Eksistensi “Ambon Jenggik” Ditengah Terpaan Pandemi Covid-19

Lombok Timur. Poroslombok.com –

Desa Jenggik, Kecamatan Terara, Kabupaten Lombok Timur sejak dulu dikenal dengan dagangan khasnya, yakni Ubi atau lebih dikenal Ambon Jenggik.

Bagi yang sering berkendara melewati jalan raya Jenggik pasti tidak asing dengan pemandangan pedagang ubi yang lapaknya berjajar sepanjang jalan di timur perbatasan Lombok Tengah dan Lombok Timur itu.

Ubi jenggik ini ternyata laris manis terjual karena cita rasanya yang gurih dan manis. Menurut penuturan warga setempat, bahwa penanaman Ubi Jenggik ini tidak memakai pupuk dan pestisida. Artinya betul – betul alami tanpa ada zat kimia dalam penanamannya dan perawatannya.

Sejak tahun 1990-an, masyarakat Jenggik sudah mulai berjualan ubi di pinggir jalan raya Jenggik. Awal mulanya hanya ada dua pedagang yang berjualan di dipinggir jalan raya Jenggik.

Akan tetapi seiring berjalan waktu, melihat ramainya peminat yang membeli ubi Jenggik ini, sehingga lapak – lapak penjual ubi semakin bertambah. Bahkan sampai saat ini puluhan lebih lapak penjual ubi berjejer di sepanjang jalan raya Desa Jenggik.

Akan Tetapi, semenjak musim Pandemi Covid-19, pedagang ubi ini juga ikut merasakan dampak dari covid-19 yang sampai saat ini masih melanda seluruh belahan dunia.

“Semenjak Covid-19 melanda, pembeli ubi menjadi sepi terutama ketika waktu diberlakukannya lockdown dan pembatasan aktivitas masyarakat” tutur Sri Wahyuni salah seorang pedagang ubi di Jenggik saat ditemui Jum’at (25/2).

Sri Wahyuni atau akrab disapa Yul menjelaskan penghasilannya berjualan turun drastis semenjak covid-19 melanda. Sebelum masa pandemi, ia memperoleh omset jualan sekitar 500 ribu sampai 1 juta perharinya.

“Semenjak musim korona paling kita dapat jualan hanya 50 rbu, tapi sekarang ini sudah mulai ada peningkatan sedikit hasil jualan kita” pungkasnya.

Diceritakan Yul, sebelum musim pandemi Covid-19 barang (ubi) yang disiapkan sampai 5 ton, akan tetapi sekarang ia hanya berani stok barang (ubi) hanya sekitar 1 – 2 kwintal saja. Ia memastikan ubi yang dijualnya merupakan ubi asli dari Jenggik yang di tanam tanpa pupuk dan pestisida.

“Kalau dulu barang yang kita stok itu sampai 2 ton bahkan sampai 5 ton, tapi sekarang kita tidak berani stok banyak” tuturnya.

Tak hanya menjual ubi mentah, Yul juga membuat kripik ubi yang mana sebelum covid-19 ia sering mengirim kripik hasil buatannya ke Jakarta.

“Pada tahun 2018 kripik ubi yang saya buat ini sering saya kirim ke Jakarta karena ada pelanggan di sana” ucap Yul.

Ia berharap semoga Covid-19 ini cepat berlalu dan usaha jual ubi yang digelutinya semakin lancar. Selain itu ia juga berharap kepada pemerintah agar diberi sumbangan atau bantuan untuk menambah modal jualannya.
(Erwin, PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU