(Mataram, PorosLombok.com) – Aula Pendopo Wali Kota Mataram menjadi saksi momen bersejarah ketika 36 lansia diwisuda dalam acara Wisuda Sekolah Lansia “Memori”. Dengan usia tertua mencapai 105 tahun, para lansia ini membuktikan bahwa semangat belajar tak mengenal batas usia, dan kontribusi bagi masyarakat tetap dapat dilakukan di usia senja.Jumat (11/10).
Dalam sambutannya yang penuh energi, Pjs Wali Kota Mataram, Tri Budiprayitno, memulai acara dengan pantun yang membangkitkan semangat, “Untuk Indonesia kita rela mati, doa ayah bunda buat kita bertahan, menuju tua lansia itu sudah pasti, menjadi tetap muda adalah pilihan.” Sapaan ini langsung disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Tri Budiprayitno memberikan apresiasi mendalam atas dedikasi dan semangat luar biasa yang ditunjukkan oleh para lansia. “Bapak dan Ibu semua membuktikan bahwa belajar tidak pernah mengenal kata akhir. Setiap fase kehidupan memiliki keindahan dan potensi yang bisa digali,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Wali Kota juga menyoroti pentingnya keberadaan Sekolah Lansia “Memori” sebagai program inovatif yang memberi perhatian lebih kepada para lansia. Sekolah ini bukan sekadar tempat menimba ilmu, tetapi juga sebagai wadah untuk menjaga kesehatan, meningkatkan pengetahuan, dan mempererat hubungan sosial di antara lansia.
“Pendidikan dimulai sejak lahir hingga ke liang lahat. Salah satu janji Allah SWT adalah keberkahan bagi mereka yang terus menuntut ilmu. Bapak dan Ibu yang berpartisipasi dalam pendidikan di sekolah lansia ini Insya Allah akan mendapat keberkahan,” tegas Tri Budiprayitno.
Acara wisuda ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar dan berkontribusi bagi masyarakat bisa terus hidup, meski usia sudah senja. Para wisudawan lansia ini menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa belajar tidak mengenal batas dan usia hanyalah angka.
(Arul/PorosLombok)














