Lombok Timur,PorosLombok.com– Mahasiswa Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Hamzanwadi menunjukkan kepedulian nyata terhadap lingkungan.
Dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia, mereka menanam 1.500 pohon di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), tepatnya di Dusun Joben, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading.
Kegiatan bertajuk “Joben Betaletan, Joben Lestari” itu berlangsung selama dua hari, Sabtu (31/5) dan Selasa (3/6). Sebanyak 65 mahasiswa dan dosen turun langsung menanam pohon demi menjaga hutan dan sumber mata air.
“Ini wujud aksi nyata kami sebagai insan akademik yang peduli terhadap krisis iklim,” kata salah satu panitia kegiatan.
Penanaman pohon ini juga jadi bagian dari Program Kampung Iklim (Proklim) yang digagas Kementerian LHK. Bahkan, Universitas Hamzanwadi sebelumnya mendapat penghargaan dari Menteri LHK pada Festival LIKE 2 Tahun 2024 di Jakarta.
Kegiatan ini melibatkan sejumlah pihak, mulai dari Kelompok Proklim Joben Lestari, Balai TNGR, BPDLH, Kementerian LHK, hingga Fakultas Kehutanan Universitas Mataram.
Tokoh penting pun hadir dalam pembukaan kegiatan, antara lain Sekda Lombok Timur, Plt. Kadis Lingkungan Hidup Provinsi NTB, perwakilan BTNGR dan DLH Lotim, Kapolsek Montong Gading, Babinsa, tokoh agama, LSM, hingga Direksi Bank NTB Syariah.
Hari pertama, peserta berhasil menanam 300 pohon. Tak hanya itu, sejumlah petani dan tokoh masyarakat yang dinilai berjasa dalam menjaga kelestarian TNGR juga menerima penghargaan. Kegiatan ditutup dengan peresmian Proklim Mart oleh Sekda Lombok Timur.
Di hari kedua, aksi tanam pohon dilanjutkan. Sebanyak 1.200 bibit berhasil ditanam. Para peserta juga mendapatkan edukasi tentang konservasi dari pihak Balai TNGR.
Pesan lokal yang disampaikan dalam kegiatan ini pun menyentuh:“Gawah tilah masyarakat molah, aiq limpah selapuk cigah”
(Sawah terjaga oleh kesadaran masyarakat, air melimpah untuk semua kehidupan.)
Kegiatan ini bukan sekadar simbolik. Mahasiswa dan dosen Teknik Lingkungan Hamzanwadi benar-benar turun tangan menjaga bumi.
“Kami ingin jadi contoh, bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari kampus,” ujar salah satu dosen pembina.
Langkah hijau dari mahasiswa Hamzanwadi ini jadi bukti: cinta lingkungan tak cukup diomongin, tapi harus ditanamkan – secara harfiah.
(*/PorosLombok)
















