SMAN 1 Terara Membantah Tegas Isu Pungutan Liar PPDB

SMAN 1 Terara membantah tegas isu pungutan liar PPDB 2026/2027. Sekolah memastikan penambahan 80 siswa dilakukan transparan melalui koordinasi tokoh masyarakat demi menjaga keadilan zonasi.

PorosLombok.com – Pihak SMAN 1 Terara memastikan seluruh kabar mengenai praktik jual beli bangku atau pungutan liar dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026/2027 adalah informasi yang tidak benar atau hoaks, Senin (13/7/2026).

“Kita tidak tahu datangnya dari mana, justru kami tahu dari media yang menerbitkan kemarin kemudian berita itu dikirimkan ke kami,” ujar Kepala SMAN 1 Terara, Halid.S.Pd

Manajemen sekolah mengaku kaget saat mengetahui adanya tuduhan miring yang beredar di tengah masyarakat luas. Sekolah memastikan bahwa seluruh proses penerimaan siswa dilakukan secara transparan dan sesuai dengan mekanisme yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan.

“Siswa yang diterima belakangan merupakan kuota tambahan yang diberikan Dinas Pendidikan yakni sebanyak dua rombongan belajar atau sekitar 80 orang,” katanya.

Penambahan kapasitas kelas ini bertujuan untuk menampung lonjakan pendaftar yang sangat tinggi di wilayah tersebut. Penentuan siswa yang lolos seleksi dilakukan melalui pembagian yang proporsional dari berbagai desa sekitar sekolah agar tetap memenuhi prinsip keadilan.

“Kita hubungi tokoh masyarakat dan kepala desa di masing-masing wilayah untuk menyerahkan nama-nama calon siswa kepada sekolah,” jelasnya.

Pihak sekolah sengaja melibatkan tokoh setempat sebagai bentuk tanggung jawab sosial sekaligus upaya pencegahan kecurangan. Dengan adanya pelibatan masyarakat, diharapkan tidak ada pihak yang merasa dirugikan dalam penentuan kuota tambahan sebanyak 80 peserta didik tersebut.

“Terdapat 147 calon siswa yang tidak lolos sebelumnya karena keterbatasan daya tampung sekolah,” katanya.

Setelah proses verifikasi kuota tambahan selesai, masih terdapat sekitar 67 siswa yang belum tertampung dan diarahkan untuk mencari sekolah lain. Pihak sekolah menegaskan bahwa pembagian kuota tidak terpusat di satu desa demi menjaga prinsip keadilan zonasi bagi semua calon murid.

“Kalau terfokus di satu desa nanti kita dibilang tidak adil karena mereka semua masuk zonasi yang sama,” ujarnya.

Kepala sekolah menyayangkan adanya pihak yang menyebarkan isu tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu ke pihak lembaga pendidikan. Pihak sekolah mengklaim selalu terbuka terhadap informasi atau keluhan masyarakat mengenai proses penerimaan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Seharusnya informasi seperti itu dikonfirmasi terlebih dahulu ke sekolah, benar atau tidak,” katanya.

Data menunjukkan bahwa kuota reguler SMAN 1 Terara awalnya berjumlah 480 siswa dan kini meningkat menjadi 560 murid. Penambahan kapasitas tersebut telah melalui persetujuan resmi dari dinas terkait untuk memastikan standar kegiatan belajar mengajar tetap terjaga dengan baik.

“Hoaks itu tidak ada sama sekali dan silakan saja kalau ada yang punya bukti,” jelasnya.

Pihak sekolah menantang siapapun untuk menunjukkan bukti sah jika memang merasa ada penarikan dana yang tidak resmi. Mereka memastikan bahwa tidak ada instruksi dari pihak manapun di lingkungan sekolah untuk melakukan penarikan dana di luar ketentuan yang berlaku.

“Mungkin kalau ada yang bermain di bawah kita tidak tahu, tetapi kalau sekolah, tidak pernah ada penarikan dana,” Pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU