close
27.2 C
Jakarta
Rabu, Februari 11, 2026

Taichi Mulai Dilirik, 121 Pegiat Adu Jurus di FORNAS VIII NTB

(PorosLombok.com) – Sebanyak 121 pegiat Taichi dari 14 provinsi ambil bagian dalam Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa olahraga yang dikenal tenang ini mulai bangkit dan mendapat tempat di kalangan masyarakat luas.

Sekretaris Aliansi Taijiquan Nasional Indonesia (ATNI) NTB, Ping Chun Nurhinsyah, mengatakan bahwa Taichi memang bukan olahraga populer di kalangan muda.

“Taichi ini memang tidak seru-seruan seperti olahraga anak muda zaman sekarang, tapi begitu gerakannya benar, dampaknya luar biasa,” ujarnya, Selasa (29/7).

Ping Chun menjelaskan bahwa ATNI kini telah terbentuk di 16 provinsi di Indonesia. Keberadaan organisasi ini membuktikan keseriusan dalam mengembangkan Taichi secara nasional.

“Untuk FORNAS tahun ini, hanya 14 provinsi yang hadir. Sumatera Utara dan NTT tidak sempat bergabung,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa ketidakhadiran dua provinsi tersebut lebih karena kesiapan administratif. Meski begitu, ia berharap ke depan seluruh provinsi bisa ikut ambil bagian.

“Kami berharap di FORNAS IX di Sulawesi Tengah tahun 2027, semua bisa hadir. Meskipun ATNI di Sulteng belum terbentuk, kami targetkan bisa segera masuk sebagai anggota penuh KORMI,” ujarnya.

Ping Chun juga menyebutkan bahwa total pegiat yang terlibat dalam lomba mencapai 121 orang, didampingi 26 official dan pelatih. Bahkan, dua suporter asal Bali tercatat secara resmi dalam sistem FORNAS.

“Adapun kategori yang dilombakan terbagi atas perorangan dan beregu. Untuk perorangan, ada delapan kategori yang dibagi berdasarkan usia, yakni di bawah dan di atas 50 tahun,” jelasnya.

Sementara itu, pada kategori beregu, terdapat empat jenis lomba. Beberapa di antaranya menggunakan alat seperti pedang dan golok, sedangkan lainnya tanpa alat.

“Kami juga mengadakan ekshibisi bagi peserta dari kategori yang belum cukup jumlahnya. Tujuannya memperkenalkan jurus kepada pegiat baru,” imbuh Ping Chun.

Ia menilai ekshibisi ini juga berguna untuk edukasi, agar pegiat pemula bisa melihat dan mempelajari bentuk gerakan yang benar.

“Ke depan, kami berharap ekshibisi seperti ini bisa dipertandingkan juga karena jumlah pegiat semakin banyak,” katanya.

Menurut Ping Chun, Taichi bukan sekadar seni gerak biasa. Di balik kelambatannya, olahraga ini menyimpan kekuatan yang besar bila dilakukan dengan teknik yang tepat.

“Saya sendiri merasakan, saat pertama kali ikut Taichi gerakannya terasa ringan. Tapi setelah dibetulkan pelatih, baru terasa di kaki,” ungkapnya.

Ping Chun menegaskan bahwa Taichi sejatinya adalah gabungan antara senam dan bela diri. Ia menyebutkan bahwa latihan Taichi selalu diawali dengan peregangan dan pemanasan, lalu dilanjutkan ke jurus.

“Kungfu itu berakar dari Taichi. Banyak yang belum tahu, padahal kalau digali lebih dalam, jurusnya kompleks dan penuh makna,” tuturnya.

Penilaian dalam pertandingan dilakukan cukup ketat. Juri akan memperhatikan aspek ketepatan jurus, kecepatan gerakan, serta durasi pelaksanaan.

“Idealnya, waktu gerakan itu antara empat sampai enam menit. Tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat,” katanya.

Meskipun ada penilaian dan pemenang, Ping Chun menegaskan bahwa FORNAS adalah festival yang mengedepankan kebersamaan. Semua pegiat dinilai sudah menang karena turut melestarikan olahraga ini.

“Kita semua bergerak dalam semangat festival. Intinya, yang penting semua senang, semua bergerak,” pungkasnya.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

TERPOPULER

PILIHAN EDITOR