkan bahwa ungkapan penuh kasih itu merupakan komunikasi penutup dari perempuan yang telah membesarkannya sejak kecil.
Terkait BP, Nindi menyebut tidak melihat perubahan sikap yang mencolok sebelum peristiwa ini terjadi. Kakaknya dikenal pendiam, namun hubungan di antara mereka berjalan normal sebagaimana keluarga pada umumnya.
“Saya tidak pernah melihat tanda aneh dari abang. Kami masih sering komunikasi dan saling menyemangati,” katanya.
Saat YW tidak dapat dihubungi selama beberapa hari, Nindi menghubungi BP untuk menanyakan keberadaan sang ibu. Ia juga meminta bantuan agar dilakukan pencarian serta pelaporan resmi karena ponsel korban sudah tidak aktif.
“Waktu ibu tidak bisa dihubungi, saya minta abang ikut cari dan lapor, karena HP ibu sudah mati,” ucap Nindi.
Tekanan batin Nindi semakin berat ketika penyelidikan polisi mengarah pada kakaknya sendiri. Dalam kondisi terpukul, ia memilih menahan emosi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat.
“Seberat apa pun, saya serahkan semuanya ke polisi. Saya ingin kasus ini dibuka seterang-terangnya,” tegasnya.
Kini, Nindi menyimpan penyesalan lantaran aktivitas kerja membuatnya jarang berada di dekat almarhumah. Dalam pikirannya, ia kerap membayangkan kemungkinan lain seandainya masih tinggal serumah.
“Kalau saja saya masih di rumah, mungkin ibu tidak harus mengalami kejadian seperti ini,” ucapnya.
Doa yang pernah dikirim sang ibu sebagai bentuk kasih kini justru menjadi kenangan yang menghantam perasaan Nindi, menyisakan luka panjang bagi keluarga yang ditinggalkan tragedi di Sekotong.
(Redaksi/PorosLombok)
















