Hardiknas di Tengah Reruntuhan: Ratusan Sekolah di Lombok Timur Menanti Uluran Anggaran

“Hari Pendidikan Nasional 2025 dirayakan dengan upacara dan seremoni di berbagai daerah. Namun di Lombok Timur, suasananya jauh berbeda. Di balik semangat Merdeka Belajar, ratusan sekolah justru berada di ambang runtuh”
–––––––––––––––––––––––––––

Lombok Timur, PorosLombok.com –Upacara, spanduk, dan jargon “Merdeka Belajar” mewarnai peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025. Tapi di balik gegap gempita seremonial itu, ada kenyataan pahit yang tak bisa ditutupi: ratusan sekolah dasar di Lombok Timur masih dalam kondisi rusak, sebagian bahkan nyaris roboh.

Hardiknas bagi mereka bukan soal pidato atau pesta simbolik. Ia hanya pengingat bahwa pendidikan tak akan benar-benar merdeka jika ribuan anak masih belajar di ruang kelas bocor, dengan tembok retak dan atap yang nyaris ambruk.

Menurut data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Lombok Timur, kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. “Kalau kita data, hampir ratusan sekolah belum bisa tertangani,” kata Khairul Razak, Kepala Bidang SD Dikbud.

Ia menyebutkan bahwa keterbatasan anggaran menjadi penghambat utama. Selama ini, perbaikan sekolah hanya mengandalkan Dana Alokasi Khusus (DAK) dan Dana Alokasi Umum (DAU). Namun jumlahnya jauh dari cukup.

Yang lebih pelik, DAU cenderung diarahkan berdasarkan pokok pikiran (pokir) anggota legislatif. Artinya, bantuan tidak selalu jatuh ke sekolah yang paling membutuhkan, melainkan tergantung ke mana arah kepentingan politik bermuara.

“Tidak bisa kita arahkan sesuai kebutuhan teknis. Tergantung ke mana pokir dewan mengalir,” ujar Khairul.

Tahun ini, kebijakan bantuan sekolah juga berubah. Sistem lama yang menggunakan aplikasi KRISNA digantikan oleh skema revitalisasi. Namun hingga kini, petunjuk teknis dari pusat belum juga diterbitkan, membuat proses pengusulan terhambat total.

“Yang kami dengar, ke depan akan dikelola oleh Dinas PUPR. Tapi sampai sekarang, juknisnya belum turun,” tambah Khairul. Artinya, perbaikan sekolah-sekolah rusak kembali masuk ruang tunggu yang tak jelas kapan pintunya terbuka.

Salah satu potret nyata dari krisis ini terjadi di SDN 4 Jurit Baru. Dua ruang kelas di sekolah ini sudah rusak berat sejak 2018. Plafon yang lapuk nyaris runtuh, membuat ruang tersebut tak lagi bisa digunakan.

“Kami sudah usulkan sejak lama. Tapi belum ada realisasi,” ujar H. Safri, Pelaksana Tugas Kepala SDN 4 Jurit Baru.

Akibatnya, kegiatan belajar siswa harus dipindahkan ke rumah dinas guru. Beberapa kelas harus digabung dalam ruang darurat seadanya. Proses belajar mengajar berlangsung dalam kondisi penuh keterbatasan dan ketidaknyamanan.

“Kalau terus seperti ini, anak-anak akan sulit fokus belajar. Guru pun kesulitan,” kata Safri prihatin.

Cerita serupa terjadi di puluhan sekolah lainnya di seluruh penjuru Lombok Timur. Beberapa sekolah sudah tak memiliki ruang kelas layak. Siswa belajar di tempat seadanya, bahkan ada yang terpaksa berhenti sementara saat hujan turun.

Yang menyedihkan, SDN 4 Jurit Baru tidak termasuk penerima DAK tahun ini. Dari DAU pun belum ada alokasi yang ditujukan ke sana. Harapan satu-satunya adalah masuk dalam anggaran perubahan atau menunggu tahun berikutnya.

Ugi Yuliandi, Sekretaris Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Lombok Timur, yang juga mantan Sekretaris Dikbud, menyatakan bahwa pihaknya akan menyampaikan informasi kondisi sekolah ke bidang teknis untuk ditindaklanjuti.

“Kalau memungkinkan, akan diupayakan masuk anggaran perubahan. Kalau belum tertangani, akan diusulkan ke anggaran 2026,” ujarnya.

Tapi waktu terus berjalan. Anak-anak tetap datang ke sekolah setiap pagi, belajar di ruang yang nyaris runtuh, duduk di bangku reyot, dengan plafon menggantung di atas kepala mereka seperti ancaman diam-diam.

Di balik statistik dan indeks literasi nasional yang terus dikejar, ratusan sekolah rusak ini menjadi lubang besar dalam sistem pendidikan kita. Lubang yang dibiarkan menganga, tahun demi tahun.

Jika pendidikan disebut fondasi masa depan bangsa, maka di Lombok Timur, fondasi itu telah lama retak. Dan negara masih belum terlihat sigap memulihkannya.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU