PorosLombok.com – Di tengah derasnya arus pragmatisme kampus, UKM Lentera Alam UNW Mataram justru menyalakan nyala berbeda. Lewat Mimbar Karya bertajuk Mahasiswa Berjuang, mereka menggugat diam dan menyulut semangat.
Digelar di sebuah kedai di Anjani, Lombok Timur, acara ini menjadi pentas terbuka yang memadukan orasi, puisi, monolog, hingga musik. Semuanya bermuara pada satu hal: suara mahasiswa tidak boleh padam. Sabtu (21/6),
“Ini bukan sekadar pertunjukan. Ini medan konsolidasi, ruang aktualisasi, dan titik temu para pejuang ide,” tegas Hariawan, Ketua UKM Lentera Alam.
Ia menolak menjadikan UKM sebagai pajangan struktural di kampus. Mimbar Karya, menurutnya, adalah tamparan bagi mereka yang apatis dan hanya mengejar IPK.
“Kami ingin menggugah yang tertidur. Mahasiswa bukan hanya pelengkap kelas, tapi pemilik panggung gagasan,” sambungnya.
Lebih dari sekadar ajang ekspresi, kegiatan ini menjadi strategi politik kultural mahasiswa Anjani. Setiap kata yang dibacakan, setiap nada yang dimainkan, mengandung perlawanan halus terhadap kekosongan ruang kritik di kampus.
Abib Turrohman, Ketua Demisioner UKM, menyebut Mimbar Karya sebagai langkah serius untuk membangun tradisi berpikir dan berkarya.
“Kita butuh panggung. Bukan hanya podium formalitas. Mimbar Karya ini harus jadi brand perlawanan kreatif mahasiswa,” kata Abib, lantang.
Ia juga menyindir dunia kampus yang terlalu nyaman dengan birokrasi, tapi abai pada jiwa.
“Kalau mahasiswa kehilangan keberanian untuk bersuara, tamatlah masa depan kampus,” tandasnya.
Dengan narasi tajam, panggung kecil itu seakan menjadi ruang besar yang menggemakan keresahan generasi muda. Lentera Alam telah menyalakan obor—bukan untuk hiasan, tapi untuk membakar semangat.
(*/porosLombok)
















