PorosLombok.com – Angin malam menggigit kulit. Kabut datang silih berganti menutup pandangan. Di dinding tebing curam Gunung Rinjani, empat orang menggantung pada tali, bertahan di atas lereng nyaris vertikal.
Di sisi mereka, terbujur diam jasad seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), yang tewas setelah tergelincir dan jatuh sedalam 600 meter. Jenazah itu tak mereka tinggalkan, meski malam telah tiba, dan bahaya longsor terus mengintai dari atas.
“Kami tidur di sana, di sisi almarhumah,” kata Khafid Ashadi, anggota Basarnas, dengan suara berat. “Itu bukan hanya soal tugas, tapi bentuk penghormatan terakhir.”

Evakuasi Juliana adalah misi yang menguji batas. Tidak hanya medan yang menantang, tetapi juga kepekaan hati manusia. Bagi para penyelamat, ini bukan sekadar menurunkan jenazah—ini adalah soal kemanusiaan di titik paling sunyi.
Medan yang dihadapi adalah dinding batu hampir tegak lurus. Jurang itu sunyi, hanya suara batu-batu kecil yang kadang lepas dan meluncur ke bawah. Di titik 200 meter, tali harus disambung lagi untuk menjangkau kedalaman lebih dalam.
Di titik 400 meter, anchor ditanam dengan mengebor dinding batu, lalu ditambatkan ke pohon edelweiss yang tumbuh mencengkeram tebing.
“Kami pakai teknik lowering. Semua tali saling terkoneksi, bahkan saat tidur kami masih tetap terikat,” tutur Khafid.
Waktu menunjukkan pukul 15.00 saat mereka mencapai titik jenazah. Tapi kondisi mulai gelap, dan batuan dari atas mulai rontok. Evakuasi ke atas jadi mustahil.
“Kalau kami paksa angkat malam itu, bisa berbahaya. Kami harus bertahan sampai pagi,” ujar Khafid.
Tim memutuskan bermalam. Di atas sepotong tanah miring, mereka membangun tenda darurat dan menyiapkan tidur seadanya.
Empat penyelamat itu—Khafid, Tio, Samsul, dan Agam—tidur berempat dalam posisi siaga, masih terikat ke sistem tali. Di samping mereka, jenazah Juliana diselubungi kantung jenazah, diam dalam hening.
“Kami tidak ingin ia sendiri. Di gunung, setiap nyawa layak dihormati,” ucap Khafid.
Malam itu panjang. Angin menari tanpa jeda. Tidak ada api unggun, tidak ada makanan hangat. Hanya komunikasi radio dengan pos di atas dan harapan agar tanah tak runtuh di tengah malam.
Pagi datang pelan. Matahari menembus kabut tipis. Setelah memastikan kondisi aman, mereka mulai menaikkan jenazah secara perlahan, tahap demi tahap.
“Setiap meter tali kami tarik dengan hati-hati. Setiap simpul adalah doa agar semua selamat,” ujar Samsul, anggota SAR Lombok Timur.
Ini bukan misi penyelamatan pertama bagi Khafid dan rekan-rekannya. Namun, inilah yang terdalam, yang paling menantang—dan mungkin yang paling membekas.
“Di Semeru, biasanya 200 atau 300 meter. Ini 600 meter. Setengah kilometer vertikal,” ujar Khafid, tak menyembunyikan rasa letihnya.
Namun lebih dari sekadar angka, yang membuat misi ini berat adalah kesadaran bahwa mereka membawa pulang seseorang yang tak pernah mereka kenal. Seseorang yang datang dari jauh untuk mencintai gunung, lalu pulang dalam keheningan.
“Tugas adalah kehormatan. Tapi kemanusiaan adalah panggilan hati,” ucapnya pelan.
Evakuasi Juliana Marins di Rinjani menandai lebih dari sekadar pencapaian teknis tim SAR. Ini adalah kisah sunyi tentang keberanian, tentang rasa hormat terhadap kehidupan—dan kematian.
Di balik setiap pendaki yang turun, baik hidup atau tidak, ada mereka yang naik diam-diam. Tanpa selebrasi. Tanpa tepuk tangan. Tapi dengan dedikasi yang tak ternilai.
(arul/PorosLombok)



















