POROS POLITIK

Secarik Hikayat “Tanwirul Anhar” Sang Raja Sawer

Oleh pada · 3 Jul 2022 15:26 WITA


					SAWERAN: Tanwirul Anhar sedang nyawer di acara event peresean. Perbesar

SAWERAN: Tanwirul Anhar sedang nyawer di acara event peresean.

Poroslombok.com | LOTIM –

Tanwirul Anhar, adalah sosok pria yang syarat pengalaman dalam kancah perpolitikan Lombok Timur. Ia berhasil mengantarkan pasangan Sukiman-Rumaksi (SUKMA) pada perhelatan Pilkada 2018 silam. Kala itu, ia sebagai bendahara tim pemenangan kabupaten.

Setelah sukses mengantarkan SUKMA menjadi pemenang, pada tahun berikutnya ia juga sukses melenggang bersama istri tercintanya menjadi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim.

Keberhasilannya menjadi anggota Dewan Kabupaten pada Pemilihan Legislatif (Pileg) tahun 2019-2024 adalah untuk yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya juga pernah terpilih pada periode Periode 2009-2014 dan 2014-2019.

Selain memiliki karir mentereng di kancah politik, ia juga diketahui sukses di berbagai bidang usaha. Tak heran jika perekonomiannya juga semakin mapan.

Bagi Tanwir, kelebihan rizki yang ia peroleh merupakan amanah dari tuhan. Maka, berbagi rizki kepada sesama adalah bagian dari menjalankan amanah. Terutama kepada anak yatim, fakir miskin dan kaum duafa.

Tak hanya itu saja, kedermawanannya juga sering terlihat pada moment pertunjukan budaya sasak. Seperti pada event peresean, yang kehadirannya kerap memberikan warna tersendiri seakan menyihir semangat semua yang hadir.

Ya, kehadirannya pada setiap gelaran peresean menjadi suntikan semangat bagi para pepadu, pekembar, hingga para penonton di arena adu ketangkasan itu. Pasalnya, ia tak segan-segan melempar sebundel uang kertas di tengah arena. Lantaran itu, Tanwir dijuluki sebagai Raja Sawer.

Lalu, sejak kapan seorang Tanwir mulai memiliki kecintaan terhadap budaya peresean, dan sejak kapan ia mulai melakoni kebiasaan nyawer?, berikut poroslombok.com memberikan ulasannya.

Tanwirul Anhar yang dikunjungi di rumah kediamannya yang berada di pinggiran kota selong, atau lebih tepatnya di Sawing, Kelurahan Majidi, Kecamatan Selong pada Sabtu (2|6) sore menuturkan perjalanannya sampai kemudian ia benar-benar mencintai budaya peresean.

“Saya menyukai peresean ini sejak saya masih kecil. Awalnya, saat saya menonton langsung, saya melihat dua orang petarung yang menunjukkan semangat pantang menyerah. Dan saya tertarik dengan itu,” ujar Tanwir.

Tidak hanya semangat para petarung yang menarik perhatian Tanwir, pun dengan sporivitas dan nilai-nilai estetika/seni dalam memainkannya tak kalah menarik perhatiannya. Hal itu layak untuk ditiru dan diimplenentasikan di luar arena.

Karnanya, kata dia, tradisi peresean yang menjadi kebanggaan warga NTB khususnya suku sasak ini perlu dilestarikan. Masyarakatlah yang menjadi lini terdepan melestarikan budaya tersebut, bersama para pemerhati, budayawan maupun pemerintah.

Menurut dia lagi, upaya melestarikan budaya peresean perlu terus dilakukan, agar bisa terus hidup dan berkembang di tengah masyarakat sebagai warisan dan kekayaan budaya bangsa.

“Sebab, ketika masyarakat sudah tidak mau peduli lagi untuk menjaga kelestarian budaya, maka budaya itu akan tercabut dari akar rumput atau hilang dan tinggal sejarah saja,” imbuhnya.

Peresean selain menjadi olah raga masyarakat, juga menjadi hiburan serta tentu juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Lombok, baik lokal maupun mancanegara.

Tanwir berharap, kedepan perlu adanya sebuah wadah khusus di kabupaten Lombok Timur agar mampu terus berkembang dan berkiprah sekaligus ikut andil dalam membangun pariwisata di daerah ini.

“Kedepan, jika saya dipercaya menjadi pemimpin di Lombok Timur, saya pastikan pemerintah daerah akan mendukung penuh kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian budaya sebagai jati diri orang sasak,” tandasnya.

Teripsah, salah satu pepadu peresean asal Desa Ketangga, Kecamatan Keruak yang biasa dijuluki “Gerandong” mengaku sulit untuk menggambarkan seorang Tanwir. Di mata Gerandong, Tanwir hampir sempurna.

“Pokoknya beliau itu nomor satu di mata saya,” ungkap pria pemilik nama asli Jamaludin itu saat dihubungi poroslombok, Minggu (3|7).

Gerandong mengungkapkan, Tanwir adalah sosok sederhana yang tidak memilih bergaul dengan siapa saja, bahkan nyaris tidak ada sekat atau jarak dengan masyarakat kalangan bawah sekalipun.

Tak hanya itu, tutur gerandong, kepeduliannya (Tanwir-red) kepada budaya peresean menjadi berkah tersendiri bagi para pepadu. Pasalnya, uang saweran yang keluar dari saku Tanwir menjadi tambahan pendapatan bagi mereka.

Bagi Gerandong, menjadi pepadu peresean tidak hanya sekedar hoby, tapi juga menjadi pilihan pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Lantaran itu, kedatangan Tanwir di arena peresean adalah rizki bagi mereka.

“Kalo pak Tanwir tidak hadir, lemah sudah kita, karna penghasilan kita pasti sedikit. Karna kalo hanya sekedar peresean saja sebenarnya sakit juga kita,” akunya memungkasi.

(Anas/PL)

Artikel ini telah dibaca 213 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Bunk Sham : TGB Spirit Baru Partai Perindo

12 Agustus 2022 - 18:12 WITA

Tiga Kader NW Keberatan Dicatut Golkar Nama di Sipol KPU

10 Agustus 2022 - 15:52 WITA

Bupati Sukiman: Paket SUSU Bukan Penjajakan lagi.

3 Agustus 2022 - 14:10 WITA

Pada Pemilu 2024, PKB Targetkan 100 Kursi DPR RI

1 Agustus 2022 - 06:47 WITA

Warga Pesisir Sambalie Ramai- Ramai Deklarasi Dukung Cak Imin Jadi Presiden 2024.

30 Juli 2022 - 16:47 WITA

Tiga Zuriat Nyeberang ke Partai Sebelah, Banom dan Jamaah NW Tetap Satu Arah

26 Juli 2022 - 18:39 WITA

Trending di POROS POLITIK