PorosLombok.com – Ratusan hektar lahan pertanian tembakau di Desa Ketangga Kecamatan Suela terancam gagal total akibat anomali cuaca buruk yang melanda kawasan tersebut, Kamis (21/5/2026).
Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah itu selama sepekan terakhir membuat komoditas perkebunan andalan warga membusuk. Akibatnya, akumulasi kerugian para pelaku usaha tani ditaksir menembus angka ratusan juta rupiah.
”Cuacanya tidak bisa ditebak sehingga tembakau saya layu secara tiba-tiba,” ujar petani setempat Lalu Nurdin.
Lalu Nurdin memaparkan bahwa karakteristik vegetasi sediaan rajang sangat sensitif terhadap kelembaban tanah yang berlebih. Genangan air di area bedengan memicu pembusukan sistem perakaran secara permanen dalam waktu singkat.
Kondisi fisik tanaman yang mengering menjadi indikasi kuat pudarnya peluang produksi untuk musim ini. Padahal, modal kerja yang bersumber dari pinjaman mandiri sudah terserap sepenuhnya sejak awal masa tanam.
”Perkiraan saya, kerugian sekitar Rp10 juta lebih,” katanya.
Pria paruh baya itu menambahkan bahwa kalkulasi beban operasional tersebut mencakup biaya sewa tenaga kerja harian, pembelian pupuk nonsubsidi, hingga paket obat-obatan. Luas lahan yang terdampak mencapai puluhan are.
Komunitas agraris setempat mengaku kecolongan karena mengacu pada rilis prediksi awal musim kemarau dari pihak stasiun klimatologi. Pola tanam varietas kasturi biasanya sengaja dikejar agar bisa memanen hasil pada bulan September.
”Kenyataannya di luar prediksi BMKG, karena beberapa hari ini hujan cukup deras,” ujarnya.
Nurdin mengeluhkan ketidakakuratan data cuaca yang beredar sehingga memicu bias keputusan di tingkat kelompok tani. Realisasi lapangan justru menunjukkan intensitas presipitasi yang masih sangat pekat.
Dampak kerusakan masif ini juga dikonfirmasi oleh penggarap lain yang mengelola sebaran lahan di blok berbeda. Tingkat kematian bibit vegetasi di beberapa wilayah administrasi dilaporkan telah menembus angka delapan puluh persen.
”Semua petani tembakau juga rugi, karena hujan deras yang datang tiba-tiba,” jelas pekebun lain Lalu Subli.
Lalu Subli menyebut opsi pengalihan komoditas alternatif seperti jagung menjadi pilihan rasional terakhir untuk menyambung hidup. Strategi penyelamatan ini mendesak dilakukan guna menutup akumulasi utang modal.*



















Solusi terbaik tanam yang menguntungkan jika cuaca di ntb tidak baik