Banyak Jurusan Latah Jadi Biang Kerok Pengangguran Lulusan SMK Lotim

PorosLombok.com – Jumlah pengangguran di Lombok Timur terus meningkat signifikan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada 2023 jumlah pengangguran di wilayah ini mencapai 17 ribu orang. Namun pada 2024, angka itu melonjak menjadi lebih dari 20 ribu.

Lonjakan pengangguran ini mendapat perhatian dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Lombok Timur. Mereka melihat adanya ketidaksesuaian antara jurusan yang dibuka di SMK dengan kebutuhan pasar kerja sebagai penyebab utama.

Kepala Disnakertrans Lotim, M. Hairi, menjelaskan bahwa banyak SMK di daerah ini membuka jurusan yang tidak relevan atau disebutnya “jurusan latah.” Jurusan tersebut tidak memiliki prospek kerja yang jelas sehingga lulusan kesulitan mencari pekerjaan.

“Kenapa terjadi hal tersebut? Tentu masuk akal data BPS itu. Mungkin jurusan-jurusan yang dibuka oleh SMK-SMK ini jurusan-jurusan latah yang tidak terlalu dibutuhkan di dunia kerja, sehingga mereka nganggur,” ujar Hairi, Kamis (5/6).

Hairi mengaku sudah menyampaikan temuan ini dalam forum kepala sekolah SMK, namun ia hanya meneruskan data resmi dari BPS.

“Pernah dulu saya sampaikan hal tersebut dulu forum kepala sekolah SMK, tapi kan itu data BPS. Saya cuma menyampaikan saja,” tambahnya.

Masalah ini bukan hanya terjadi di tingkat kabupaten. Data BPS NTB per Agustus 2024 menunjukkan angka pengangguran terbuka di provinsi mencapai 87,01 ribu orang. Dari jumlah tersebut, 4,73 persen merupakan lulusan SMK yang belum terserap dunia kerja.

Melihat kondisi ini, Hairi mendorong SMK di Lombok Timur untuk membuka jurusan yang lebih sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar kerja, seperti jurusan Bahasa Jepang.

“Sehingga kita berharap ke depannya semua SMK membuka semua jurusan Bahasa Jepang, sehingga kami di Disnakertrans bisa memberangkatkan mereka untuk magang,” jelasnya.

Ia memberi contoh SMKN 1 Sikur yang sudah lebih dulu menerapkan jurusan Bahasa Jepang. Sekolah tersebut berhasil mengirim beberapa siswanya magang ke luar negeri.

“Makanya beberapa tahun lalu SMKN 1 Sikur sudah mulai terapkan Bahasa Jepang ini dan alhamdulillah sudah beberapa kali memberangkatkan siswanya magang ke luar negeri,” ungkap Hairi.

Hairi menekankan pentingnya kerja sama antara Disnakertrans dan SMK untuk memperkuat keterkaitan pendidikan vokasi dengan dunia kerja. Namun, karena SMK berada di bawah naungan pemerintah provinsi, koordinasi perlu dilakukan melalui provinsi.

“Kedepannya kita harus perkuat kolaborasi dengan SMK-SMK, khususnya di Lotim ini. Namun, karena mengingat SMK itu di bawah naungan provinsi, tentu melalui provinsi kita rangkul semua SMK yang ada di Lombok Timur,” tegasnya.

Selain itu, program magang ke Jepang dianggap sebagai solusi nyata untuk mengurangi pengangguran lulusan SMK dengan keuntungan berupa gaji yang cukup tinggi.

“Karena mereka magang ke Jepang, mereka digaji lumayan. Tentu penukaran mata uangnya beda dengan mata uang kita di Indonesia,” tutup Hairi.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU