SMKN 1 Sikur Geber OSOP, 359 Produk Siswa Siap Tembus Pasar

Lombok Timur, PorosLombok.com – SMKN 1 Sikur kembali menunjukkan taringnya dalam mencetak generasi kreatif. sekolah vokasi ini menggelar program One Student One Product (OSOP) sebagai bentuk inovasi dan apresiasi kepada siswa kelas XII yang akan menamatkan pendidikan.Sabtu (19/4),

Kegiatan ini bukan hanya soal pamer produk, tetapi sebuah platform konkret untuk membentuk mental wirausaha sejak dini. Seluruh siswa dituntut menuangkan ide dan gagasan menjadi produk nyata sesuai kompetensi keahlian masing-masing.

“Tugas akhir ini dibuat sebelum ujian kompetensi kejuruan. Mereka bebas berkreasi sesuai jurusannya masing-masing,” ujar Kepala SMKN 1 Sikur, H. Hasby Ahmad.

Panggung OSOP ditata langsung oleh para siswa. Bahkan MC, penyambut tamu, hingga desain acara ditangani sendiri oleh mereka sebagai bagian dari penilaian. Sekolah menilai tak cukup hanya dengan produk, tetapi juga bagaimana siswa mampu berbicara di depan umum, menawarkan, hingga menjual.

“Di program seni kreatif, yang ditawarkan adalah barang dan jasa. Jadi kami nilai juga cara mereka menyapa, memasarkan, dan menjual produk wisata,” katanya.

Hasby menyebut OSOP bukan sekadar proyek sekolah, melainkan jembatan menuju dunia usaha. Ia berharap, pemerintah bisa turun tangan membuka akses pasar bagi produk-produk kreatif siswa SMK yang kerap terpinggirkan.

“Kami butuh mitra dan dukungan pemerintah. Produk ini harus bisa masuk ke pasar yang lebih luas,” ucapnya.

Keprihatinan Hasby terhadap tingginya angka pengangguran mendorong lahirnya OSOP. Ia menekankan bahwa lulusan SMK tidak boleh hanya jadi beban keluarga. Dengan satu produk yang dikembangkan, mereka harus bisa bertahan bahkan menopang ekonomi rumah tangga.

“Minimal dengan produk ini, mereka tidak menganggur. Lebih-lebih bisa menghidupi keluarganya,” tegasnya.

Capaian SMKN 1 Sikur cukup mentereng. Sebanyak 43 siswa sudah menyelesaikan magang luar negeri, dan 45 lainnya telah bekerja di berbagai industri di Bali, Gili Trawangan, Tetebatu, hingga Mataram.

“Mereka tetap belajar online. Modul dan UKK mereka nanti dinilai langsung oleh industri tempat mereka bekerja,” kata Hasby.

Produk OSOP dipasarkan lewat katalog digital yang terhubung dengan media sosial sekolah, mulai dari website, Instagram, YouTube hingga Facebook. Konsumen bisa langsung menghubungi siswa melalui nomor kontak yang tersedia di katalog.

“Kami optimis. Ini adalah modal dasar yang kami miliki, dan harus kami dorong semaksimal mungkin,” katanya.

Hasby juga membeberkan rencana jangka panjang. SMKN 1 Sikur tengah menggagas Kampung Batik, sebuah desa kreatif yang menjadi wadah kolaborasi siswa SMK dan mahasiswa. Lokasi itu akan disulap menjadi pusat industri, kuliner, hingga tempat nongkrong produktif.

“Ini ide besar kami. Harus ada ruang untuk anak-anak muda berkreasi. Tidak bisa hanya mengandalkan teori,” jelasnya.

Produk unggulan SMKN 1 Sikur saat ini antara lain batik lokal yang sudah dipakai pejabat dan industri, serta boga yang rutin hadir di car free day. Selain itu, karya animasi siswa sudah mulai menarik perhatian mitra seperti Perpustakaan Provinsi.

“Karya animasi dan cerita bergambar anak-anak mulai dilirik untuk dikembangkan. Ini potensi besar,” ujar Hasby.

Tingginya angka pengangguran di NTB jadi cambuk tersendiri. Dari total 739.000 penganggur terbuka, 4,3 persen adalah lulusan SMK. OSOP diyakini menjadi jawaban paling realistis untuk menekan angka tersebut.

“Ini cara kami menjawab data statistik. Anak-anak harus disambungkan dengan industri sejak sekarang,” ucap Hasby.

Sebagai bentuk konkret sinergi, acara OSOP juga dirangkaikan dengan penandatanganan kerja sama dengan sejumlah mitra dunia industri. Langkah ini disebut strategis untuk memastikan produk siswa punya pasar sekaligus membuka peluang kerja ke depan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan NTB, Bq. Nely Yuniarti, menyebut OSOP sebagai terobosan yang patut ditiru. Menurutnya, inisiatif itu sejalan dengan geliat ekonomi kreatif NTB yang berbasis pariwisata.

“Kami sangat bahagia melihat inovasi ini. Ini yang sangat kami harapkan dari SMK,” katanya.

Nely menilai OSOP akan lebih kuat jika didukung kolaborasi banyak pihak. Menurutnya, Dinas Pendidikan dan Pemda harus menjadikan OSOP sebagai program yang wajib dibackup, karena potensinya luar biasa.

“SMK harus dilibatkan dalam setiap event daerah. Produk mereka harus digunakan dalam pengadaan lokal,” tegasnya.

Ia menambahkan, Dinas Perdagangan akan mendukung dari sisi pemasaran. Masalah utama produk siswa bukan pada kualitas, melainkan akses pasar.

“Mereka bisa bikin apa saja. Tapi pasarnya ke mana? Itu PR kita bersama,” kata Nely.

Ia juga menyinggung perlunya edukasi kepada siswa agar mengenal budaya dan warisan lokal seperti wastra NTB dan produk-produk desa yang bisa dikembangkan kembali sesuai tren.

“Banyak anak kita bahkan tidak tahu tentang geben dari Loyok. Itu tantangan kita bersama,” ujarnya.

Langkah awal telah dilakukan. Produk batik siswa SMKN 1 Sikur akan digunakan oleh Kafilah Lombok Timur dalam STQH tingkat provinsi, sebagai wujud dukungan Pemkab terhadap OSOP.

“Ini langkah awal. Kami berharap kebijakan seperti ini terus berlanjut,” tegas Nely.

Dukungan juga datang dari Asisten I Pemkab Lotim, Hadi Fathurrahman, yang mendorong Dinas Koperasi dan UMKM untuk jeli melihat potensi dan menyiapkan pasar bagi produk siswa.

“Kami sudah punya channel distribusi. Tinggal maksimalkan. Masukan dari Kadis tadi akan segera kami tindak lanjuti,” ucapnya.

(arul | PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU