PorosLombok.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur mengintensifkan penyelidikan medis guna menekan angka kematian ibu dan bayi yang meresahkan masyarakat, Jumat (22/5/2026).
Langkah taktis tersebut diambil setelah tim surveilans menemukan sembilan kasus fatalitas serupa selama periode berjalan tahun ini. Pendataan ketat di lapangan terus dilakukan untuk memetakan zona rawan sebaran masalah.
”Sebagian besar kasus kematian ibu disebabkan oleh pendarahan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur Lalu Arias Fahrozi.
Lalu Arias Fahrozi menjelaskan bahwa komplikasi pascapersalinan tersebut menjadi pemicu utama yang mendominasi grafik kehilangan nyawa pasien. Kondisi klinis ini memerlukan penanganan kedaruratan yang cepat dan akurat.
Manajemen kesehatan daerah kini bergerak meluncurkan program evaluasi menyeluruh terhadap performa bidan desa. Instansi terkait langsung mendatangkan tim dokter spesialis dari rumah sakit rujukan untuk mengurai benang kusut.
”Pihaknya telah melakukan audit kasus dan mendatangkan tenaga ahli,” katanya.
Kadis menambahkan bahwa peninjauan rekam medis secara detail genting dilakukan guna mendeteksi letak kelalaian prosedur. Rekomendasi dari para pakar akan langsung diterapkan sebagai standar operasional baru.
Target besar yang dibidik saat ini adalah memotong akumulasi insiden agar tidak melampaui rapor merah masa lalu. Sebagai pembanding, catatan kelam pada periode kalender sebelumnya menyentuh angka dua puluh kasus.
”Angka kematian ibu dan bayi di Lombok Timur masih di bawah rata-rata,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa posisi statistik domestik sebenarnya masih berada dalam kategori aman menurut parameter nasional. Namun, jajaran dinas emoh bersikap jemawa dan tetap memberlakukan status siaga satu.
Aksi penyelamatan ini mustahil sukses tanpa adanya komitmen kuat dari fasilitas kesehatan tingkat pertama selaku garda terdepan. Kolaborasi strategis dengan klinik swasta juga mulai diperketat dalam hal sistem rujukan cepat.
”Diperlukan kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.*
















