Ihwal Dugaan Persetubuhan Secara Paksa, Terduga Berikan Klarifikasi, Begini Penjelasannya

LOTIM – PorosLombok.com || Terduga pelaku (SA) dan keluarganya merasa keberatan atas pernyataan korban yang dimuat media ini pada Ahad (16/6) kemarin, lantaran apa yang diceritakan S tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.

Untuk itu, SA merasa perlu untuk memberikan klarifikasi agar informasi yang berkembang di publik tidak menjadi bias dan tidak menjustifikasi sesuatu yang belum jelas kebenarannya.

“Jadi apa yang disampaikan S ke media itu tidak benar. Demi Allah saya tidak pernah memaksa, malah dia yang bukain saya,” beber SA kepada media ini, Minggu (16/6/2024) malam.

Dia kemudian menceritakan awal mula ia berkenalan dengan S. Awalnya SA diceritakan oleh seorang temannya berinisial A bahwa si S bisa dipakai, dalam tanda kutip.

Mendengar itu, jiwa kelelakian SA mulai tertantang. Ia kemudian berkenalan dengan S melalui Tik Tok. Dari sana mereka mulai saling berkomunikasi sebagaimana layaknya muda mudi.

Suatu ketika (sebelum kejadian) S meminta kepada SA untuk dicarikan seorang om-om agar dia bisa membayar uang SPP. Dari sana SA semakin yakin bahwa S adalah wanita yang bisa dipakai.

Singkat cerita, pada akhir November SA menjemput S di tempat ia bekerja. Dari sini pengakuan keduanya mulai berbeda, karena justru SA mengaku waktunya setelah magrib, bukan sore hari.

“Waktu itu saya jemput dia setelah magrib, dan langsung saya bawa begitu saja. Tidak ada embel-embel saya mau beli ini itu. Jadi tidak benar apa yang dia ceritakan itu,” ujarnya.

Ia melanjutkan, setelah kejadian itu SA kembali bertemu dengan temannya A yang kemudian membuat pengakuan bahwa dia sudah memakai (menyetubuhi-red) si S lebih duluan.

Sekian bulan berlalu, S tiba-tiba datang mencari SA bersama Kadus, pengacara, dan keluarganya untuk meminta pertanggungjawaban dengan cara menikahinya karena mengaku dirinya sudah hamil 6 bulan.

“Yang ndak masuk akal sekali, kenapa dia nyari pas 6 bulan, kenapa dia ndak nyari pas dia tau dirinya hamil padahal dia tau rumah saya. Pas ditanya kapan haid terakhir? Dia jawab 27 Desember, dia kira dirinya saya bawa Desember padahal saya masih ingat betul itu tanggal 30 November saya bawa dia habis magrib. Sumpah demi apapun,” yakin SA.

Orang tua SA yang ikut hadir pada pertemuan malam itu ikut angkat bicara. Dia merasa perlu ikut memberikan keterangan Ikhwal kejadian dan isi pembicaraan malam itu.

“Malam itu sekitar jam 11 malam saya ditelpon agar datang ke rumah yang di Tanjung. Sampai di sana sudah ramai. Lalu saya tanya, ada apa ini? Nah diceritakanlah saya begini-begini” tutur ibu tiri SA ikut menimpali.

Mendengar pengakuan dan permintaan S, keluarga SA tentu tidak bisa langsung menerima begitu saja. Mereka justru menanyakan hubungannya dengan pelaku lain yang menyetubuhinya terlebih dahulu, yaitu A.

“Kami bilang, bagaimana dia (SA) mau bertanggungjawab, kan bukan dia sendirian, bukankah si A yang duluan. Tapi tetap saja dia minta kawin malam itu juga. Ya kami ndak bisa menerima begitu saja,” imbuh ibu SA.

Bukannya mau lepas tanggungjawab, dia (ibu SA) meminta pembuktian untuk dilakukan USG ke dokter agar ada kejelasan apakah benar SA sedang hamil, dan sudah berapa bulan sekaligus untuk bisa mendengarkan secara langsung penjelasan dari dokter.

“Malam itu di depan keluarganya dan Kadusnya saya bilang, besok sudah kita sama-sama pergi ke dokter Dewa untuk USG supaya kita bisa mendengarkan penjelasan dokternya,” kata ibu SA berkisah.

Namun rupanya S pergi sendiri ke dokter Hingga tanpa mengajak keluarga SA. Dia (S) kemudian datang kembali pada malam kedua dengan membawa hasil USG dari dokter. Padahal sebelumnya keluarga SA meminta untuk bersama-sama pergi ke dokter.

“Padahal sudah saya chat juga. Saya bilang gini, ayo kalo kamu perlu apa-apa datangi kami di rumah Labuan Haji karna yang bertanggungjawab itu bapaknya, bukan ibunya (ibu kandung SA-red). Sudah kurang baik apa lagi kami ayok. Tapi dia bilang dia ndak dikasi keluar sama keluarga, itu aja alasannya,” imbuh ibu tiri SA.

Cerita berlanjut, keluarga SA tetap menolak untuk dilakukan pernikahan karena merasa ada sesuatu yang janggal. Atas saran keluarga, SA kemudian mencari temannya yang terlebih dahulu bahkan dua kali menyetubuhi S setelah mens terakhir.

“Nah saya bilang gini sama teman itu, ayo side (anda-red) yang nikahi dia. Terus dia bilang, ya dah tapi kasi saya uang 3 juta. Dan itu saya sampaikan kepada S, tapi tetap dia ngotot agar saya yang menikahi dia,” sambung SA kembali.

“Bahkan dia bilang, ayo dah saya hanya butuh pengakuannya saja, biar kita nikah hanya satu malam terus saya yang pergi dari sini. Lah saya ndak mau begitu, saya maunya nikah yang serius tapi bukan begini caranya,” sambung SA lagi.

Tak ada kejelasan, S kemudian melaporkan SA ke kantor Satpol PP agar dia dipecat. Menindak lanjuti laporan itu, SA kemudian di-BAP oleh atasannya untuk mendengar penjelasan langsung dari yang bersangkutan.

“Malah di kantor, laporannya seolah-olah terjadi penggerebekan karna kita dipergoki warga. Setelah saya jelaskan yang sebenarnya, terus pimpinan bilang, silahkan diselesaikan di luar karna ini sifatnya privasi,” tandasnya.

Untuk itu, SA dan keluarganya siap untuk bertemu dan dikonfrontir secara langsung dengan pihak S dan keluarganya.

(Anas/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU