Lombok Timur – Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur terus menggencarkan edukasi dan upaya pencegahan penularan HIV/AIDS menyusul temuan kasus positif yang masih terjadi di masyarakat. Upaya tersebut dilakukan bersama Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan puskesmas untuk meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus menekan risiko penularan.
Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Lalu Aries Fahrozi, mengatakan jumlah kasus HIV/AIDS yang terdeteksi menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, meskipun perkembangannya bersifat fluktuatif. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh pemeriksaan yang semakin intensif untuk menemukan kasus di masyarakat.
“Pemeriksaan terus kita tingkatkan untuk menemukan kasus HIV/AIDS lebih dini, sehingga masyarakat yang terdeteksi positif bisa segera mendapatkan penanganan dan pengobatan,” ujar Lalu Aries Fahrozi, Rabu 14 Oktober 2026.
Ia menjelaskan, salah satu faktor risiko penularan yang menjadi perhatian adalah hubungan seksual berisiko, termasuk pada kelompok lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki atau lelaki suka lelaki (LSL). Karena itu, edukasi mengenai pencegahan HIV/AIDS terus diperkuat melalui kerja sama lintas sektor dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Dikatakan Aries, pemahaman yang benar mengenai HIV/AIDS juga penting untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Masyarakat diharapkan tidak menjauhi anggota keluarga, tetangga, maupun orang lain yang terinfeksi, tetapi memberikan dukungan agar mereka dapat mengakses layanan kesehatan.
“Orang dengan HIV/AIDS tidak boleh mendapatkan stigma atau diskriminasi. Mereka tetap harus mendapatkan dukungan dari keluarga dan lingkungan agar bisa menjalani pengobatan secara teratur,” katanya.
Aries menambahkan, Dinas Kesehatan Lombok Timur telah menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS secara gratis di sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk rumah sakit dan puskesmas. Pengobatan antiretroviral (ARV) dapat menekan perkembangbiakan virus dalam tubuh, membantu menjaga sistem kekebalan tubuh, serta meningkatkan kualitas hidup pasien.
Ia menegaskan, pengobatan harus dijalani secara teratur sesuai anjuran tenaga kesehatan. Tanpa pengendalian virus yang baik, sistem kekebalan tubuh dapat semakin melemah sehingga meningkatkan risiko munculnya berbagai infeksi dan penyakit lainnya.
“Kami mengajak masyarakat untuk tidak takut melakukan pemeriksaan. Jika terdeteksi positif, segera manfaatkan layanan pengobatan yang tersedia karena penanganan sejak dini dan kepatuhan minum obat sangat penting untuk menjaga kesehatan,” ungkap Aries.
Melalui penguatan pemeriksaan, edukasi, dan akses pengobatan, diharapkan masyarakat semakin memahami cara mencegah penularan HIV/AIDS. Selain itu, masyarakat diharapkan berperan aktif menghapus stigma dan diskriminasi serta mendorong orang yang membutuhkan untuk mengakses layanan pemeriksaan dan pengobatan sedini mungkin.*


















