Oleh: Gita Purnadi, Pemerhati Sosial-Politik NTB
OPINI – Dalam hitungan hari, Pilkada serentak untuk pemilihan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) akan segera dimulai. Pertarungan tiga pasangan calon gubernur semakin menarik untuk diperhatikan, terutama dengan semakin banyaknya gambar dan video terkait Tuan Guru Bajang (TGB) yang beredar di media. TGB telah menjadi ikon dalam politik NTB, dan setiap gerak-geriknya selalu menarik perhatian publik.
TGB bukanlah sosok baru di dunia politik NTB. Sebagai mantan Gubernur yang menjabat selama dua periode, serta pimpinan ormas Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) kehadirannya memiliki magnet tersendiri. Ia dikenal luas dan dihormati oleh berbagai kalangan, baik di tingkat elit politik maupun di masyarakat umum. Oleh karena itu, banyak pihak yang menunggu arah dukungan politiknya, mengingat pengaruhnya yang besar di tengah masyarakat.
Dukungan dari TGB dianggap sangat penting karena ia memiliki kapasitas untuk merangkul suara dari berbagai segmen masyarakat, mulai dari Ampenan hingga Sape. Dalam konteks pemilihan ini, suara TGB diperkirakan dapat memengaruhi 22-24% dari total konstituen. Ini adalah angka yang signifikan dan menjadi perhatian utama bagi semua pasangan calon yang ikut serta dalam kontestasi ini.
Ketiga pasangan calon gubernur, yaitu Rohmi-Firrin, Zul-Uhel, dan Iqbal-Dinda, masing-masing memiliki strategi dan pendekatan tersendiri untuk mendapatkan endorsement dari TGB. Pasangan Rohmi-Firrin dan Zul-Uhel tampak sangat agresif dalam mendekati TGB, berusaha menciptakan kedekatan yang diharapkan dapat menggiring dukungan. Namun, di tengah kegamangan yang ada, pasangan Iqbal-Dinda memilih untuk fokus pada strategi mereka sendiri.
Dari perspektif saya, penting untuk dicatat bahwa TGB bukan hanya sekadar simbol dukungan; ia adalah figur sentral yang dapat menjembatani berbagai aspirasi masyarakat. Dalam konteks ini, dukungan TGB bukan hanya tentang memberikan suara, tetapi juga tentang legitimasi dan kepercayaan dari konstituen. Pasangan Zul-Uhel menyadari betul bahwa memenangkan Pilkada NTB tidak hanya bergantung pada janji-janji politik, tetapi juga pada kemampuan mereka untuk menarik dukungan dari tokoh-tokoh penting seperti TGB.
Viralnya video podcast TGB di media sosial semakin menghangatkan suasana. Dalam podcast tersebut, TGB membahas berbagai isu penting yang menyangkut masyarakat NTB, dan hal ini menarik perhatian banyak orang. Namun, video ini juga menimbulkan ketidakpastian bagi pasangan Rohmi-Firrin yang tampaknya semakin gamang. Sampai saat ini, TGB belum secara tegas menentukan sikap dukungannya, dan hal ini menciptakan dinamika yang menarik di pentas politik NTB.
Kegamangan ini terlihat jelas dalam strategi kampanye pasangan Rohmi-Firrin. Mereka tampaknya masih menunggu sinyal dari TGB sebelum mengambil langkah lebih lanjut. Di sisi lain, pasangan Zul-Uhel berusaha untuk menciptakan momentum dengan berfokus pada isu-isu yang relevan dan berupaya menjalin komunikasi yang lebih intens dengan TGB.
Sementara itu, pasangan Iqbal-Dinda, meskipun tidak terlalu mengandalkan endorsement TGB, tetap berusaha untuk membangun citra positif dan koneksi dengan masyarakat. Mereka percaya bahwa dengan pendekatan yang tepat, mereka bisa mendapatkan dukungan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada tokoh tertentu. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki strategi yang matang dan berani mengambil risiko.
Dalam konteks ini, kita harus mempertimbangkan bahwa Pilkada NTB bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan dukungan dari TGB. Ini juga tentang bagaimana masing-masing pasangan calon mampu mengartikulasikan visi dan misi mereka kepada publik. Kekuatan dan kredibilitas mereka akan diuji dalam menghadapi tantangan yang ada.
Tentu saja, dalam dunia politik, hubungan antara tokoh dan pasangan calon tidak selalu berjalan mulus. Ada kalanya perbedaan pandangan dan kepentingan muncul. Hal ini bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan calon yang berusaha untuk mendapatkan endorsement. Oleh karena itu, kemampuan untuk bernegosiasi dan membangun hubungan yang saling menguntungkan sangat penting.
Kita juga tidak boleh melupakan peran media dalam membentuk opini publik. Dengan semakin banyaknya konten yang beredar di media sosial, narasi dan citra yang dibangun menjadi sangat berpengaruh. Pasangan calon yang mampu memanfaatkan media dengan baik akan memiliki keuntungan tersendiri dalam menjangkau pemilih.
Menjelang hari H pemilihan, penting bagi setiap pasangan calon untuk tetap fokus dan tidak terjebak dalam kegaduhan politik yang mungkin terjadi. Mereka harus mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap isu-isu yang dihadapi masyarakat NTB, serta memberikan solusi yang relevan dan aplikatif. Ini akan menjadi kunci untuk meraih hati pemilih.
Kesimpulannya, siapa pun yang berhasil meraih dukungan TGB dalam Pilkada NTB ini akan memiliki keuntungan besar. Dalam dunia politik yang penuh dengan persaingan ini, endorsement dari tokoh seperti TGB bisa menjadi kunci kemenangan. Namun, dukungan ini tidak akan datang dengan mudah. Pasangan calon harus mampu menunjukkan kapasitas dan integritas mereka di mata publik.
Mari kita saksikan bagaimana pertandingan ini akan bergulir dan siapa yang akan mengambil tuah dari dukungan TGB. Dengan keinginan untuk menggali potensi NTB yang lebih baik, kita berharap bahwa pemilih akan cerdas dalam menentukan pilihan mereka, berdasarkan pada visi yang jelas dan komitmen untuk kemajuan daerah.
Hanya waktu yang akan menjawab siapa yang akan keluar sebagai pemenang dalam kontestasi yang penuh dinamika ini. Setiap suara sangat berharga, dan di tangan setiap pemilih terdapat tanggung jawab untuk menentukan masa depan NTB yang lebih cerah.
(Arul/PorosLombok)














