(PorosLombok com) –;Di bawah langit Mataram yang terik, sebuah struktur masif berdiri tegak dengan bahasa arsitektur yang terasa sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya.
Ia menanggalkan mahkota lumbung yang melengkung, tidak pula mengadopsi kubah-kubah besar yang lazim menghiasi gedung publik di seantero wilayah Nusa Tenggara Barat.
Gedung itu adalah Bale Mentaram, kantor baru Wali Kota Mataram yang kini menjadi pusat perhatian karena wujudnya yang tampil sangat kotak dan minimalis.
Dari kejauhan, garis-garis tegasnya tampak seperti pernyataan berani tentang masa depan kota yang ingin berlari kencang meninggalkan kesan arsitektur lama yang klasik.
Namun, di balik dinding beton yang kaku itu, sebuah perdebatan tentang identitas dan memori kolektif warga kota justru baru saja dimulai dan memantik diskusi.
Kepala Dinas PUPR Kota Mataram, Lale Widiyahning, menegaskan bahwa gedung ini bukan sekadar urusan semen, bata, dan struktur estetika bangunan fisik semata.
Pemilihan nama “Bale”—yang berarti rumah dalam bahasa Sasak—adalah upaya sadar untuk tetap menjaga denyut kearifan lokal di tengah arus modernitas yang deras.
Ia ingin gedung ini terasa seperti rumah hangat bagi siapa saja, bukan sekadar kantor birokrasi yang terkesan dingin dan sulit untuk dijangkau masyarakat luas.
”Kenapa namanya Bale? Kan muatan lokalnya ada di situ. Masa Gedung Mentaram? Rasanya tidak nyambung dengan jati diri kita,” ungkap Lale, Jumat (9/1/2026).
Pilihan arsitektur yang cenderung “polos” ini sebenarnya merupakan bentuk eksperimen sosiologis untuk merespons demografi ibu kota provinsi yang kian tumbuh sangat beragam.
Sebagai titik temu berbagai suku dan budaya, Mataram memerlukan ruang inklusif yang mampu merangkul semua perbedaan tanpa harus menonjolkan satu simbol etnis saja.
Dengan menanggalkan simbol fisik yang terlalu spesifik, pemerintah ingin menghadirkan bangunan yang merangkul keberagaman tanpa ada dominasi ego dari kelompok tertentu.
Di Antara Ego Kelompok dan Estetika Ibu Kota
Namun, visi inklusivitas tersebut rupanya tidak lantas diterima dengan lapang dada oleh semua pihak yang mengamati perkembangan fisik bangunan yang sedang berjalan.
Saat Komisi III DPRD Kota Mataram melakukan inspeksi mendadak, kesan modernitas yang ditawarkan Bale Mentaram justru mendapatkan catatan kritis dan juga rapor merah.
”Tidak ada yang spesial,” ujar Herman Fanani, anggota Komisi III, dengan nada bicara yang datar namun terasa sangat menohok saat meninjau kondisi lapangan.
Di mata legislatif, desain gedung ini dirasa terlalu hambar dan kehilangan karakter visual yang kuat untuk menjadi ikon sebuah ibu kota provinsi yang membanggakan.
Kritik pun terus mengalir deras, mulai dari minimnya sentuhan kultural hingga perubahan desain yang dianggap kerap berganti arah tanpa adanya acuan yang jelas.
(arul/PorosLombok)













