LOTIM – PorosLombok.com | Warga Dusun Bangle, Desa Pesanggrahan, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur belakangan ini dirundung cemas, menyusul kemunculan kembali kawanan monyet ke permukiman penduduk.
Melansir kicknews.today, kawanan monyet tersebut tidak hanya masuk ke perkampungan, namun juga menyerang beberapa warga desa setempat.
Dikabarkan, monyet jenis pitu berwarna hitam tersebut sudah beberapa kali masuk pemukiman dan menyerang warga. Sebelum kejadian pada Jum’at (10/3) sekitar pukul 10.00 wita kemarin, kejadian serupa juga pernah terjadi pada Februari 2023.
Menanggapi kejadian itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Kabid Keswan) Drh. Hultatang memberikan pandangan sesuai disiplin ilmu yang dimilikinya. Salah satunya bisa bikin hati bergidik.
Kata dia, penyerangan dilakukan oleh hewan bisa disebabkan karena beberapa hal:
1. Terprovokasi. Jadi hewan merasa marah kalau daerah kekuasaannya diganggu apalagi dalam keadaan melindungi diri, kawanannya.
2.kelaparan. Hewan kalau lapar maka akan mencari sumber makanan.
3. Adanya penyakit yang membuat hewan cenderung galak.
“Penyakit apakah itu pak dokter?,” tanya akun @Fais, merespon penjelasan Hultatang dalam sebuah percakapan di WA grup Info Lotim pada Jum’at malam (10/3/23).
Beberapa anggota grup juga ikut menimpali, mereka ada yang menyatakan perasaan ngeri, sembari berharap agar keberadaan kawanan monyet yang menyerang warga segera diatasi oleh instansi terkait.
“Untuk penyakit perlu investigasi dan pemeriksaan laboraturium, yang berpotensi untuk monyet ada penyakit rabies tapi biasanya lebih dominan anjing dan kucing,” jawab Hultatang.
“Untuk pulau lombok kita masih bebas rabies sampai saat ini,” imbuhnya menepis kekhawatiran banyak orang.
Masih kata dia, banyak kejadian hewan masuk kampung karena lapar tidak ada sumber makanan, dan ini akan menjadi masalah. Solusinya, perlu dibuatkan penangkaran khusus dan makanab tersedia, tentu perlu dana.
Menurut pria yang karib dipanggil Tatang itu, bahwa terkait penanganan binatang liar, pihaknya bekerjasama dengan balai konservasi hutan, desa, keamanan dan lain-lain.
Hal yang sedikit mengkhawatirkan juga disampaikan Hultatang, karena untuk rabies kondisi kita sangat terancam, dimana pulau bali rabies dan pulau sumbawa rabies. Artinya, pulau lombok diapit oleh dua pulau yang terpapar rabies.
Musabab itu Hultatang mengingatkan, perlunya edukasi kepada semua masyarakat di pulau lombok dan khususnya lombok timur. Termasuk larangan melalulintaskan hewan penular rabies dari daerah tertular ke daerah bebas.
“Kalo kita sudah tertular rabies, maka tidak ada ampun karena rabies bersifat zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia ataupun sebaliknya), dan menimbulkan banyak korban,” katanya mengingatkan.
Maka dari itu, ia memandang perlu untuk disuarakan (sosialisasi-red) melalui media untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
Ia menerangkan, jika hewan terkena rabies maka hewan mengalami satu fase dari beberapa fase, yaitu fase menggigit, setelah melalui fase itu hewan akan mengalami paralisa/lumpuh dan akhirnya mati.
Jika manusia melalui fase seperti fase tersebut? Tentu tak dapat dibayangkan dampak buruk yang akan terjadi. Untuk mencegah hal itu terjadi, maka hewan dan manusia harus divaksin.
“Untuk pencegahan hewan dan manusia harus divaksin, untuk SOP manusia yang digigit harus segera divaksin,” tandasnya.
(PL-anas)















