PorosLombok.com – Direktur Lembaga Swadaya Masyarakat Lombok Global Institute Nusa Tenggara Barat melayangkan kritik tajam terhadap performa politik anggota DPR RI dapil Lombok di tingkat pusat, Sabtu (23/5/2026).
Langkah evaluasi publik ini menyasar minimnya kontribusi nyata sang legislator dalam mengawal berbagai kasus hukum strategis daerah. Parlemen dinilai cenderung mengabaikan persoalan mendasar yang tengah menjerat masyarakat bawah.
“Secara historis posisi itu hilang,” ujar Direktur LSM Logis NTB M. Fihiruddin.
Fihiruddin membeberkan bahwa landasan dukungan politik tokoh perempuan tersebut awalnya bertumpu pada relasi keluarga eks gubernur terdahulu. Perubahan status sosial kini menuntut pembuktian kinerja murni di lapangan.
Sebagai figur yang menduduki kursi pimpinan sekaligus bermitra dengan korps bhayangkara, sang wakil rakyat punya daya tawar tinggi. Namun, potensi besar tersebut terkesan mandek tanpa realisasi konkret.
“Mana ada statmen dari Buk Sari ini?” katanya.
Aktivis itu menyesalkan sikap bungkam sang politisi saat menanggapi insiden kriminalisasi jurnalis lokal baru-baru ini. Ketidakhadiran pembelaan dari senayan memicu kekecewaan mendalam di kalangan pejuang hak asasi.
Sengketa agraria berskala nasional di kawasan ekonomi khusus wilayah selatan juga luput dari agenda pengawasan parlemen. Padahal, penyelesaian konflik lahan tersebut membutuhkan intervensi politik tingkat tinggi.
“Amak kangkung saja kalau diberi fasilitas oleh negara bisa melakukan hal itu,” ujarnya.
Ia menyindir agenda bagi-bagi bantuan alat pertanian maupun program renovasi hunian yang bersifat seremonial belaka. Kegiatan superfisial semacam itu dinilai bisa dikerjakan oleh siapa saja tanpa perlu mandat khusus.
Publik kini mendesak adanya keberanian nyata untuk membongkar praktik pelanggaran etik oleh oknum aparat penegak hukum nakal. Kehadiran wakil rakyat sangat genting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat.
Ekspektasi besar diletakkan agar fungsi pengawasan legislasi berjalan optimal sebagai penyambung lidah rakyat sejati di Pulau Lombok.**
















