close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

27.3 C
Jakarta
Minggu, Januari 25, 2026

Mimpi Sonia Tak Tenggelam di Laut Lemerang

Lombok Timur, PorosLombok.com – Sonia menyimpan mimpi besar di balik sunyinya Pulau Lemerang. Di usia yang baru menginjak 19 tahun, gadis itu telah dua kali menelan pahitnya kegagalan.

Tapi, tekadnya belum surut. Ia ingin menjadi Polisi Wanita—meski jalan menuju sana harus ditempuh dari pulau terpencil yang bahkan tak tercantum jelas di peta wisata.

“Kalau gagal lagi, saya akan coba lagi. Saya tidak akan menyerah,” katanya lirih, Rabu, (16/04).  Kalimat itu meluncur pelan, namun cukup keras untuk menantang nasib.

Sonia lahir dari keluarga nelayan. Ayah dan ibunya menggantungkan hidup dari laut. Di sela melaut, mereka kerap menyusuri pantai untuk memungut rongsokan yang terseret ombak. Barang-barang itu dijual di daratan demi menambah uang belanja.

Di tengah kehidupan yang nyaris tak bersisa untuk bermimpi, Sonia justru menumbuhkan cita-cita. Gagal dalam seleksi Polwan karena nilai rapor yang rendah dan hasil psikotes yang belum memadai, tidak membuatnya gentar. Ia justru mendaftar bimbingan belajar dan mulai mengejar ketertinggalan.

Setiap pagi, ia mengulang pelajaran. Siang hari membantu ibunya di rumah. Malam hari, ketika listrik menyala sebentar, ia kembali membaca. “Saya ingin membanggakan orang tua dan membangun rumah yang lebih baik untuk mereka,” ujarnya.

Namanya sempat mengemuka di media lokal. Wawancara singkat dan kisah ringkasnya menyebar cepat di media sosial. Di kolom komentar, warganet berlomba memberi semangat. Beberapa menawarkan bantuan. Tak sedikit pula yang mengaku terinspirasi oleh keteguhan hatinya.

Perhatian juga datang dari aparat. Kepala Seksi Humas Polres Lombok Timur, Iptu Nicolas Usman, mengaku terkesan. “Semangat seperti Sonia yang harus dijaga. Ia tahu apa yang dia mau dan siap berjuang untuk itu,” ujarnya. Ia juga menegaskan, peluang selalu terbuka bagi mereka yang tak lelah mencoba.

Namun perjuangan Sonia bukan hanya soal semangat. Medan yang harus ia lalui pun tak ringan. Untuk menyeberang ke daratan demi mengikuti bimbel, ia harus menumpang perahu selama 30 menit dari pantai Seriwe. Jika angin kencang dan ombak tinggi, ia terpaksa absen.

Sinyal seluler kerap hilang di tempat tinggalnya. Listrik menyala hanya beberapa jam. Fasilitas pendidikan dan kesehatan pun terbatas. Tapi Sonia tak hendak menyalahkan keadaan. Ia memilih bertahan dan melawan—meski dalam diam.

Bagi Sonia, menjadi Polwan bukan hanya impian pribadi. Itu adalah simbol perlawanan terhadap keterbatasan. Sebuah jalan untuk keluar dari sunyi, bukan untuk lari, melainkan agar kelak bisa kembali dan mengubah.

Pulau Lemerang, tempat Sonia dilahirkan dan dibesarkan, bukan pulau yang ramai pelancong. Ia terletak di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur. Butuh keberanian dan kemauan kuat untuk mencapainya.

Tak ada pelabuhan. Tak ada dermaga. Perahu kayu nelayan menjadi satu-satunya moda. Pulau itu hanya dihuni beberapa kepala keluarga. Namun justru dalam sepinya, Lemerang menyimpan kisah perjuangan yang nyaring.

Pantainya putih, lautnya jernih, bukit-bukit mengelilinginya bagai pelindung setia. Ia mungkin tak ramai, tapi tak kehilangan pesona. Sama seperti Sonia, yang diam-diam membungkus tekad dalam wajah tenang dan kata-kata sederhana.

Di tempat seperti inilah, mimpi besar kadang lahir. Dari pulau yang nyaris tak terdengar namanya, dari gadis yang berjalan sendirian melawan keraguan. Sonia Putri mungkin belum lolos menjadi Polwan, tapi langkahnya jelas—dan itu lebih dari cukup.

Karena di tengah debur ombak yang tak pernah berhenti, ia tahu, satu hal yang tak boleh ia biarkan tenggelam: harapannya sendiri.

(*/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER