OPINI, POROSLOMBOK -Kembali kepada penggunaan pakaian adat yang sekarang sedang berkembang di masyarakat kita terkait kebijakan pemerintah daerah mengenai penerapan penggunaan pakaian adat bayak sekali pergeseran- pergeseran yang terjadi.
“makanya kami bisa mengatakan ada dua hal yang kami soroti yaitu penggunaan pakaian adat laki – laki yang sekarang kita lihat, ini mungkin akan menimbulkan bayak polemik terutama dalam segi bentuk karna ketika kita berbicara bentuk akan muncul persepsi bahwa bentuk pakaian adat yang kita gunakan tidak beda dengan pakaian adat bali kalau kita kembalikan ke kosep budaya sasak adalah ” MUN DEK SASAK DEK ISLAM” berarti pakaian adat bali juga islam kalau konsep dan bentuknya sama.
“Mungkin dalam sisi bentuk dan bagian akan sama tapi dalam perwujudan akan berbeda contohnya dalam penggunaan sapuk (ikat kepala) saja kami melihat hampir sebagian besar dari kita salah menggunakannya didalam berpakaian adat”
sebelum kita berbicara bentuk prinsip penggunaan sapuq itu memiliki makna mengikat keinginan, mengikat napsu, pengikat pemikiran, karna yang sering menjerumuskan manusia adalah pemikirannya sendiri itulah sebabnya dalam konsep bahasa sasak itu ada istilah “TALO ATE”
artinya hati itu kalah dengan pikiran sendiri jadi talo ate itu bukan berarti iri, makna yang sesungguhnya adalah manusia sering kali kalah dengan pemikirannya, atau kalah kebenaran hati oleh pemikiran napsu, karna itulah orang sasak biasa menggunakan sapuq
Tradisi penggunaan sapuq dalam kontek budaya sasak sesungguhnya memiliki makna sebagai pengendali hawa nafsu, pengendali pemikiran yang bukan – bukan itu sebabnya sapuq digunakan dikepala,
“nah apa yang dikendalikan? Tentunya pemikiran – pemikiran yang benar dan pemikiran yang tidak benar sehingga sejalan dan lurus dengan hal – hal yang di anggap baik dalam kontek agama maupun budaya masyarakat masyarakat kita”
Dalam penggunaan sapuk kalau diperhatikan kita lebih banyak memakai model seperti janggar sebelah kanan dan kiri dalam kontek budaya sasak ini salah karna model penggunaan sapuk seperti ini jelas – jelas salah karna itu adalah model sapuq budaya bali
bagaimana penggunaan sapuq yang benar dalam kontek orang sasak ,karna orang sasak sudah mewariskan turun – temurun cara memakai sapuk yang benar ujung diatasnya adalah segitiga jadi bukan berbentuk janggar atau hiasan .
“Apa makna yang terkandung dalam sapuq yang pertama adalah ketika diikat kepala ini maka hal yang harus di ingat bahwa kehidupan manusia itu pada dasarnya akan tetap mengingatkan kita pada tiga sisi kehidupan yaitu kita berasal dari alam Ruh, alam nyata,dan yang ketiga kita akan kembali ke pertanggung jawaban yaitu alam akhirat itulah tujuan munculnya segi tiga didalam ikatan sapuq orang sasak jadi supaya orang yang menggunakan sapuk tetap mengingat diri bahwa suatu saat kita akan mati dan mempertanggung jawabkan perbuatannya”
Banyak pendapat beradar kalau ikatan dua yang ada di sapuq itu adalah simbol “LAM JALALLAH” kalau kita berpendapat seperti itu berarti orang bali juga menggunakaan itu berarti jelas salah , yang benar adalah dalam mengikat sapuq orang sasak menggunakan satu ikatan jadi satu yang di ikat oleh ikatan yang lain ,artinya dalam mengendalikan pemikiran kita harus tetap berpodoaman pada prinsip – prinsip ketuhanannya, ini makna utama didalam penggunaan sapuq bagi laki – laki.
“tetapi selama ini kita lihat justru pemakaian sapuk lebih kepada keindahan penggunaannya bukan maknanya hingga harapan kami ketika kita menggukan pakain adat seperti sapuk misalnya kita akan mempu mengendalikan pemikiran kita tetep berpegang pada prinsip – prinsip hidup ,dan kepada prinsip ketuhanan bahwa suatu hari nanti kita akan kembali ke Sang Pencipta”
Selanjutnya pada penggunaan kain panjang , kenapa orang sasak menggunaan kain panjang? Kain panjang itu sesungguhnya ada dua nilai yang terkandung dalam penggunaan kain panjang yang pertama adalah kain yang secara umum melingkar
dalam penggunaannya tidak boleh melewati betis atau mata kaki bahwa rasulullah, SAW .pun telah mengingatkan bahwa “orang – orang yang melewatkan kainnya melewati batas mati kaki maka merakalah orang – orang yang sombong dan takabbur”
Ahirnya orang sasak menggunaakan prinsip – prinsip ini dalam penggunakan pakaian adat termasuk penggunaan kain yang melingkar itu tidak boleh melewati mata kaki, dan ujung kain yang menjulur ketengah merupakan sebagai simbol peringatan untuk orang sasak bahwa sehebat apapun kita , setinggi apapun jabatan kita pada satu saat kita akan kembali pada asal kita yaitu tanah itulah yang diingatkan oleh pakaian kita sendiri hingga ketika kita berjalan kita akan mengingat kematian.
Selanjutnya dalam penggunaan dodot pada masyarakat sasak maknanya lebih dari hubungan sosial jadi orang sasak itu lebih mengedepankan hubungan pertikal dan hubungan horizontal , yaitu hubungan dengan tuhan dan hubungan dengan Manusia.
“Dodot ini harus berbentuk luntang kanan maknanya orang sasak harus menghormati siapa saja jadi kalau orang berkain adat bukan berarti merasa sombong justru berpakain adat itu kita akan menghargai siapa saja karna tujuan dari penggunaan dodot adalah menghormati orang lain makanya bentuknya seperti orang betabeq”
Kemuadian adanya namamya kampuh yaitu salah satu bagian dari dodot, kampuh ini keluar dari dalam dodot maknanya orang sasak itu selalu membuka hati dan melakukan segala aktifitas dengan hati
“Jadi orang sasak lebih mengedapankan hati dibandingkan napsunya”
Kita berharap pemerintah baik Pemprov, Pemda para pemuda mulai mendalami makna dari pakaian adat sasak jangan sampai kita menggunakan sesuatu tanpa kita famahami, mari kita perdalam pengetahuan budaya dan nilai – nilai luhur yang terkandung dalam budaya sasak dan semoga kita bisa mengaplikasikan nilai – nilai filopis yang terkandung didalamnya didalam kehidupan sehari – hari ( tamat)
Menulis : arul
Sumbuer : lalu malik Hidayat.S.Pd
















