(PorosLombok.com)– Panitia Festival Olahraga Masyarakat Nasional (Fornas) VIII NTB 2025 tidak main-main soal keselamatan peserta. Jalur lari trail yang dikenal ekstrem di kawasan Sembalun, Lombok Timur, dijaga ketat dengan sistem pengamanan berlapis.
Jalur lintasan yang akan dilalui peserta bukan medan sembarangan. Bukit terjal, hutan lebat, persawahan, hingga aliran sungai menjadi rute wajib dalam lomba ini. Risiko cedera cukup tinggi jika tidak ditangani dengan serius.
“Setiap lima kilometer kita siapkan water station lengkap dengan petugas dan tim medis,” ujar Juri dari Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI), Lusianto Andrian Lee, Sabtu (26/7).
Petugas medis ditempatkan di titik-titik yang dinilai rawan. Selain untuk membantu peserta yang kelelahan, mereka juga bersiaga bila terjadi cedera ringan hingga keadaan darurat.
“Kalau ada yang butuh pertolongan cepat, kita sudah siapkan semuanya di lintasan,” tegasnya.
Untuk menghindari peserta tersesat, panitia telah memasang tanda penunjuk arah di seluruh titik jalur. Setiap belokan, tanjakan, maupun persimpangan dipastikan memiliki marka yang jelas.
“Kita juga tempatkan marshal di titik-titik penting, jadi peserta aman dari risiko salah jalur,” lanjutnya.
Tidak hanya itu, setiap peserta dibekali jam tangan GPS. Teknologi ini membantu atlet memantau arah, posisi, dan memastikan mereka tetap di jalur yang benar, terutama di area minim sinyal dan tanpa penanda alam.
“Dengan GPS, peserta bisa lihat rute langsung dari jamnya. Apalagi di hutan atau kalau kabut turun,” ucap Lusianto.
Panitia juga mewajibkan semua peserta mengenakan perlengkapan standar, khususnya sepatu trail run. Hal ini untuk mencegah peserta terpeleset, terutama saat menuruni jalur licin.
“Sepatu biasa dilarang. Harus pakai sepatu trail biar aman di turunan atau saat hujan,” jelasnya.
Salah satu titik yang mendapat perhatian khusus adalah Bukit Pergasingan. Medannya curam, dan jika hujan turun, jalurnya bisa sangat licin. Turunan di bukit ini menjadi titik paling berisiko sepanjang lomba.
“Yang paling rawan itu turunan dari Pergasingan. Kalau salah pijak, bisa jatuh. Itu yang kita antisipasi,” ungkapnya.
Menurutnya, lomba ini memang menantang. Tapi keselamatan tetap nomor satu. Oleh karena itu, briefing keselamatan diberikan secara detail kepada seluruh peserta.
“Peserta sudah diberi arahan. Kalau ada masalah, tinggal aktifkan sinyal bantuan atau panggil petugas,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)














