LOTIM – PorosLombok.com | Memulai kegiatan awal tahun 2024, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lombok Timur khususnya Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner dengan melakukan koordinasi dan komunikasi bersama mitra strategis program kerja kedepan, yakni Pemerintah Desa.
Menurut Kepala Bidang Keswan dan Masyarakat Veteriner drh. Hultatang, koordinasi dan komunikasi dengan Pemdes menjadi penting dilakukan untuk perkembangan peternakan dan kesehatan hewan. Selain dengan Pemdes, koordinasi internal yaitu kepala UPT juga harus lebih didorong untuk lebih dioptimalkan turun ke tingkat desa.
“Jadi konsep kita kan sebenarnya, kita akan menempatkan seluruh personil kita di setiap desa. Minimal satu, atau maksimal dua kita tempatkan per desa,” kata Hultatang kepada poroslombok, Jum’at (12/1/2024).
Penempatan personil dimaksud, jelas dia, untuk berkoordinasi dengan pihak desa agar layanan menjadi lebih cepat dan tepat, dalam rangka mendata potensi yang ada di suatu desa terkait dengan peternakan seperti populasi ternak sebagai dasar untuk menentukan layanan ternak.
Lebih dalam lagi, tujuan penempatan personil di tingkat desa, juga untuk melakukan pendataan sekaligus berkoordinasi dengan para pelaku UMKM, seperti pengusaha ternak ayam maupun pengusaha sapi.
“Sebenarnya kita bisa kirim produk kita ke Sumbawa seperti daging, telur, ayam. Dan itu sudah kita lakukan sebetulnya. Nah kenapa tidak kalo kita coba juga pasarkan produk kita ke luar dari NTB,” sebutnya.
Berdasarkan pengamatan dia, pengusaha lokal mengalami kesulitan untuk berkembang, lantaran hanya berkutat di level antar desa dan kecamatan. Untuk itu, dirinya akan mendorong pengusaha bidang peternakan di daerah ini untuk keluar dari zona nyaman.
Menciptakan jejaring di luar daerah adalah kunci untuk bisa lebih maju, berkembang, dan menjadi lebih besar. Membangun jaringan adalah tupoksi Dinas Peternakan sebagai leading sektor. Karenanya Hultatang akan menjajaki kemungkinan kerja sama antar sesama lembaga pemerintah di pulau Sumbawa.
“Nah kita juga tidak ingin pengusaha kita mengirim produk yang bukan asli produk Lombok Timur. Jangan-jangan selama ini produk yang mereka kirim ke sumbawa produk dari luar yang hanya transit di sini,” selidiknya.
Untuk itu, potensi UMKM lokal harus digarap dengan baik. Oleh karena itu para kepala UPT di setiap kecamatan harus diberikan pemahaman untuk kemudian diharapkan dapat memetakan potensi di tiap desa dengan cepat dan tepat. Jika tidak, maka pengusaha lokal tidak akan pernah bisa berkembang.
Kaitannya dengan itu, Dinas Peternakan sendiri sudah mulai menempatkan personilnya di tiap desa sejak tahun 2023 lalu, bahkan sudah di SK-kan. Kedepan di masing-masing desa akan dibentuk pos pelayanan ternak terpadu.
Tak hanya itu saja, Dinas Peternakan dalam waktu dekat akan mengumpulkan para pengusaha lokal untuk diberikan penyuluhan terkait kiat-kiat mengembangkan usaha mereka agar goal ke luar daerah.
“Misalnya, kalo dari pulau sumbawa (KSB, Sumbawa, Bima, Dompu) produk yang datang berupa ternak besar, nah kita juga akan bekerjasama supaya produk unggas bisa kita kirim ke pulau sumbawa. Sehingga terjadi feedback fositif. Jadi nanti kita akan buat MoU dengan pulau sumbawa,” demikian Hultatang.
(Anas/PL)












