(PorosLombok.com)– Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Sosial meluncurkan program Difabel Siaga Bencana.
Langkah ini ditempuh untuk memastikan kelompok penyandang disabilitas memiliki pengetahuan dan keterampilan menghadapi potensi bencana di daerah yang dikenal rawan gempa dan bencana alam.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial NTB, Nunung Triningsih, saat menjadi narasumber dalam acara podcast Dinsos NTB, Kamis (4/9).
Nunung menegaskan posisi NTB berada di jalur sesar aktif sehingga masyarakat harus selalu dalam kondisi siaga.
“Bukan untuk menakut-nakuti, tapi agar kita selalu siap. Semua harus siaga, termasuk kelompok difabel,” ujarnya.
Ia menjelaskan, program tersebut juga merupakan bagian dari visi NTB Inklusif yang diusung pemerintah provinsi. Prinsipnya, tidak boleh ada seorang pun yang tertinggal dalam layanan sosial maupun penanganan kebencanaan.
“Program ini sejalan dengan konsep no one left behind. Semua kelompok masyarakat harus mendapatkan pengetahuan, keterlibatan, dan perlindungan yang sama,” katanya.
Nunung menambahkan, sosialisasi yang digelar saat ini baru langkah awal. Ke depan, akan ada rangkaian kegiatan lanjutan, mulai dari pemetaan ragam disabilitas hingga pelatihan teknis bagi Taruna Siaga Bencana (Tagana) agar lebih responsif terhadap kebutuhan difabel.
“Kami akan meningkatkan kapasitas Tagana melalui bimbingan teknis dan pelatihan. Dengan begitu, pelayanan kepada penyandang disabilitas bisa lebih tepat dan menyeluruh,” jelasnya.
Meski begitu, ia mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi. Salah satunya adalah minimnya kolaborasi lintas instansi sehingga pelaksanaan program kerap belum optimal.
“Program ini tidak bisa hanya dijalankan Dinas Sosial. Harus ada kerja sama lintas OPD dan dukungan dari semua pihak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Nunung menekankan bahwa kelompok difabel bukan satu-satunya yang menjadi sasaran program. Kelompok rentan lainnya seperti perempuan, anak-anak, dan lansia juga akan dilibatkan dalam kegiatan serupa.
“Harapannya, seluruh masyarakat NTB mampu menyelamatkan diri sejak dini ketika bencana terjadi. Dengan kesiapan itu, kita tidak perlu panik dan bisa mengurangi risiko kerugian,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)















