PorosLombok.com — Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri memimpin delegasi resmi membawa kekayaan warisan budaya lokal menghentak panggung internasional. Rombongan strategis tersebut meninjau ragam koleksi langka berupa kain tenun hingga manuskrip sejarah daerah di museum seni Art Gallery of South Australia, Kota Adelaide pada Jumat (11/9/2026).
“Yang kita bawa ke panggung dunia bukan hanya benda budaya, melainkan cerita, pengetahuan, nilai, dan sejarah di balik setiap karya tersebut,” katanya.
Langkah diplomasi budaya tingkat global ini turut diperkuat oleh kehadiran Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia dan Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda. Mereka bersama-sama menelusuri langsung keberadaan kain ritual kekombong asal Lombok Utara, songket khas Lombok Tengah, hingga naskah kuno Hikayat Nabi Yusuf berbahan daun lontar.
“Perjalanan di museum ini harus menjadi momentum penting mendokumentasikan serta membangun komunikasi dengan institusi global penyimpan artefak kita,” jelasnya.
Perhatian delegasi tingkat provinsi ini juga tersedot secara khusus saat menemukan keberadaan pusaka keris kerajaan asal Bima yang dalam catatan katalog museum diperkirakan telah ada sejak abad ke-17. Keberadaan artefak bernilai sejarah tinggi tersebut sukses membuka wawasan baru mengenai rekam jejak penyebaran kebudayaan NTB di ranah mancanegara.
“Di museum Australia ini kita tidak selalu bicara mengembalikan benda, namun terpenting memperoleh akses sejarah dan pengetahuan bagi masyarakat,” tegasnya.
Rangkaian agenda diplomasi antarnegara tersebut kemudian merambah pada momentum peluncuran buku seni bertajuk Two Islands, One Thread: Lombok and Bali Textiles. Forum bergengsi tingkat dunia ini dihadiri langsung para kurator, peneliti independen, serta pejabat tinggi seperti Minister for Trade and Tourism Senator Don Farrell di Kota Adelaide.
“Di forum internasional ini pariwisata membawa orang datang, sedangkan kebudayaan membuat mereka memahami siapa kita sesungguhnya,” tambahnya.
Seluruh rangkaian agenda kunjungan kerja resmi di benua tetangga ini kemudian mencapai puncaknya melalui acara tatap muka bersama jajaran mahasiswa serta masyarakat diaspora asal NTB. Pertemuan penuh kehangatan tersebut dimanfaatkan secara maksimal untuk membakar semangat generasi muda agar tidak ragu menimba ilmu setinggi mungkin di luar negeri.
“Dari Adelaide ini saya pesan belajarlah setinggi mungkin dan bangun jaringan luas, lalu kembalikan manfaatnya untuk membangun daerah,” pesannya.
Mengingat pentingnya pelestarian aset daerah, Ketua Dekranasda NTB Hj. Sinta Agathia menekankan bahwa program kebudayaan ini harus berjalan sinergis. Kerja sama strategis lintas negara ke depan berfokus pada program digitalisasi naskah kuno, pelestarian peninggalan leluhur, serta penyelenggaraan pameran seni yang berkelanjutan di level global.
“Di dalam buku ini tidak membandingkan mana yang lebih baik, melainkan memperlihatkan hubungan erat dan pertukaran budaya antarpulau,” ujarnya.
Buku tekstil monumental yang baru saja diluncurkan tersebut memuat dokumentasi sangat rinci terkait ratusan tenun langka asal Lombok dan Sumbawa milik kolektor Michael Abbott. Upaya inventarisasi ini dinilai sangat krusial untuk mengukuhkan posisi penenun tradisional dalam peta seni tekstil dunia sekaligus bentuk murni penghormatan karya dedikasi.
“Dokumentasi ilmiah di galeri ini sangat vital untuk meningkatkan penghargaan kepada penenun lokal sekaligus menginspirasi generasi muda,” paparnya.
Hasil kajian komprehensif lembaga galeri berhasil membuktikan bahwa motif tenun tradisional seperti rangrang terus beradaptasi mengikuti perubahan zaman tanpa membuang identitas dasarnya. Fakta ini secara gamblang memperlihatkan betapa dinamisnya pola interaksi sosial masyarakat pesisir NTB dalam menyerap ragam pengaruh budaya luar secara bijak.
“Apresiasi tinggi di panggung Adelaide ini patut diberikan kepada para peneliti yang mendedikasikan waktu mendokumentasikan kain Sumbawa dan Lombok,” terangnya.
Ekosistem ekonomi kreatif daerah diyakini bakal menerima cipratan dampak positif yang begitu besar berkat gema publikasi berskala internasional tersebut. Melonjaknya perhatian masyarakat global terhadap kekayaan seni tenun NTB diharapkan mampu mengatrol nilai jual produk kerajinan tangan lokal serta mengangkat taraf hidup pembuat tenun di desa.
“Publikasi berskala internasional ini akan memperluas jangkauan pasar produk kerajinan tangan khas daerah kita hingga ke benua Australia,” imbuhnya.
Melengkapi langkah strategis eksekutif, Ketua DPRD Provinsi NTB Hj. Baiq Isvie Rupaeda memastikan dukungan legislatif akan terus mengalir. Sinergi padu antara perumusan kebijakan regulasi, semangat pelestarian kesenian lokal, serta program pemberdayaan perajin menjadi pondasi vital dalam mewujudkan pemanfaatan warisan leluhur demi kesejahteraan.
“Diplomasi kebudayaan dari Australia ini harus bermuara pada perlindungan serta manfaat nyata bagi para seniman, perajin, dan generasi penerus,” pungkasnya.*


















