PorosLombok.com – Walikota Mataram, H. Mohan Roliskana, melakukan peninjauan langsung ke lokasi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Mataram. Dalam kunjungan tersebut, Walikota didampingi oleh Kepala Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Nusa Tenggara Barat (NTB), Dades Prinandes, beserta sejumlah pejabat terkait.
Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan kelanjutan serta ketepatan waktu pengerjaan infrastruktur fisik yang saat ini tengah digenjot.
“Hari ini kita memantau progres TPST di Kebon Talo. Tadi disampaikan bahwa saat ini masih dalam pekerjaan infrastruktur utamanya dulu. Targetnya besok di 31 Desember semuanya sudah rampung,” ujar Mohan Roliskana di sela-sela peninjauan Kamis, (15 /10/ 2026).
Menurut Walikota, progres fisik pembangunan ini nantinya akan terlihat sangat signifikan begitu tahap instalasi peralatan dimulai. Berdasarkan jadwal, pengiriman dan pemasangan peralatan mesin pengolahan sampah diperkirakan akan mulai masuk pada bulan November mendatang.
Kehadiran TPST Kebon Talo dinilai sebagai angin segar dan solusi strategis dalam mengatasi persoalan persampahan di Kota Mataram. Dengan kapasitas daya tampung mencapai 60 ton per hari, TPST ini akan beroperasi menopang sistem pengolahan sampah kota.
“Dengan daya tampung 60 ton per hari, itu sangat signifikan ya. Ditambah dengan di Sandubaya yang 30 ton, jadi ini cukup lumayan untuk bisa menampung sampah kita,” jelasnya.
Tidak hanya berhenti pada proses pengolahan sampah, Pemkot Mataram juga telah menyiapkan skema pengelolaan lanjutan terhadap sisa pengolahan (residunya). Residu dari TPST ini nantinya akan diupayakan memiliki nilai ekonomis, salah satunya dalam bentuk Solid Recovered Fuel (SRF).
Selain itu, Pemkot Mataram juga merintis kerja sama dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jeranjang agar residu sampah dapat dimanfaatkan secara optimal. Seluruh rangkaian operasional TPST Kebon Talo ini ditargetkan mulai berjalan secara penuh pada awal tahun 2027.
Menyongsong operasional TPST berteknologi modern ini, Pemkot Mataram berkomitmen untuk melakukan pengawalan secara terintegrasi. Hal ini meliputi transfer pengetahuan terkait pengoperasian mesin serta pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) khusus yang akan mengelola kawasan tersebut.
“Karena ini teknologi yang butuh kecermatan, ada proses yang memang harus dalam pendampingan di awal. Itu yang paling penting supaya alat-alat ini bisa berjalan dengan baik dulu,” pungkas Mohan.
Rampungnya infrastruktur fisik pada akhir tahun ini dan masuknya perangkat teknologi pada November mendatang, Pemkot Mataram optimistis tata kelola kebersihan dan lingkungan di ibu kota Provinsi NTB ini akan semakin baik di masa mendatang.*


















