PorosLombok.com – Perayaan Lebaran Topat di Kabupaten Lombok Timur tahun ini terpantau belum menjadi agenda resmi yang diselenggarakan secara terpusat oleh pemerintah daerah. Tradisi religi tersebut masih berjalan secara mandiri di tengah masyarakat.
Kondisi ini terlihat dari aktivitas warga yang lebih banyak terpusat pada inisiatif keluarga masing-masing di berbagai objek wisata alam. Fenomena tersebut terpantau mulai menggeliat di beberapa titik keramaian lokal.
”Masyarakat menginisiasi sendiri acara ini karena mereka menjalankan ibadah puasa enam hari setelah Lebaran,” kata Stafsus Bidang Pariwisata Ahmad Roji, Jumat (27/03/2026).
Ahmad Roji menjelaskan bahwa banyak warga yang berkoordinasi secara personal untuk merayakan momen tersebut di kawasan Sembalun. Pola perayaan ini diakui masih bersifat sporadis dan belum terkoordinasi dalam satu manajemen event.
”Warga menyampaikan mereka akan berada di Sembalun bersama keluarga, sehingga sifatnya memang belum terorganisir,” jelasnya.
Potensi kunjungan wisatawan yang cukup besar ini dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemangku kebijakan di masa mendatang. Pengelolaan yang baik diyakini dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih terukur bagi daerah.
”Mungkin ke depannya perlu diorganisir kegiatan Lebaran Topat versi Kabupaten Lombok Timur agar lebih tertata,” ujarnya.
Roji memandang perencanaan yang matang dari pemerintah sangat dibutuhkan agar aktivitas masyarakat tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan. Penentuan lokasi pusat kegiatan menjadi salah satu poin penting dalam usulan pariwisata tersebut.
”Next-nya harus direncanakan oleh pemerintah sehingga perayaan ini bisa dipusatkan di destinasi tertentu,” katanya.
Ia mencontohkan kawasan Pantai Labuhan Haji hingga area pesisir laut lainnya dapat dikembangkan menjadi ikon wisata religi unggulan. Lokasi perkotaan dan kawasan kaki Gunung Rinjani juga memiliki potensi serupa untuk menarik minat pelancong.
”Hal ini sangat perlu untuk menjual daya tarik wisata daerah melalui agenda yang lebih profesional,” jelasnya.
Upaya sentralisasi kegiatan diharapkan dapat memudahkan pengawasan keamanan serta pelayanan publik bagi para pengunjung yang datang dari berbagai wilayah. Fokus ini menjadi catatan strategis bagi pengembangan sektor pariwisata daerah.
”Intinya perlu dipusatkan agar seluruh potensi ikon wisata kita bisa terekspos secara maksimal ke publik,” pungkasnya.*
















