(Lombok Timur, PorosLombok.com) Sungai di desa Loyok, Kecamatan Sikur, Lombok Timur, kini terjebak dalam kondisi mengenaskan. Airnya yang dulunya jernih kini tampak keruh dan berlumpur, akibat pencemaran limbah batu apung.
Pemandangan ini tidak hanya merusak estetika alam, tetapi juga mengubah ekosistem dan kehidupan masyarakat sekitar. Keadaan ini sudah berlangsung selama puluhan tahun, mengubah sungai yang dulu menyegarkan menjadi tempat yang kotor dan tidak layak huni.
Ikan-ikan yang dulu berenang ceria di aliran air yang bersih kini tidak lagi terlihat. Kehilangan spesies ini bukan hanya dampak lingkungan, tetapi juga kehilangan sumber daya yang penting bagi masyarakat lokal.
Anak-anak yang dulu senang bermain dan mandi di sungai kini hanya bisa mengenang masa lalu dengan rasa kehilangan yang mendalam. Setiap sudut sungai kini menyimpan cerita pilu tentang kehancuran yang disebabkan oleh tangan-tangan serakah.
Kehilangan yang dialami oleh masyarakat desa Loyok sangat menyentuh hati. Mereka melihat dengan putus asa saat sungai yang mereka cintai, tempat mereka menghabiskan banyak waktu berharga, berubah menjadi tempat yang penuh kotoran dan polusi. “Yang paling menyedihkan bagi kami adalah ketika musim hujan tiba. Kami harus menghadapi banjir yang meluap, akibat sungai yang semula dalam kini dangkal, hanya sebatas mata kaki,” kata Lalu Arya, salah satu tokoh pemuda desa Loyok, dengan nada penuh kesedihan.
Lalu Arya, yang tinggal di bantaran sungai desa Loyok, menceritakan bagaimana sungai ini dulu merupakan bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka. Selama musim kemarau, sungai ini tidak hanya menjadi tempat mandi dan irigasi, tetapi juga pusat kegiatan sosial. Keluarga dan teman-teman sering berkumpul di tepi sungai, menikmati waktu bersama di bawah sinar matahari. Kini, kenangan indah itu hanya bisa dirasakan dalam ingatan.
Menurut Lalu Arya, kerusakan sungai ini adalah hasil dari penambangan galian C yang tidak terkendali. “Sungai yang dulunya mempesona kini hanya menyisakan kekecewaan. Aktivitas penambangan yang tidak bertanggung jawab telah merusak ekosistem dan mengubah kehidupan kami,” jelasnya dengan nada penuh frustrasi. Warga merasa tidak berdaya dan bingung mencari solusi, sementara pihak-pihak yang bertanggung jawab saling lempar tanggung jawab tanpa tindakan konkret.
Sungai yang dulu memiliki kedalaman sekitar 10 meter kini hanya menyisakan kedalaman sepinggang, sebuah perubahan drastis yang mengancam kehidupan masyarakat. Pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir sungai harus menghadapi kenyataan pahit ketika banjir meluap, menghancurkan usaha mereka. “Kami sering kehilangan barang dagangan karena banjir yang meluap. Kami merasa tidak ada yang peduli dengan nasib kami,” ungkap salah satu pedagang dengan nada penuh kepasrahan.
Kehidupan masyarakat desa Loyok yang tergantung pada sungai kini terancam. Banyak keluarga yang dulu bergantung pada sungai untuk berbagai kebutuhan harus mencari alternatif lain, yang seringkali sulit didapatkan. “Dulu, sungai ini adalah sumber kehidupan kami. Kini, kami harus berjuang keras untuk mencari air bersih dan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” kata Lalu Arya, menggambarkan betapa beratnya kondisi yang mereka hadapi.
Nostalgia masa lalu yang penuh kebahagiaan semakin memperburuk situasi emosional masyarakat. Dulu, para ibu-ibu duduk rapi di pinggir sungai, mencuci baju sambil bercanda dengan riang.
Anak-anak bermain dengan ceria di tepi sungai, menikmati kebersamaan dengan teman-teman mereka. Semua kenangan indah itu kini hanya tinggal sejarah, digantikan oleh limbah dan sampah yang berserakan di sepanjang aliran sungai.
Kini, sungai yang dulunya menjadi tempat berkumpul dan bersosialisasi telah berubah menjadi simbol kehancuran. Masyarakat yang dulunya merasa bangga dengan keindahan alam mereka kini merasa tertekan dan frustrasi. Mereka hanya bisa menyaksikan dengan sedih bagaimana sungai yang penuh kenangan berubah menjadi tempat yang penuh kotoran dan polusi.
Meskipun masyarakat telah berusaha untuk memperbaiki keadaan, upaya mereka sering kali tidak membuahkan hasil. Ketiadaan dukungan dari pihak-pihak berwenang dan kurangnya perhatian terhadap masalah lingkungan memperburuk situasi. “Kami telah mencoba berbagai cara untuk mengatasi masalah ini, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan. Kami merasa terabaikan dan tidak diperhatikan,” kata Lalu Arya.
Harapan akan perubahan masih ada, namun terasa sangat tipis. Warga desa Loyok berharap agar ada tindakan nyata dari pihak-pihak berwenang untuk memperbaiki keadaan sungai.
Mereka menginginkan adanya regulasi yang ketat terhadap aktivitas penambangan dan upaya yang lebih serius untuk membersihkan sungai dari limbah. “Kami hanya ingin sungai ini kembali seperti dulu, tempat yang bersih dan penuh kehidupan,” ungkap salah satu warga dengan penuh harapan.
Kesedihan dan kepedihan yang dirasakan masyarakat desa Loyok adalah cerminan dari kerusakan lingkungan yang lebih luas. Masalah ini bukan hanya tentang satu sungai, tetapi tentang bagaimana aktivitas manusia dapat merusak ekosistem dan mengancam kehidupan. Ini adalah panggilan untuk kesadaran dan tindakan, agar kita dapat menjaga dan melindungi sumber daya alam yang sangat berharga.
Dalam konteks ini, penting bagi setiap individu dan pihak-pihak terkait untuk bergandengan tangan dalam upaya memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Dengan kesadaran yang tinggi dan tindakan yang tepat, masih ada harapan untuk memulihkan keindahan dan fungsi sungai desa Loyok seperti masa lalu. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk memastikan bahwa generasi mendatang juga dapat menikmati keindahan alam yang sama.
(Arul/PorosLombok)
















