Disdag Lombok Timur Tepis Isu Program MBG Pemicu Kenaikan Harga Bahan Pangan

Disdag Lombok Timur menepis isu program MBG memicu lonjakan harga pangan. Serapan tinggi justru menguntungkan petani lokal, sementara pasar murah digelar untuk stabilisasi.

PorosLombok.com – Dinas Perdagangan Lombok Timur menepis anggapan publik bahwa pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis memicu lonjakan harga pangan di pasar tradisional. Penyerapan komoditas lokal skala besar untuk program tersebut justru dinilai memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan para petani daerah, Selasa (4/8).

“Program MBG ini sangat menunjang kesejahteraan petani kita, karena tidak hanya cabai yang trennya naik, tetapi produk hortikultura dan sayuran juga sangat dibutuhkan,” ujar Kepala Dinas Perdagangan Lombok Timur, Hadi Fathurrahman.

Kebutuhan pasokan bahan pangan yang tinggi untuk program MBG secara langsung menguntungkan para petani lokal karena hasil panen mereka terserap secara optimal. Kondisi ini membuat komoditas hortikultura yang sebelumnya kerap mengalami fluktuasi harga kini memiliki pasar yang lebih pasti dan menguntungkan.

“Sekarang hortikultura dan sayur-sayuran juga sangat dibutuhkan oleh program MBG,” jelasnya.

Pergerakan harga bahan pokok di pasar tradisional merupakan hal yang wajar karena sangat dipengaruhi oleh mekanisme ketersediaan stok dan tingkat permintaan masyarakat. Fenomena kenaikan harga beberapa jenis komoditas saat ini bersifat sementara dan akan menyesuaikan secara otomatis seiring masuknya masa panen.

“Ketika supply atau pasokan berkurang, tentu harga menjadi naik, itu berjalan alamiah dan nanti akan kembali landai,” tegasnya.

Masyarakat meminta pemerintah daerah mengambil langkah nyata agar dinamika harga komoditas pasar tidak mengganggu daya beli warga berpenghasilan rendah. Intervensi dinas terkait sangat diharapkan untuk meredam potensi keresahan di tengah isu kelangkaan barang pokok.

“Peranan kita memang berusaha menstabilkan harga dengan operasi pasar dan pasar murah, sehingga beras, minyak, dan cabai tetap stabil,” ucapnya.

Langkah intervensi pasar kini mulai digencarkan untuk menyeimbangkan lonjakan harga komoditas utama yang banyak dicari konsumen seperti Minyakita. Kehadiran pasar murah menjadi solusi efektif dalam menyediakan pasokan alternatif dengan harga terjangkau di bawah kisaran harga pasar.

“Tentu kita harapkan dengan melakukan operasi pasar ini, kita akan menstabilkan harga, terutama harga yang cukup melambung seperti Minyakita,” katanya.

Pemerintah daerah menggandeng Perum Bulog untuk mendistribusikan langsung berbagai bahan pokok murah agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Skema penyaluran difokuskan pada produk yang paling dibutuhkan warga guna menjaga kestabilan harga eceran di pasaran.

“Harapan kita dengan menjual lebih murah dari Bulog, produk bisa langsung didistribusikan, dan Minyakita ini paling diminati,” ungkapnya.

Sementara itu, pasokan bahan pangan pokok seperti beras di kawasan pedesaan dinilai masih relatif aman dan tidak mengalami gejolak permintaan yang mengkhawatirkan. Sebagian besar warga desa memiliki cadangan pangan mandiri, sehingga ketergantungan terhadap beras program SPHP tidak terlalu tinggi.

“Masyarakat kita yang di desa stok berasnya lebih bagus, sehingga kondisi di tingkat desa cenderung lebih aman,” terangnya.

Pemantauan harga komoditas di tingkat pedagang eceran akan terus ditingkatkan secara berkala demi memastikan tidak ada lonjakan harga yang berlebihan. Pemerintah daerah optimistis keseimbangan antara ketersediaan barang dan kebutuhan konsumen dapat terjaga dengan baik.

“Upaya pengawasan dan stabilitas harga ini akan terus kami jalankan sampai kondisi pasar benar-benar kondusif,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU