LOMBOK TIMUR, Poroslombok – Program pemerintah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) dan Lombok Timur Berkembang menjadi rujukan pemerintah pusat dalam memberdayakan perekonomian masyarakat.
Sebagai Pilot Project, Kabupaten Lombok Timur dinilai berhasil dalam mengembangkan sistem ekonomi syariah tersebut.
Ketua Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Lombok Timur, Drs.HM. Juaini Taofik, MAp membeberkan bahwa program Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini dibangun untuk memberdayakan masyarakat agar terhindar dari rentenir.
“MES merupakan solusi bagi masyarakat untuk membangun sistem ekonomi yang sehat dan jauh dari sistem riba,” terang Drs. HM. Juaini Taofik yang juga Sekretaris Lotim itu kepada media ini, Selasa (29/8).
Dalam pelaksanaannya, program keuangan syariah ini bekerjasama dengan BUMD dengan melibatkan pengusaha daerah dan mengembangkan industri halal dan industri syariah. Bahkan, MES sudah bisa berkembang hingga ke luar negeri.
Juaini Taofik juga membeberkan alasan hingga program ini sebagai salah satu unggulan. Bahkan menjadi rujukan ditingkat nasional.
Kabupaten Lombok Timur dengan program ‘Lotim berkembang’ sebagai salah satu program unggulan disektor ekonomi telah mampu berbuat banyak bagi kepentingan masyarakat.
“Saat ini sudah mencapai sasaran dengan jumlah peternak sebanyak 1.774. Artinya, masyarakat yang menjadi peternak tidak lagi mengalami kesulitan untuk mendapatkan permodalan,” terang Juaini Taofik.
Untuk mempermudah akses pinjaman ke pihak perbankan, TPAKD Lotim bekerjasama dengan pihak perbankan melalui KUR, dimana Pemkab Lotim memberikan subsidi bunga hingga 6 persen.
Dengan subsidi bunga itu, tentunya peternak mempunyai akses di bank. Pinjaman yang diperolehnya dapat membeli bibit sapi.
“Selama ini para peternak kita selalu berhubungan dengan para rentenir dengan bunga yang tinggi. Dengan program Lotim berkembang masalah seperti tidak lagi terjadi,” jelas Juaini.
Demikian pula program ‘Mawar Emas’ yang telah dilaunching Gubernur NTB beberapa waktu lalu. Menurut Juaini Taofik, program ‘Melawan Rentenir Berbasis Masjid’ ini telah merubah pola ekonomi masyarakat menjadi lebih baik, terutama jamaah-jamaah dimasjid-masjid.
Untuk saat ini kata dia, jamaah yang menjadi bagian dari program tersebut berjumlah 680 jamaah dari 40 masjid yang ada di Lotim.
Diakuinya, jika program ini memberikan manfaat karena memperoleh bantuan permodalan antara Rp. 1 juta hingga Rp. 2 juta per nasabah.
Sistem lebih mudah lantaran cicilan pembayaran pinjaman dibayarkan pada saat digelar pengajian.
“Tahun 2021 ini akan ditingkatkan untuk 10 ribu jamaah masjid untuk menerima program mawar emas ini.
Jamaah ini merupakan subyek dari program ini.
Tujuan utama pemerintah bagaimana masyarakat yang bergerak di sektor riil ini mampu menjadi nasabah bank yang selama ini hanya menjadi milik pengusaha menengah ke atas,” paparnya.
Bahkan kata dia, jamaah yang menjadi bagian program ini tidak hanya memiliki rekening program Mawar Emas dan Lotim Berkembang, bahkan telah memilikk rekening pribadi masing-masing.
Kenyataan ini mencerminkan bahwa perekonomian masyarakat Lotim sudah menggeliat.
Senada yang diungkapkan Sekretaris TPAKD Lotim, DR. Muhammad Ali, M.Si bahwa pola kerjasama yang dibangun Pemkab Lotim dengan BI, OJK, TPAKD Provinsi NTB bisa memberikan dampak positif bagi sektor riil di NTB.
Dengan memberikan pinjaman tanpa bunga kepada kelompok usaha pelaku UKM khususnya perempuan, terutama yang menjadi jamaah masjid, justru dapat meningkatkan taraf hidup mereka.
“Ada peluang pengembangan usaha di Lotim. Tahun 2020 peluang ini relatif cukup sukses memberikan manfaat kepada masyarakat pelaku usaha. Tidak hanya bisa berinfaq tapi juga sudah bisa menabung,” tambah Ali.
Terpenting lagi kata dia, masyarakat sudah bisa mengurangi ketergantungannya kepada rentenir terutama bank-bank subuh atau bank rontok.
Lebih jauh dikatakannya, kesuksesan program Mawar Emas ini ternyata dibidik oleh Pemkab Lotim dalam program Lotim Berkembang.
Bahkan, Pemkab Lotim telah mengalokasikan anggaran antara Rp. 500 juta hingga Rp. 1 miliar.
“Platnya dibagi yang tadinya untuk kelompok peternak. Sekarang digunakan untuk subsidi bunga. Kalau dengan Rp. 1 miliar lalu bunga 10 persen saja bisa mencapai 10 ribu jamaah,” jelas Ali mengkalkulasikan nilai manfaatnya.
Indikator keberhasilan dalam program ini, adanya proses interaksi dan transaksi antara nasabah dan pihak bank.
Sejatinya, tujuan utama TPAKD ini terjadinya akses pinjaman di lembaga perbankan yang dilakukan masyarakat. Disamping mempermudah masyarakat mendapatkan akses pelayanan peminjaman.
“Ini salah satu upaya kita melakukan mengintervensi. Sehingga hadirnya MES dan Lotim Berkembang dapat memberikan subsidi bunga kepada mereka,” jelas Ali.
Target untuk 10 ribu jamaah ini bisa dipetakan. Mulai dari usahanya, profil pelaku usaha, komoditas yang bisa dijual.
Dengan menjalin kemitraan bersama BI, OJK dan lembaga perbankan lainnya, pemkab Lotim mendorong adanya proses pendampingan. Maksudnya, masyarakat ekonomi menengah ke bawah ini bisa naik kelas.
Untuk Lotim berkembang ditargetkan hingga 10 ribu. Target tersebut ditopang dengan ketersediaan dana yang sudah siapkan pemerintah.
Menjawab potensi terjadi kredit macet, M. Ali mengakui jika kasus itu hanya kecil. Kegagalan itu bukan karena faktor nasabah melainkan karena sebab lainnya.
“Kredit macetnya hanya Rp. 20 juta. Dan itu tergolong sangat kecil dibanding yang sukses,” jawabnya. (*)

















