Rinjani Kembali Dibuka Asa Ekonomi Masyarakat Sembalun Mulai Berdenyut

Jalur pendakian Gunung Rinjani resmi dibuka kembali mulai 1 April 2026. Pembukaan ini disambut antusias ratusan pendaki dan menjadi angin segar bagi ekonomi lokal di Sembalun.

PorosLombok.com – Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) resmi membuka kembali seluruh jalur pendakian mulai Rabu (1/4/2026) setelah sempat ditutup total selama tiga bulan akibat cuaca ekstrem.

​Momentum ini menjadi titik balik bagi ribuan pelaku wisata di lingkar Rinjani yang menggantungkan hidup dari aktivitas pendakian. Para sopir angkutan hingga penyedia jasa ojek kini mulai memadati pintu masuk jalur Sembalun untuk mengais rejeki.

​“Alhamdulillah paling tidak asap dapur sekarang bisa kembali mengebul,” ujar Wakil Asosiasi Transport Lingkar Gunung Rinjani, Zohri.

​Selaras dengan hal itu, Zohri menjelaskan bahwa selama masa penutupan, para sopir harus banting stir menjadi buruh tani hingga pencari rumput. Pendapatan harian yang kini mencapai Rp100 ribu sangat berarti untuk menyambung hidup keluarga mereka.

​“Kami menetapkan tarif sebesar Rp250 ribu per trip untuk kapasitas maksimal delapan orang pendaki,” katanya.

​Lebih lanjut, pria ini memaparkan bahwa akses jalan menuju titik awal pendakian saat ini merupakan hasil swadaya murni para sopir. Mereka bahkan rela berutang demi memperbaiki fasilitas jalan secara mandiri tanpa menunggu bantuan dana dari pemerintah daerah.

​“Teman-teman berjuang memperbaiki jalan selama musim tutup kemarin menggunakan biaya sendiri,” jelasnya.

Sinergi Sosial Komunitas Ojek Sembalun dan Lonjakan Pendaki Asing

​Di sisi lain, geliat ekonomi juga dirasakan oleh komunitas ojek pendakian yang kini menjadi primadona bagi para wisatawan. Jasa ojek menuju Pos 2 mampu memangkas waktu tempuh jalan kaki dari tiga jam menjadi hanya 30 menit saja.

​“Tarif ojek kami patok Rp200 ribu untuk mengantar pendaki hingga ke titik Pos 2,” ujar Ketua Ojek Lingkar Rinjani, Juliadi.

​Sesuai dengan kesepakatan, pendapatan yang diperoleh para tukang ojek tidak sepenuhnya masuk ke kantong pribadi mereka sendiri. Komunitas yang beranggotakan 42 orang ini menerapkan sistem iuran sosial yang sangat ketat untuk membantu kepentingan umum masyarakat.

​“Kami menyisihkan Rp2,1 juta setiap minggu dari penghasilan ojek untuk bantuan masjid se-Kecamatan Sembalun,” katanya.

​Melalui sistem tersebut, Juliadi menambahkan bahwa dana sosial juga dialokasikan untuk membantu warga yang jatuh sakit atau tertimpa musibah kematian. Prinsip gotong royong ini menjadi kekuatan utama komunitas ojek dalam menjaga keharmonisan warga lokal Sembalun.

​“Sambil bekerja mencari nafkah kami juga melakukan swadaya untuk kebaikan bersama masyarakat,” terangnya.

​Sementara itu, antusiasme pendaki pada hari pertama pembukaan terpantau sangat tinggi di pintu masuk jalur Sembalun, Lombok Timur. Berdasarkan data registrasi, tercatat sebanyak 370 calon pendaki telah bersiap menaklukkan puncak gunung api tertinggi kedua di Indonesia itu.

​“Hari ini ada sekitar 30 pendaki asal Belanda dan 20 orang dari Jerman yang masuk,” ungkap Kasubag Tata Usaha BTNGR, Astekita.

​Menanggapi kunjungan tersebut, pihak BTNGR mencatat total wisatawan mancanegara yang akan mendaki pada minggu awal pembukaan mencapai 160 orang. Tren positif ini menunjukkan bahwa pesona Rinjani tetap menjadi magnet kuat bagi para turis internasional.

​“Kami terus mengimbau para pendaki untuk selalu mematuhi SOP keamanan yang telah ditetapkan,” ujarnya.

​Dalam konteks keamanan, manajemen TNGR kini menawarkan skema asuransi premium yang mencakup fasilitas evakuasi medis menggunakan helikopter. Layanan darurat ini disiapkan untuk menjamin keselamatan pendaki yang membutuhkan penanganan medis cepat di area pegunungan.

​“Asuransi ini sangat penting untuk penanganan darurat bagi pendaki yang mengalami kecelakaan fatal,” jelasnya.

​Selain faktor keselamatan, aturan ketat mengenai pengelolaan sampah juga diberlakukan melalui sistem pemeriksaan barang bawaan saat proses check-in. Pendaki wajib membawa kembali seluruh sampah mereka turun guna menjaga kelestarian alam lingkungan konservasi.

​“Jangan pernah membuang sampah sembarangan atau melakukan tindakan yang merusak ekosistem alam,” tegasnya.

​Meskipun demikian, pihak pengelola juga meminta setiap pendaki untuk mempersiapkan kondisi fisik dan mental secara matang sebelum memulai perjalanan. Cuaca di atas gunung yang fluktuatif memerlukan kewaspadaan tinggi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

​“Keberhasilan pendakian bukan hanya sampai puncak tetapi saat kembali pulang dengan selamat,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU