Wellness Tourism: Strategi NTB Membangun Pariwisata Berkualitas

Pemprov NTB menggeser fokus pariwisata dari sekadar jumlah kunjungan ke wellness tourism. Strategi ini mengintegrasikan alam, budaya, dan sport tourism untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Oleh: Dr. H. Ahsanul Khalik – Kadis Kominfotik NTB/Juru Bicara Pemprov NTB_

PorosLombok.com – Pariwisata Nusa Tenggara Barat (NTB) sedang berada pada momentum yang sangat baik. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB menunjukkan bahwa pada Mei 2026 jumlah perjalanan wisatawan nusantara mencapai 1.332.393 perjalanan, meningkat 10,49 persen dibandingkan April 2026 dan tumbuh 13,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Mei 2026 jumlah perjalanan wisatawan nusantara telah mencapai 6.161.011 perjalanan. Sementara itu, tingkat penghunian kamar hotel berbintang mencapai 41,07 persen, dengan rata-rata lama menginap 1,86 hari.

 

Data tersebut memberikan dua pesan penting. Pertama, fondasi pariwisata NTB semakin kuat. Kedua, masih terbuka ruang yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas kunjungan wisatawan sehingga manfaat ekonominya semakin dirasakan masyarakat.

 

Bagi Pemerintah Provinsi NTB, keberhasilan pembangunan pariwisata tidak cukup diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan atau tingginya tingkat hunian hotel. Tantangan berikutnya adalah bagaimana membuat wisatawan tinggal lebih lama, menikmati lebih banyak pengalaman, membelanjakan lebih banyak produk lokal, dan pada akhirnya meninggalkan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

 

Di sinilah arah baru pembangunan pariwisata NTB dimulai. Perubahan tersebut juga sejalan dengan perkembangan dunia. Laporan Global Wellness Institute menunjukkan bahwa Industri wellness economy (ekonomi kebugaran) dunia tumbuh hingga US$6,8 triliun pada 2024, diproyeksikan mencapai sekitar US$9,8 triliun pada 2029 dan akan terus berkembang. Masyarakat dunia tidak lagi sekadar mencari destinasi yang indah, tetapi mencari perjalanan yang mampu meningkatkan kesehatan, ketenangan, keseimbangan hidup, dan kualitas diri.

 

Perubahan perilaku wisatawan inilah yang dibaca oleh Pemerintah Provinsi NTB sebagai sebuah peluang strategis.

 

Karena itu, di bawah kepemimpinan Gubernur, Lalu Muhamad Iqbal dan Wakil Gubernur Indah Dhamayanti Putri pengembangan wellness tourism ditempatkan sebagai salah satu strategi untuk mewujudkan Triple Agenda Pemerintah Provinsi NTB, khususnya Pariwisata Berkelanjutan.

 

Strategi ini bukan sekadar mengembangkan jenis wisata baru, melainkan membangun paradigma bahwa pariwisata harus menjadi penggerak kesejahteraan masyarakat, pelestarian lingkungan, penguatan budaya, dan peningkatan kualitas hidup.

 

Pariwisata berkualitas bukanlah tentang berapa banyak orang yang datang, tetapi berapa besar manfaat yang tinggal.

 

Kalimat sederhana ini menjadi filosofi yang mendasari arah baru pembangunan pariwisata NTB.

 

Inilah saatnya NTB merangkai potensi menjadi strategi.

 

Lombok dan Sumbawa sesungguhnya tidak memulai dari titik nol.

 

Provinsi ini dianugerahi bentang alam yang luar biasa, mulai dari Gunung Rinjani, Geopark Rinjani, Gunung Tambora, Pulau Moyo, Teluk Saleh, Pulau Satonda, hingga kawasan Mandalika yang telah dikenal dunia. Seluruhnya menghadirkan pengalaman yang semakin dicari wisatawan modern: alam yang masih terjaga, udara yang bersih, laut yang sehat, dan ruang untuk memulihkan diri dari hiruk-pikuk kehidupan.

 

Keunggulan tersebut diperkaya oleh budaya masyarakat Sasak, Samawa, Dompu dan Mbojo yang tetap menjaga harmoni dengan alam, nilai-nilai religius, keramahan, serta semangat gotong royong.

 

Di sisi lain, NTB juga memiliki kekayaan pangan lokal yang menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat, mulai dari madu Sumbawa, kopi NTB, kelor, rempah-rempah, hasil pertanian organik, hingga hasil perikanan yang berkualitas.

 

Tidak banyak daerah yang memiliki perpaduan antara gunung, laut, geopark, budaya, masyarakat yang ramah, pangan sehat, serta kalender kegiatan olahraga dan wisata yang berkembang secara bersamaan.

 

Yang dilakukan Pemerintah Provinsi NTB bukan menciptakan potensi baru.

 

Yang dilakukan adalah merangkai seluruh potensi tersebut menjadi satu strategi pembangunan yang utuh.

 

Dengan modal kekuatan dari sport tourism, NTB bergerak menuju wellness tourism. Strategi ini sesungguhnya telah dimulai melalui keberhasilan NTB mengembangkan sport tourism.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, budaya hidup sehat berkembang sangat pesat di tengah masyarakat. Komunitas lari, bersepeda, mendaki gunung, yoga, selancar, hingga berbagai aktivitas kebugaran tumbuh di hampir seluruh kabupaten dan kota.

 

Hampir setiap akhir pekan masyarakat mengikuti berbagai kegiatan fun run (lari santai), road race (lomba lari di jalan raya) maupun trail running (lari lintas alam) yang melibatkan ratusan hingga ribuan peserta dari berbagai kelompok usia.

 

Perkembangan tersebut diperkuat oleh berbagai agenda nasional dan internasional.

 

Rinjani 100 Ultra 2026 menghadirkan 2.275 pelari, terdiri atas 1.375 peserta Indonesia dan 900 peserta internasional dari 38 negara.

 

Sementara itu, Pocari Sweat Run Lombok 2026 kembali membuktikan bahwa Mandalika mampu menjadi tuan rumah ajang lari nasional berskala besar dengan sekitar 9.200 peserta dan pendamping yang menggerakkan hotel, restoran, transportasi, penerbangan, UMKM, dan berbagai sektor ekonomi lainnya.

 

Wakil Menteri Pariwisata menyebut penyelenggaraan event seperti Pocari Sweat Run memberikan multiplier effect (efek berganda) yang nyata terhadap sektor pariwisata dan ekonomi daerah. Senada dengan itu, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga menegaskan bahwa manfaatnya tidak hanya dirasakan dunia olahraga, tetapi juga oleh hotel, restoran, penerbangan, UMKM, dan masyarakat luas.

 

Karena itu, bagi Pemerintah Provinsi NTB, sport tourism bukanlah tujuan akhir.

 

Sport tourism menggerakkan orang datang ke NTB. Wellness tourism membuat mereka tinggal lebih lama, kembali lagi, dan membawa pulang pengalaman hidup yang bermakna.

 

Karenanya wellness tourism sebagai strategi pembangunan daerah. Di sinilah letak perbedaan cara pandang Pemerintah Provinsi NTB.

 

Wellness tourism tidak diposisikan sebagai produk wisata baru, melainkan sebagai instrumen pembangunan daerah, di mana sport tourism telah berhasil membawa wisatawan datang ke NTB, sehingga langkah berikutnya adalah membangun pengalaman yang lebih utuh agar mereka tinggal lebih lama, datang kembali, dan meninggalkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

 

Strategi ini dibangun melalui keterhubungan berbagai sektor pembangunan.

 

Pariwisata dihubungkan dengan kesehatan melalui pengembangan gaya hidup sehat, olahraga, yoga, meditasi, spa berbasis rempah Nusantara, hingga aktivitas berbasis alam yang memberikan manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.

 

Pariwisata dihubungkan dengan pertanian melalui peningkatan permintaan terhadap pangan sehat, produk organik, madu Sumbawa, kopi NTB, kelor, buah-buahan tropis, rempah-rempah, dan berbagai komoditas lokal yang menjadi bagian dari pengalaman wisata.

 

Pariwisata dihubungkan dengan sektor kelautan melalui hasil perikanan berkualitas, wisata bahari, konservasi laut, serta pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan.

 

Pariwisata dihubungkan dengan desa melalui penguatan desa wisata, homestay, atraksi budaya, ekonomi kreatif, serta keterlibatan langsung masyarakat sebagai pelaku utama.

 

Pada saat yang sama, pelestarian hutan, pantai, laut, sumber mata air, dan budaya lokal menjadi fondasi utama. Sebab, tidak mungkin menghadirkan pengalaman wellness tourism tanpa alam yang lestari dan masyarakat yang tetap menjaga jati dirinya.

 

Inilah makna sesungguhnya dari pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu Triple Agenda Pemerintah Provinsi NTB.

 

Pada akhirnya suatu saat kita akan melahirkan, apa yang disebut dengan dari pertumbuhan menuju kesejahteraan, di mana Pemerintah Provinsi NTB meyakini bahwa keberhasilan pembangunan pariwisata tidak boleh berhenti pada pertumbuhan angka kunjungan wisatawan.

 

Pertumbuhan harus diterjemahkan menjadi kesejahteraan.

 

Setiap wisatawan yang datang untuk mengikuti Pocari Sweat Run, Rinjani 100 Ultra, MotoGP Mandalika, dan berbagai event lainnya, akan juga menikmati yoga di tepi pantai, mendaki Gunung Rinjani, menyelam di Teluk Saleh, atau berlibur di Pulau Moyo, dan dipastikan menggunakan transportasi lokal, menginap di hotel maupun homestay, menikmati kuliner khas daerah, membeli hasil pertanian dan perikanan lokal, serta memanfaatkan berbagai jasa masyarakat.

 

Artinya, manfaat ekonomi mengalir kepada petani, nelayan, peternak, pelaku UMKM, pemandu wisata, pengemudi transportasi, perajin, seniman, hingga generasi muda yang membangun usaha kreatif.

 

Semakin panjang rantai ekonomi lokal yang terlibat, semakin besar nilai tambah yang tinggal di daerah.

 

Di sinilah wellness tourism menjadi bagian penting dalam upaya pengurangan kemiskinan.

 

Pada saat yang sama, meningkatnya permintaan terhadap pangan sehat akan memperkuat pasar bagi hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal. Kondisi ini akan mendorong peningkatan produksi, meningkatkan pendapatan petani dan nelayan, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.

 

Karena itu, wellness tourism tidak hanya berbicara tentang pariwisata.

 

Ia berbicara tentang kesehatan. Ia berbicara tentang pertanian. Ia berbicara tentang kelautan. Ia berbicara tentang desa. Ia berbicara tentang budaya. Ia berbicara tentang lingkungan. Dan pada akhirnya, ia berbicara tentang kesejahteraan masyarakat.

 

Akhirnya NTB melahirkan paradigma baru dalam menggerakkan pariwisata daerah, dengan memahami bahwa sesungguhnya manusia selalu mencari tiga hal dalam hidupnya: kesehatan, ketenangan, dan kebahagiaan, di mana Lombok dan Sumbawa memiliki ruang untuk menghadirkan ketiganya.

 

Di masa lalu, orang datang ke Lombok untuk melihat Gunung Rinjani. Hari ini, mereka datang ke Rinjani bukan hanya untuk mencapai puncaknya, tetapi juga untuk mengenal dirinya sendiri.

 

Demikian pula arah baru pembangunan pariwisata NTB, di mana Pemerintah Provinsi NTB tidak sedang membangun destinasi wisata baru.

 

Yang sedang dibangun adalah paradigma baru pembangunan daerah.

 

Paradigma yang menempatkan pariwisata sebagai penggerak kesejahteraan masyarakat, pelestarian alam, penguatan budaya, dan peningkatan kualitas hidup.

 

Karena pada akhirnya, pariwisata berkualitas bukanlah tentang berapa banyak orang yang datang, tetapi berapa besar manfaat yang tinggal.

 

Dan karena itu pula, wellness tourism bukan sekadar menjual tempat. Wellness tourism menghadirkan kualitas hidup.

 

Ketika dunia mencari kesehatan, NTB memiliki alam yang terjaga.

 

Ketika dunia mencari ketenangan, NTB memiliki budaya yang hidup.

 

Ketika dunia mencari pengalaman yang autentik, NTB memiliki masyarakat yang ramah dan tradisi yang tetap lestari.

 

Dan ketika dunia mencari masa depan pariwisata yang berkelanjutan, NTB memilih membangunnya melalui kesejahteraan masyarakat.

 

Jika dahulu dunia mengenal Lombok dan Sumbawa karena keindahan alamnya, maka di masa depan dunia akan mengenal NTB karena kemampuannya menghadirkan kesehatan, ketenangan, dan kesejahteraan dalam satu pengalaman wisata yang utuh. Itulah hakikat strategi NTB membangun pariwisata berkualitas.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU