PorosLombok.com — Wakil Bupati Lombok Timur H. Moh. Edwin Hadiwijaya membuka sosialisasi pencegahan stunting di Desa Masbagik Utara Baru. Kegiatan yang diinisiasi Anggota DPRD H. Lalu Hasan Rahman beberapa waktu lalu.
Pemerintah daerah menyoroti kondisi darurat mengingat posisi Lombok Timur yang kini menempati peringkat tertinggi kasus gagal tumbuh di NTB. Sebanyak tujuh desa tercatat memiliki angka prevalensi sangat mengkhawatirkan yakni di atas 40 persen.
”Pencegahan stunting tidak cukup dari pemenuhan gizi saja, tetapi juga harus diperhatikan dari faktor lingkungan sekitar,” ujar H. Moh. Edwin Hadiwijaya.Selasa (07/03/2026).
Wabup menjelaskan bahwa sebaran kasus tersebut terkonsentrasi di wilayah Sakra Selatan, Kertasari, Kabar, Teros, Sikur Selatan, Penede Gandor, dan Jantuk. Intervensi fisik melalui perbaikan sanitasi menjadi kunci utama selain pemberian asupan nutrisi.
Kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut sebagai salah satu instrumen vital untuk menekan angka kekurangan gizi kronis di tengah masyarakat. Langkah ini diharapkan mampu memperbaiki kualitas tumbuh kembang generasi muda secara signifikan.
”Kehadiran program Makan Bergizi Gratis ini adalah salah satu bentuk intervensi untuk pemenuhan gizi masyarakat,” katanya.
Edwin turut membedah persoalan data penerima bantuan sosial yang selama ini sering memicu perdebatan di tingkat bawah. Penentuan sasaran manfaat saat ini menggunakan standar Desil dengan 39 kriteria ketat yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik.
Kepala wilayah diperintahkan untuk mengawal proses pembaruan data secara berkala agar bantuan pemerintah tidak salah sasaran. Akurasi informasi dari tingkat RT/RW menjadi penentu efektivitas seluruh program jaring pengaman sosial yang diluncurkan.
”Saya minta kita semua kawal bersama agar bantuan benar-benar sampai kepada yang berhak,” tegasnya.
H. Lalu Hasan Rahman mengapresiasi kehadiran warga yang antusias mengikuti cek kesehatan gratis di sela agenda sosialisasi tersebut. Ia menegaskan bahwa edukasi kesehatan ini merupakan komitmen tahunan parlemen untuk menyentuh kebutuhan dasar rakyat.
Masyarakat diharapkan segera mengaplikasikan ilmu pencegahan dini yang disampaikan oleh para pakar kesehatan dari puskesmas setempat. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi modal penting guna mempercepat target penurunan angka prevalensi stunting daerah.
”Diharapkan ilmunya bisa membantu dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting di daerah kita,” pungkasnya.*
















