close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

29.1 C
Jakarta
Sabtu, Desember 6, 2025

Fornas NTB 2025 Bawa Berkah, Ini Cerita Noval Si Penjual Es Kopi

(porosLombok.com) – Sinar matahari belum sepenuhnya naik ketika Noval mulai menyiapkan gerobaknya. Dua termos besar berisi es kopi, beberapa dus plastik gelas, dan kantong-kantong kecil gula ia susun rapi di sudut halaman Gelanggang Pemuda Mataram.

Sejak Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) NTB 2025 dibuka, ia memilih mangkal lebih pagi dari biasanya. “Biar dapat tempat strategis. Kalau kesiangan, sudut-sudut ramai sudah penuh,” ucapnya pelan. Kepada wartawan Kamis (31/07)

Noval bukan bagian dari panitia, bukan pula atlet yang akan naik podium. Ia hanyalah penjual es kopi yang mencoba mengambil sedikit ruang di tengah keramaian pesta olahraga rakyat itu.

Namun, kehadirannya bukan tanpa makna. Dalam gelaran besar seperti ini, kehidupan Noval justru ikut bergerak.

“Alhamdulillah, sejak hari pertama Fornas, omzet saya ada peningkatan. Biasanya sehari dapat Rp100 sampai Rp200 ribu, sekarang tembus Rp500 sampai Rp600 ribu,” tuturnya.

Ia menyampaikan itu tanpa nada tinggi, hanya dengan senyum kecil. Barangkali baginya, angka-angka itu bukan sekadar penghasilan, tapi bentuk kelegaan bahwa hari-harinya yang tak menentu bisa berubah, walau sementara.

Sudah lima tahun Noval berjualan es kopi keliling. Kota Mataram ia hafal sudut-sudutnya. Dari taman kota, halaman sekolah, hingga area perkantoran, ia biasa mendorong gerobak dengan pelan, menyapa siapa saja yang haus.

Tetapi belakangan, sepi sering datang lebih dulu. Kadang, sehari penuh tak sampai balik modal. Ia bilang, kalau sudah begitu, mau tak mau harus hemat untuk belanja besoknya.

Itu sebabnya Fornas kali ini ia sambut dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar sebagai tontonan, melainkan sebagai peluang.

“Saya siapkan stok lebih banyak. Kalau biasanya dua termos, sekarang bawa empat. Habis terus tiap sore,” katanya.

Pengunjung GOR Mataram datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Kalimantan, Sumatera, hingga Papua. Kebanyakan dari mereka baru pertama kali menginjak NTB.

“Mereka bilang kopi saya enak, apalagi karena dingin dan murah,” kata Noval, bangga.

Di tengah antrean, beberapa pelanggan sempat mengobrol dengannya. Ada yang penasaran dengan resep, ada pula yang sekadar bertanya soal cuaca Mataram. Semua ia layani dengan tenang.

Tak hanya kopi, Noval juga membawa beberapa minuman tambahan seperti es jeruk dan teh manis. Tapi, kopi selalu jadi yang paling cepat habis. “Mungkin karena capek nonton pertandingan, hausnya beda,” ujarnya tertawa kecil.

Meski pendapatan meningkat, Noval tak lantas tinggi hati. Ia paham benar bahwa semua ini bisa berakhir begitu saja. “Kalau Fornas selesai, ya balik lagi seperti biasa. Tapi setidaknya sekarang bisa nabung,” ucapnya.

Ia juga tahu, tak semua pedagang mendapat kesempatan seperti ini. Beberapa rekannya bahkan tak sempat masuk ke area karena penuh atau tak dapat izin. “Saya bersyukur masih bisa jualan,” katanya.

Bagi Noval, Fornas bukan sekadar perhelatan olahraga. Di balik sorakan penonton dan deru sepatu di lapangan, ada denyut kecil ekonomi yang ikut bergerak, hidup, dan tersenyum.

“Fornas ini bukan hanya olahraga, tapi juga angkat ekonomi keluarga saya,” katanya singkat, sambil merapikan gelas-gelas kosong di keranjang samping gerobaknya.

Saat sore menjelang, Noval bersiap pulang. Hari ini, termosnya kembali kosong. Tapi lebih dari itu, hari ini ia pulang dengan hati yang penuh.

(arul/PorosLombok)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER