close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

28.8 C
Jakarta
Jumat, Desember 12, 2025

Artinah, Mantan ASN yang Bangkitkan Ekonomi Lewat Dapur Rumahan

Artinah Bangun Ekonomi dari Dapur Rumahan Pensiunan ASN Libatkan Anak Muda Lombok Timur”

––––––––––––––––

(PorosLombok.com) — Usia pensiun tak lantas membuat Artinah berhenti berkarya. Perempuan asal Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB) itu justru memulai lembaran baru dalam hidupnya dengan merintis usaha kuliner dari dapur rumah.

Baru dua bulan meninggalkan statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), Artinah langsung menghidupkan kembali semangat berdaya. Ia membangun usaha rumahan bernama Dapur Sendy, tempat ia memproduksi aneka kue dan camilan khas.

“Setelah pensiun, saya tidak ingin hanya diam di rumah. Saya ingin tetap aktif dan bermanfaat,” ujar Artinah kepada PorosLombok.com, Kamis (24/7/2025), sambil mengawasi loyang bolen yang baru keluar dari oven.

Di dapur sederhana di belakang rumahnya, aktivitas berlangsung nyaris tanpa henti. Sejumlah anak muda tampak sibuk menguleni adonan, mencetak kue, hingga mengemas produk ke dalam kotak-kotak siap kirim.

Suasana ramai dan wangi adonan panggang menciptakan energi positif yang menular.

Sejumlah anak muda terlihat sibuk mencetak dan mengemas kue di Dapur Sendi, usaha rumahan milik Artinah di Masbagik Selatan, Lombok Timur.

Anak-anak muda yang terlibat bukanlah pekerja biasa. Mereka datang dari desa-desa sekitar Masbagik. Ada yang baru tamat SMA, ada pula yang sedang menunggu peluang kerja. Di tangan Artinah, mereka tak hanya diberi pekerjaan, tapi juga keterampilan.

“Saya ajarkan dari dasar. Pelan-pelan, sampai mereka bisa,” katanya. “Yang penting mereka mau belajar.”

Bagi Artinah, dapurnya bukan semata tempat produksi, tapi juga ruang pembelajaran. Ia ingin anak-anak muda itu memiliki bekal, baik keterampilan maupun etika kerja, untuk masa depan mereka.

Pengalaman puluhan tahun sebagai ASN menjadi bekal kuat baginya. Ia terbiasa bekerja terstruktur, mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan, hingga menyusun laporan harian—kebiasaan yang kini diterapkan dalam usaha kecilnya.

Suasana aktivitas harian di Dapur Sendi, UMKM milik Artinah yang memberdayakan anak muda Lombok Timur.

“Meskipun skala rumah tangga, saya tetap pakai sistem. Semua dicatat supaya jelas,” ujarnya.

Setiap pagi, proses produksi dimulai sejak pukul 07.00 WITA. Artinah dan timnya menyiapkan bahan-bahan kue, lalu mulai mencetak, memanggang, dan mengemas. Puncak kesibukan biasanya terjadi menjelang akhir pekan, musim hajatan, atau hari besar keagamaan.

“Kalau pesanan sedang banyak, kami lembur sampai malam,” katanya.

Produk andalan Dapur Sendy saat ini adalah bolen dan bakpia. Dua jenis kue tersebut menjadi favorit pelanggan, bahkan nyaris tak pernah absen dalam setiap pesanan.

“Bolen pisang keju paling sering dipesan. Hampir setiap hari ada yang pesan,” ungkapnya.

Selain bolen dan bakpia, Artinah mulai memperluas variasi produknya. Ia kini memproduksi juga aneka kue basah dan snack box, menyesuaikan dengan permintaan pasar yang terus meningkat.

“Kami sesuaikan menu dengan kebutuhan acara. Misalnya untuk rapat kantor, pertemuan RT, atau acara keluarga,” jelasnya.

Seiring berkembangnya usaha, Artinah juga mulai menjangkau pasar digital. Ia belajar cara memasarkan produk lewat media sosial, meskipun mengaku masih banyak hal yang ingin ia pelajari.

“Sekarang saya mulai belajar Instagram dan WhatsApp Business. Karena penjualan online itu penting,” katanya.

Keaktifannya di dunia sosial tak surut. Artinah tetap aktif sebagai pengurus Pokja 3 PKK Kabupaten Lombok Timur, yang fokus pada isu pangan dan lingkungan. Keterlibatan itu memberi ruang baginya untuk terus belajar sekaligus berbagi.

“Dari PKK juga saya dapat banyak ilmu. Termasuk pelatihan-pelatihan UMKM,” ujarnya.

Menurut Artinah, modal utama dalam mengelola usaha bukan hanya uang, melainkan kemauan untuk belajar dan membangun relasi. Ia percaya kolaborasi dengan komunitas sekitar bisa memperkuat fondasi usahanya.

Tak hanya memberi penghasilan tambahan, keberadaan Dapur Sendy juga membawa dampak sosial. Anak-anak muda yang bekerja di sana merasa terbantu, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara mental.

“Bu Artinah itu bukan cuma bos. Tapi seperti ibu sendiri. Sabar ngajarin, tapi juga disiplin,” ujar Yani (19), salah satu pekerja yang sudah hampir setahun membantu di dapur.

Yani mengaku awalnya tidak tahu apa-apa soal membuat kue. Namun berkat bimbingan Artinah, kini ia mampu bekerja secara mandiri, bahkan sesekali dipercaya memimpin produksi saat Artinah harus keluar rumah.

Bagi Artinah, keberhasilan bukan hanya soal jumlah pesanan atau omzet. Ia merasa lebih puas saat melihat anak-anak muda di sekitarnya bisa berkembang dan memiliki semangat baru.

“Yang penting mereka punya kegiatan yang positif. Daripada menganggur, lebih baik berkarya,” katanya.

Meski pensiun, Artinah tidak pernah berhenti bergerak. Dari dapur kecil di sudut desa, ia membuktikan bahwa kontribusi bisa lahir dari mana saja. Dan semangat untuk berbagi, bisa tumbuh dari aroma adonan yang mengembang pelan di dalam oven.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER