PorosLombok.com – Dinas Perdagangan Kabupaten Lombok Timur memastikan pasokan bahan pokok di pasar domestik tetap stabil dan aman di tengah lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, Kamis (21/5/2026).
Meskipun mata uang asing tersebut telah menembus angka Rp17.669, pergerakan harga pangan di tingkat pedagang eceran sebagian besar belum menunjukkan lonjakan yang berarti. Pengetatan pengawasan distribusi kini gencar dilakukan lapangan.
”Minyak kita yang agak naik ini karena memang pengaruh dinamika global,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur Hadi Fathurrahman.
Hadi Fathurrahman menjelaskan bahwa gejolak geopolitik dunia memicu kenaikan harga bahan baku plastik untuk kemasan. Dampak rambatan tersebut meluas hingga mempengaruhi biaya produksi minyak goreng serta gula pasir secara nasional.
Kendati demikian, komoditas strategis lain seperti beras terpantau tidak mengalami kendala pasokan maupun harga. Selain itu, perajin makanan lokal terbukti memiliki strategi jitu dalam menghadapi fluktuasi harga bahan baku impor.
”Pengusaha tahu mendapatkan harga di bawah pasar karena langsung ke grosir,” katanya.
Kadis menambahkan bahwa rantai potong pembelian mandiri itu membuat pelaku usaha mikro terhindar dari jerat kerugian. Alhasil, harga jual produk turunan kedelai di tangan konsumen tetap bertahan normal.
Pemerintah daerah juga bergerak taktis guna menekan laju inflasi daerah agar tidak membebani daya beli masyarakat bawah. Langkah intervensi pasar bersubsidi mulai gencar digulirkan secara merata di tiap wilayah administrasi.
”Upaya kita dari Pemda, kita sudah melakukan pasar murah,” ujarnya.
Ia memaparkan bahwa program stabilitas pasokan tersebut sukses terlaksana berkat sinergi erat bersama Bank Indonesia serta Bulog. Keterlibatan instansi vertikal ini menjamin kelancaran stok pangan murah untuk warga.
Instansi terkait mengimbau publik untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu kelangkaan barang yang sengaja diembuskan oleh spekulan. Sikap rasional dalam berbelanja dinilai sangat genting untuk menjaga psikologis pasar.
Sementara itu, guna memperkuat langkah antisipasi di tingkat pimpinan, Kepala Daerah langsung mengambil tindakan cepat untuk merespons dinamika ekonomi tersebut. Langkah koordinasi lintas sektoral menjadi prioritas utama.
”Nanti kita akan koordinasi dengan pihak Bulog,” kata Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin.
Haerul Warisin menegaskan bahwa pengawasan komoditas utama seperti beras sejatinya berada di bawah kendali penuh pemerintah pusat. Namun, pemerintah daerah tetap berkewajiban melakukan pemantauan ketat di pasar-pasar tradisional.
Langkah taktis ini dipersiapkan sebagai jaring pengaman apabila mulai muncul pergerakan harga ekstrem yang berpotensi memicu lonjakan inflasi. Sinergi dengan gudang logistik negara menjadi kunci utama mitigasi krisis pangan.
”Kita akan koordinasi dengan Bulog supaya Bulog melakukan antisipasi,” pungkasnya.*
















