Jagung NTB Mendunia, Pemprov Kebut Perbaikan Rantai Pasok

PorosLombok.com – Jagung asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai unjuk gigi di pasar ekspor. Namun di balik kabar membanggakan itu, Pemprov NTB masih dihadapkan pada pekerjaan rumah besar: rantai pasok yang belum rapi dan data produksi yang tumpang tindih.

Asisten II Setda NTB, Lalu Moh. Faozal, mengungkapkan bahwa tim dari Kemenko Perekonomian sudah turun ke lapangan bersama pihak pemprov untuk menelusuri titik-titik kendala yang selama ini menghambat distribusi jagung.

“Produksi kita melimpah, tapi dari ladang ke pasar perlu jeda. Tidak bisa ujug-ujug panen langsung kirim. Harus ada tempat penyimpanan,” kata Faozal, Selasa (25/6).

Ia menyebut, salah satu persoalan utama saat ini adalah soal space. Bahkan Bulog disebut tak punya cukup gudang untuk menampung hasil panen petani.

“Kalau tidak ada tempat singgah, kualitas jagung bisa turun. Padahal kita ingin menjaga mutu sebelum sampai ke pembeli akhir, baik lokal maupun luar negeri,” tegasnya.

Masalah lain yang tak kalah krusial adalah soal data. Faozal mengungkapkan ada perbedaan mencolok antara data produksi jagung versi BPS dan data dari Dinas Pertanian NTB.

“Beda hampir seratus persen. Ini serius. Ada potensi jagung hampir satu juta ton di lapangan yang belum jelas arahnya,” bebernya.

Jika ini dibiarkan, menurut dia, petani bisa jadi korban. Mereka sudah tanam, sudah panen, tapi tidak dapat duit karena jagungnya tidak terserap pasar.

“Padahal ujung-ujungnya petani butuh uang. Mereka sudah investasi besar saat menanam,” ujarnya.

Faozal menyebut saat ini koordinasi lintas sektor sedang dikebut. Kemenko Pangan, Kementan, hingga Bulog sudah diminta turun tangan menyelesaikan simpul-simpul masalah tersebut.

“Dari target 78 ribu ton serapan jagung, Bulog baru ambil sekitar 21 ribu ton. Ini catatan penting buat kita semua,” ucapnya.

Soal ekspor, Faozal menegaskan bahwa harga jagung di luar negeri bersifat business to business (B2B). Pemerintah hanya mengontrol harga beli dalam negeri lewat Bulog.

“Kalau ekspor, itu urusan pedagang. Tapi kita pastikan harga beli di dalam negeri jangan sampai merugikan petani,” katanya.

Meski begitu, Faozal tak menutup mata bahwa jagung NTB kini mulai mendunia. Hasil panen petani sudah menyeberang hingga pasar internasional.

“Ini kabar baik. Tapi kita harus pastikan petani tetap jadi yang paling diuntungkan,” tutupnya.

(arul/PorosLombok)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU