PorosLombok.com — Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri melontarkan pesan menohok bagi lembaga perbankan daerah saat membuka Bazar Ramadan di Kota Mataram. Ia menuntut penguatan kualitas layanan di tengah persaingan pasar yang kian ketat pada Jumat (13/3/2026).
Dae Dinda—sapaan akrabnya—menilai profesionalisme menjadi harga mati bagi bank milik pemerintah daerah untuk mempertahankan kepercayaan nasabah. Tanpa inovasi dan integritas yang kokoh, lembaga keuangan lokal dikhawatirkan tertinggal oleh ekspansi bank swasta nasional.
“Seluruh lembaga perbankan di NTB harus mampu bersaing secara sehat dan profesional agar masyarakat semakin percaya kepada lembaga perbankan yang ada,” ujar Wagub.
Sektor perbankan daerah memiliki mandat strategis sebagai mesin penggerak ekonomi kerakyatan melalui penyaluran modal usaha yang tepat sasaran. Kontribusi ini harus dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil guna mempercepat pemulihan ekonomi di tingkat akar rumput.
Politisi perempuan ini juga mengapresiasi inisiatif BPR NTB yang turun gunung menggelar pasar murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Langkah sosial ini dianggap sebagai oase di tengah melonjaknya harga pangan menjelang perayaan Idulfitri mendatang.
“Tujuannya memastikan kebutuhan sembako masyarakat tersedia dan harganya tetap terjangkau,” katanya.
Kegiatan tersebut menjadi sangat krusial mengingat tahun ini umat Islam menjalankan puasa dalam waktu yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Sinkronisasi stok pangan di pasar tradisional wajib dipantau agar tidak terjadi kelangkaan barang yang memicu kepanikan warga.
Direktur Operasional PT BPR NTB Perseroda Lalu Didi Januardi menyebut bazar ini merupakan debut besar perusahaan setelah menuntaskan fase konsolidasi panjang. Penyatuan manajemen sejak 2022 lalu kini mulai menunjukkan hasil melalui program-program yang lebih masif.
“Kegiatan ini menjadi momentum bagi BPR NTB untuk lebih dikenal masyarakat sekaligus memberikan manfaat langsung bagi warga,” ujarnya.
Perseroda berkomitmen menjadikan Ramadan sebagai panggung untuk membuktikan bahwa bank daerah tidak hanya mengejar profit semata. Hubungan emosional dengan konstituen lokal dibangun melalui subsidi harga barang pokok yang bekerja sama dengan berbagai mitra.
Pihak manajemen turut merangkul pelaku UMKM lokal untuk memamerkan produk unggulan mereka selama acara berlangsung di area publik. Upaya ini diharapkan mampu mendongkrak omzet pedagang kecil yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi di Mataram.
Kesiapan stok bahan pangan dipastikan aman berkat sokongan dari Bulog serta Dinas Ketahanan Pangan setempat hingga berakhirnya masa bazar. Transparansi harga menjadi prioritas utama agar tidak ada spekulan yang memanfaatkan situasi demi keuntungan pribadi.
“Kami ingin memastikan kehadiran BPR NTB benar-benar dirasakan manfaatnya secara nyata oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya.*
















