Mataram, PorosLombok.com – Bedy Fara Aga Matrani tak hanya dikenal sebagai dosen Teknik Pertambangan di Universitas Muhammadiyah Mataram. Namanya juga mulai akrab di bibir para mahasiswa dan dosen yang bersantai di sudut-sudut kampus, menyeruput kopi dari sebuah gerobak sederhana.
Sejak November 2024, Bedy memulai usaha kopi keliling yang ia beri nama Rindu Coffe—sebuah nama yang merangkum rindu akan cita rasa, sekaligus harapan akan perubahan.
Kecintaannya pada kopi bukan hal baru. Di sela aktivitas mengajar, ia kerap meracik kopi untuk dirinya sendiri dan teman-teman sejawat. “Saya harus ngopi dengan selera saya,” ujar Bedy, Jumat, (18/04). “Beberapa teman dosen sering nongkrong di rumah, mencicipi kopi buatan saya. Mereka tertarik dan menyarankan agar saya mulai membuka usaha.”
Dorongan itu ia tanggapi serius. Bedy mulai bereksperimen dengan racikan sendiri, lalu membawanya ke kampus. Ia meminta beberapa dosen mencicipi. Tanggapan mereka hangat. “Beberapa bilang, bikin aja tempat nongkrong,” katanya.
Namun langkah awalnya tak mudah. Keterbatasan modal memaksanya memutar otak. Ia kemudian memilih konsep hawker—pedagang keliling—untuk menghemat biaya sewa dan tempat. Ia juga memilih sepeda listrik sebagai alat angkut gerobak, meski harus merogoh kocek lebih dalam.
Gerobak pertama hanya satu. Tapi semangatnya tak tunggal. Bedy mengajak mahasiswa untuk ikut mengelola. Bukan sekadar membantu, tapi diberi peran sebagai mitra. “Saya ingin menjual kopi dengan cita rasa terbaik, dan saya ingin mahasiswa bisa mendapat penghasilan sendiri,” tuturnya.
Baginya, mahasiswa bukan hanya target pasar, melainkan prioritas utama. Banyak dari mereka bergulat dengan masalah biaya kuliah, uang makan, dan kebutuhan harian. Rindu Coffe hadir sebagai alternatif: tempat belajar berwirausaha sekaligus sumber penghasilan tambahan.
Kini, hampir tujuh bulan berselang, Rindu Coffe telah berkembang menjadi empat gerobak dengan enam karyawan, mayoritas mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram. Ia menargetkan jumlah itu tumbuh menjadi sepuluh unit hingga akhir tahun ini.
“Yang membedakan kami dengan pedagang keliling lain mungkin dari sisi rasa,” ujar Bedy. “Saya tidak hanya ingin jualan kopi, tapi juga memuaskan pelanggan.”
Bukan klaim kosong. Setiap cangkir diracik langsung di tempat, sesuai selera konsumen. Bukan kopi instan. Bukan kemasan pabrik. Melainkan seduhan tangan mahasiswa yang sedang belajar menyatukan ilmu, cita rasa, dan etos kerja.
Di luar aspek bisnis, Bedy menekankan pentingnya kebermanfaatan. Ia menyebut keuntungan bersih per bulan dari empat gerobak mencapai Rp4 juta—belum termasuk gaji dan biaya operasional. Tapi bagi Bedy, angka itu hanya bonus. Kepuasan yang utama adalah melihat para mahasiswa mampu bertahan, berkembang, bahkan mulai bermimpi besar lewat secangkir kopi.
“Kalau bicara untung materi, itu belakangan. Yang terpenting, saya bisa berbagi rasa. Bukan cuma kopi, tapi rasa perjuangan,” ucapnya.
Salah satu pelanggan tetap, Noviar, menilai konsep Rindu Coffe bukan semata usaha. “Idenya luar biasa. Usaha ini bukan hanya bermanfaat bagi pemilik, tapi juga bagi mahasiswa dan konsumennya,” katanya.
Dengan konsep racikan langsung, konsumen bisa meminta rasa sesuai selera. “Ini yang unik,” lanjut Noviar. “Kalau pedagang keliling lain rata-rata pakai kopi instan, ini racikannya fresh. Bisa dinikmati kapan pun, di mana pun.”
Gerobak kopi itu terus wara-wiri di halaman kampus, menyusuri lorong-lorong fakultas. Bukan sekadar membawa aroma seduhan robusta, tetapi juga semangat bertahan dan harapan kecil yang terus diracik—seteguk demi seteguk.
(*/porosLombok)



















