Lombok Timur. Poroslombok – Desa Kumbang kecamatan Masbagik cukup peduli dengan publikasi sosialisasi dan juga informasi terkait dengan pembangunan desa dan hal-hal yang tentunya cukup di butuhkan oleh masyarakat. Publikasi tersebut dilakukan melalui media sosial, baik melalui facebook, instagram dan juga web desa.
Di samping melalui media sosial tersebut, desa Kumbang juga memiliki radio dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat, radio tersebut di kenal dengan nama Kumbang Media Center (KMC). Radio KMC tersebut dikelola oleh pengelola perpustakaan desa sebagai salah satu kegiatan yang ada di perpustakaan.
Radio KMC ini merupakan media netral yang efektif beroperasi pada akhir tahun 2020 yang intens menyiarkan berita-berita pedesaan khususnya berita desa Kumbang.
“Dinamakan radio Kumbang Media Center, karena semua pusat-pusat informasi itu terpusat disni, cuman mungkin lebih mendominasi kegiatan penyiarannya” terang Dedi Sutrisno selaku kepala perpustakaan dan KMC.
Dijelaskannya Perpustakaan bukan hanya tempat membaca dan meminjam buku, akan tetapi pada zaman modern perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan masyarakat dalam segala hal baik itu informasi, pembelajaran dan kegiatan lainnya.
“Saya usul ke pak kades bagaimana kalau pemerintah desa khususnya yang di perpustakaan nanti kita kasi kesempatan bersiaran selama 4 jam, kebetulan pagi sampai siang itu tenaga penyiarnya berhalangan, jadi kita itu dari jam 08:00 WITA – 12:00 wita khusus siaran pedesaan entah itu menyiarkan tentang sosialisasi program desa, atau semua yang terkait dengan pembangunan pedesaan” jelasnya.
Dengan adanya radio tersebut lanjut Dedi, tentunya ada dukungan dari masyarakat setempat yang mengapresiasi beroperasinya radio KMC, terlebih bisa dikatakan di NTB hanya desa Kumbang yang memiliki radio, sehingga masyarakat menganggap ini adalah sebuah terobosan dan inovasi yang yang perlu dijaga dan ditingkatkan.
“Sebagai media radio, sebagai penyampai informasi disini juga ada nilai-nilai entertaintnya, ada nilai estetikanya, ada nilai edukasinya, sebagai sosialisasi dan publikasi ke masyarakat” tutup Dedi.















