PorosLombok.com – Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mencetak sejarah baru dengan menduduki peringkat kedua nasional dalam tingkat kegemaran membaca masyarakat berdasarkan rilis data terbaru pada Rabu (1/4/2026).
Capaian prestisius ini mengukuhkan efektivitas strategi penguatan literasi yang terintegrasi secara masif, mulai dari akar rumput di tingkat desa hingga percepatan transformasi digital di seluruh wilayah.
“Keberhasilan menembus dua besar nasional ini membuktikan bahwa jalur pembangunan budaya baca kita sudah tepat,” ujar Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan NTB, Azhari.
Selaras dengan hal itu, Azhari menegaskan bahwa perolehan skor sebesar 61,19 poin tersebut merupakan cerminan dari kerja keras kolektif yang dilakukan secara berkelanjutan selama beberapa tahun terakhir.
“Prestasi ini bukan hasil kerja instan, melainkan buah kolaborasi antara pemerintah, sekolah, komunitas, hingga peran keluarga,” jelasnya.
Lebih lanjut, posisi NTB kini berada tepat di bawah Nusa Tenggara Timur dan berhasil mengungguli Sumatera Selatan dalam statistik literasi nasional. Lonjakan angka ini dipicu oleh suntikan program strategis seperti gerakan NTB Terampil dan Tangkas.
“Program pembinaan kami menyasar perpustakaan kabupaten, sekolah, hingga desa melalui berbagai lomba bertutur dan resensi,” katanya.
Transformasi Perpustakaan Desa dan Percepatan Literasi Digital
Menanggapi dinamika tersebut, pemerintah daerah juga memperkuat ekosistem literasi melalui payung hukum berupa Surat Edaran Gubernur. Kebijakan ini mendorong penguatan peran Bunda Literasi di setiap jenjang wilayah sebagai lokomotif penggerak.
“Akses bacaan terus diperluas secara nyata melalui implementasi Gerakan Hibah Sejuta Buku atau HIBAH SAKU,” ujarnya.
Sesuai dengan fakta, saat ini tercatat sebanyak 840 desa/kelurahan telah memiliki fasilitas perpustakaan mandiri. Keberadaan 4.340 unit perpustakaan dan 166 komunitas aktif menjadi tulang punggung utama dalam menjaga gairah membaca warga.
“Kami juga fokus melakukan pelestarian naskah kuno sebagai upaya menjaga warisan intelektual daerah agar tidak punah,” terangnya.
Di sisi lain, transformasi ke arah digital menjadi prioritas guna menjangkau generasi muda melalui pengembangan koleksi deposit sebanyak 12.016 judul. Inovasi e-Library NTB kini menyediakan hampir seribu judul buku elektronik yang mudah diakses.
“Literasi harus dibuat menyenangkan dan kontekstual melalui pendekatan budaya lokal seperti permainan tradisional,” tegasnya.
Meskipun demikian, inovasi Gerakan Literasi Tradisional atau GELITRA tetap dipertahankan untuk mendekatkan anak-anak dengan kebiasaan mendongeng. Pola ini menggabungkan kearifan lokal dengan metode membaca nyaring yang dinilai sangat efektif.
“Ke depan, literasi harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari masyarakat NTB, bukan sekadar angka statistik,” pungkasnya.*












