Benarkah Bansos Rp40 Miliar Bisa Tekan Inflasi? Ini Kata Pemkab Lombok Timur

Lombok Timur, PorosLombok.com – Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memilih jalur berbeda dalam upaya menekan inflasi jelang Idulfitri yang lalu.

Jika daerah lain seperti Lombok Barat masih fokus pada operasi pasar dan pasar murah, Lombok Timur justru menggelontorkan bantuan ketahanan pangan senilai Rp40 miliar.

Program ini dinilai lebih langsung menyasar persoalan utama: ketersediaan bahan pangan di masyarakat. Pemerintah daerah percaya, jika stok pangan aman, gejolak harga bisa ditekan dari sumbernya.

“Tidak bisa kita sebutkan persentasenya, tapi dampaknya signifikan,” kata Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Lombok Timur, Ahmad Masfu, saat ditemui pada Senin (26/6).

Menurut Masfu, efektivitas program itu bisa dilihat dari data Indeks Perkembangan Harga (IPH). Pada minggu keempat, Lombok Timur mencatat angka -9,50 persen. Dari tujuh kabupaten yang dinilai, Lombok Timur berada di posisi keenam, yang berarti terbaik kedua dari bawah setelah Lombok Tengah.

“Posisi itu dihitung dari bawah, bukan dari atas. Jadi kita masuk dua besar terbaik dalam pengendalian harga,” tegasnya.

Pengukuran IPH dilakukan di tujuh kabupaten, karena tiga daerah lainnya Kota Mataram, Kota Bima, dan Kabupaten Sumbawa digunakan sebagai sampel resmi inflasi oleh BPS.

Masfu menjelaskan, logikanya sederhana: ketika kebutuhan pangan masyarakat tersedia dengan baik, daya beli akan menyesuaikan. Permintaan tidak melonjak tajam, sehingga harga tetap terkendali di pasar.

“Harga itu akan naik kalau permintaan tinggi. Tapi kalau masyarakat belanja sesuai kebutuhannya karena stoknya sudah ada di rumah, harga akan stabil,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kombinasi strategi. Menurutnya, bantuan pangan, efisiensi distribusi hasil pertanian, dan pasar murah adalah tiga elemen yang saling menguatkan.

“Kolaborasi dari tiga komponen itu punya pengaruh besar terhadap indeks perkembangan harga,” ungkapnya.

Dengan populasi hampir 1,5 juta jiwa, Lombok Timur tak bisa hanya mengandalkan pasar murah semata. Pemerintah setempat sadar bahwa harus ada intervensi lebih kuat agar kebutuhan pokok benar-benar sampai ke masyarakat.

“Itulah sebabnya juga beberapa waktu lalu ada bantuan dari Bapanas, sekitar 1,5 juta kilogram bahan pangan kami sebar ke keluarga penerima manfaat,” kata Masfu.

Ia meyakini, saat kebutuhan pangan tersedia di rumah-rumah warga, ketergantungan pada pasar bisa ditekan. Hal ini otomatis menjaga stabilitas harga dan menekan gejolak inflasi.

“Kita memang harus berani memulai. Kalau tidak, kita tidak akan tahu hasilnya,” pungkasnya.

(Arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU