Manajemen dan Aplikasi Sistem Penyediaan Air Bersih Berbasis Masyarakat di Pulau Terpencil

Oleh Riza Maharin

OPINI, PorosLombok.com | Air dapat diartikan sebagai senyawa yang dianggap penting bagi semua makhluk hidup di bumi. Zat yang menutupi sekitar 71% permukaan bumi mempunyai bentuk yang berbeda beda. Salah satunya adalah air yang merupakan sumber kehidupan bagi semua makhluk hidup di bumi. Sumber air di suatu wilayah terdapat dalam berbagai bentuk, seperti genangan dan aliran sungai, air tanah, es atau kelembapan atmosfer. Di daerah tropis, sumber air berasal dari air hujan, baik yang jatuh setempat maupun jatuh di hulu. Kuantitas dan variasi teori ketersediaan air di suatu wilayah dapat diperkirakan berdasarkan jumlah curah dan kepadatannya saat hujan.

Pada saat yang sama, faktor hidrologi lainnya seperti bentuk wilayah, geologi, tanah dan tutupan lahan serta penggunaannya, menentukan sebaran dan laju aliran dan kualitas air. Akses terhadap air, khususnya air bersih, masih sulit diperoleh di banyak wilayah di Indonesia. Penyediaan air bersih di Indonesia, khususnya dalam skala besar, masih terkonsentrasi di perkotaan yang dikelola oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Di wilayah pedesaan yang lebih kecil, sejauh ini program ini hanya menjangkau beberapa ibu kota daerah. Secara nasional, jumlah air minum masih jauh dari cukup. Pada daerah yang belum mendapat pelayanan air bersih dari PDAM, biasanya menggunakan air tanah (sumur), air sungai, air hujan, mata air dan sumber air lainnya. Masih banyak daerah di Indonesia yang kualitas sumber air permukaan maupun air tanahnya tidak memenuhi syarat penggunaan air minum.

Contohnya di beberapa desa yang terletak di daerah pinggir pantai dengan daratan yang telah terintrusi air laut, sehingga masyarakat desa tidak mempunyai sumber air untuk pemenuhan kebutuhan air bersihnya. Air bersih merupakan komoditas langka di pulau-pulau kecil, terutama yang penduduknya cukup padat.

Untuk mendapatkan air bersih masyarakat umumnya menggali sumur dangkal, namun pada musim kemarau berubah menjadi asin dan pada pemukiman yang padat kualitasnya menurun dari tahun ke tahun. Untuk mengatasi hal tersebut upaya pemerintah daerah perlu merencanakan dan melakukan pembangunan sarana pengolahan air bersih di kawasan pesisir tersebut. Salah satu perencanaan tersebut adalah dengan melakukan pemilihan alternatif teknologi pengolahan air bersih yang sesuai dengan kondisi air baku setempat.

Dengan memilih teknologi pengolahan air bersih yang memenuhi persyaratan teknis air bersih dan memberikan hasil akhir yang terbaik, termudah dan termurah dalam penggunaan dan pemeliharaannya, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat lokal dan ketersediaan bahan baku. Pemerintah harus mengajak masyarakat untuk bergotong royong dalam membangun atau memasang instalasi air bersih.

Bermodal dengan sifat gotong royong dan kepemimpinan yang kuat, maka sistem penyediaan air bersih yang ada harus dikembangkan dan diarahkan pada masyarakat itu sendiri. Selama ini permasalahan air bersih di wilayah tersebut selalu menjadi tanggung jawab PDAM atau Dinas Pekerjaan Umum, namun karena letak pulau-pulau yang jauh dari daratan dan musim yang terkadang tidak bersahabat, air bersih di pulau-pulau tersebut kurang mendapat perhatian.

Oleh karena itu, pengelolaan air bersih yang berbasis masyarakat harus dikembangkan agar masyarakat mandiri dan siap memproduksi air bersih, terutama pada saat kemarau panjang. Ketika air bersih tersedia maka waktu atau uang yang dikeluarkan untuk memperoleh air bersih dapat digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif dan dapat membuat masyarakat lebih sejahtera. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perlu diterapkan teknologi pengolahan air yang tepat.

Berdasarkan permasalahan yang ada, nampaknya sumber air baku yang baik yaitu air tawar, tidak mungkin ditemukan di desa-desa tersebut, sehingga jenis teknologi yang sesuai dengan kondisi sumber air baku adalah teknologi proses dengan sistem Reverse Osmosis (Osmosis Terbalik). sistem Penerapan teknologi apa pun, sesederhana apa pun, tetap memerlukan upaya untuk meningkatkan kualitas masyarakat setempat Oleh karena itu, perlu diupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam memahami ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya kaitannya dengan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat dalam menerima alih teknologi pengolahan air.

Secara kualitatif, tujuan yang akan dicapai dengan teknologi pengolahan air payau dengan sistem Reverse Osmosis ini adalah penguasaan teknologi pengolahan air payau bagi masyarakat pedesaan untuk mengatasi permasalahan yang ada. Oleh karena itu, masyarakat mulai memahami ilmu pengetahuan dan teknologi akan semakin meningkat.

Dengan tersedianya air minum, maka tingkat kesejahteraan masyarakat juga membaik. Secara kuantitatif sasaran yang dicapai melalui penerapan teknologi pengolahan air payau dengan sistem Reverse Osmosis adalah hadirnya perangkat pendukung utama yaitu unit mengolah air payau menjadi air minum dengan sistem Reverse Osmosis di pulau-pulau terpencil dengan kapasitas sekian liter per hari.

Dengan adanya teknologi pengolahan air payau dengan sistem Reverse Osmosis, permasalahan air bersih di pulau-pulau terpencil bisa diatasi dan masyarakat mampu membiayai operasional peralatan dengan cara membeli air hasil olahan. Pemerintah juga perlu melakukan subsidi untuk implementasi teknologi pengolahan air sistem Reverse Osmosis di pulau-pulau terpencil.

Penyerapan teknologi pengolahan air sistem Reverse Osmosis layak diterapkan pada daerah yang sulit dan tidak ada air tawar dan pelibatan masyarakat sangat diperlukan untuk membangkitkan rasa memiliki dan kemauan untuk merawat peralatan yang ada.

Riza Maharin Program Studi Teknik Lingkungan Akademi Teknik Tirta Wiyata Magelang

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU