PorosLombok.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur mengubah wajah pelayanan publik lewat pendekatan langsung di tengah masyarakat. Selama Festival Muharram 1447 H, pelayanan birokrasi tak lagi terbatas di balik meja, tetapi hadir di arena keramaian.
Selama sepekan penuh, Pemkab membuka stan Mall Pelayanan Publik (MPP) yang menyuguhkan berbagai layanan langsung untuk warga. Mulai dari aktivasi BPJS, pelaporan kelahiran dan kematian, hingga konsultasi kepegawaian.
“Intinya, kantor kita pindahkan ke tengah-tengah masyarakat. Supaya lebih terbuka, lebih dekat, dan bisa langsung dirasakan manfaatnya,” kata Sekretaris Daerah Lombok Timur, Drs. H. M. Juaini Taofik, M.AP, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (27/6).
Pemkab melihat Festival Muharram bukan hanya ajang hiburan tahunan. Momen ini dianggap strategis untuk mensosialisasikan sistem digital pemerintahan serta mempercepat pelayanan yang menyentuh langsung kebutuhan warga.
Salah satu fokus utama adalah menyelesaikan persoalan 95 ribu warga Lombok Timur yang terancam dinonaktifkan dari kepesertaan BPJS.
“Sesuai arahan Pak Bupati waktu rakor pertama, pemadanan data harus jadi prioritas. Dan alhamdulillah, Dukcapil sudah mulai bekerja sejak 26 Juni lalu,” terang Sekda.
Menurut Juaini, masalah ini tak bisa selesai hanya oleh satu OPD. Keterlibatan pemerintah desa sangat krusial, terutama dalam hal penerbitan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) yang jadi dasar validasi kepesertaan BPJS.
“Sinergi lintas sektor sangat penting. Karena seperti yang selalu ditekankan Pak Bupati, pelaksana pembangunan yang sesungguhnya adalah para kepala desa,” imbuhnya.
Selain untuk masyarakat umum, stan pelayanan juga menyediakan slot konsultasi untuk ASN. Layanan ini mencakup penghitungan angka kredit, penyusunan laporan kinerja, hingga informasi mutasi dan promosi.
“Jadi jangan sekadar datang menonton. Kami sediakan kesempatan konsultasi agar ASN bisa memanfaatkan momen ini secara produktif,” ujarnya.
Untuk mendukung kelancaran pelayanan, jam kerja ASN pun diatur ulang. Jika biasanya aktif pagi hingga siang, kini dialihkan ke sore dan malam. Tujuannya agar pelayanan tetap berjalan di sela-sela kegiatan festival.
Langkah ini disebut sebagai bagian dari implementasi e-birokrasi yang inklusif, di mana pelayanan publik tidak hanya efisien tapi juga humanis.
“Kami ingin membuktikan bahwa birokrasi tidak harus jauh dan kaku. Justru harus adaptif dan dekat dengan masyarakat,” tegas Juaini.
Festival Muharram tahun ini juga dikemas lebih semarak. Selain stan pelayanan, masyarakat akan dihibur dengan berbagai pertunjukan, termasuk kehadiran grup musik papan atas Wali Band di malam puncak acara.
“Pak Bupati sudah mengingatkan, suasana Muharram harus penuh semangat, optimisme, dan kebahagiaan. Jangan tegang, tapi riang dan penuh harapan,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)



















