Membuka Tabir Wetu Telu Di Desa Pengadangan

Lombok Timur, PorosLombok.com -“Wetu telu” di Desa Pengadangan, Lombok Timur, melambangkan tingkatan spiritual dalam Islam. Drs. H. Asipudin menjelaskan praktik ini melibatkan hati, roh, dan nyawa, dengan dufa dibakar untuk mengundang malaikat. Pemahaman yang mendalam diharapkan menghindari kesalahpahaman dalam beribadah.

Istilah “wetu telu” sering kali menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat, di mana banyak yang memahaminya sebagai praktik shalat tiga waktu yang diimbangi dengan ritual adat. Namun, pemahaman ini tidak sepenuhnya mencerminkan esensi yang sesungguhnya, terutama di kalangan masyarakat Sasak di Lombok.

Drs. H. Asipudin, seorang tokoh adat di Desa Pengadangan, Kecamatan Pringgasela, Lombok Timur, memberikan penjelasan yang mendalam mengenai makna di balik “wetu telu”. Menurutnya, istilah tersebut bukan sekadar penggambaran praktik ibadah, tetapi menggambarkan tingkatan spiritual dalam agama Islam. Ia menguraikan bahwa “wetu telu” mencakup tiga aspek penting dalam kehidupan manusia: Tarekat, Hakekat, dan Makrifat.

Asipudin menegaskan bahwa ketiga tingkatan ini berkaitan erat dengan unsur-unsur dalam diri manusia, yaitu hati, roh, dan nyawa. Dengan penjelasan ini, ia berharap masyarakat dapat lebih memahami makna yang lebih dalam dari praktik “wetu telu”.

“Ini adalah pemahaman yang murni berasal dari Islam Kaffah, tanpa pengaruh dari tradisi Hindu-Buddha,” ungkapnya.

Dalam praktiknya, ritual ibadah “wetu telu” di Desa Pengadangan tidak jauh berbeda dengan ibadah Muslim pada umumnya. Namun, ada satu elemen yang menarik perhatian, yaitu praktik membakar dufa selama ibadah. Banyak yang mengaitkan dufa dengan tradisi Hindu, tetapi Asipudin memiliki pandangan berbeda. Ia menjelaskan bahwa dufa berfungsi sebagai pengharum ruangan yang membantu menciptakan suasana yang nyaman selama beribadah.

“Dufa dibuat agar malaikat merasa betah, karena mereka menyukai tempat yang harum,” lanjutnya.

Pemahaman ini menunjukkan bahwa masyarakat Pengadangan memiliki cara unik dalam mengundang kehadiran malaikat melalui keharuman, bukan sekadar memanggil roh halus seperti yang dipersepsikan sebagian orang.

Dalam konteks pakaian, masyarakat Pengadangan memiliki kebiasaan mengenakan pakaian adat, seperti sapu’ (ikat kepala). Bagi para kiyai, sapu’ berwarna putih menjadi simbol keagamaan yang penting. Asipudin menekankan bahwa simbol tersebut melambangkan hakekat, dan ketika dikenakan, seseorang memasuki kategori ibadah yang lebih dalam.

“Simbol Alif Lam pada sapu’ merepresentasikan wadah ilmu yang ada dalam diri manusia,” ungkapnya.

Ini menunjukkan bahwa pakaian tidak hanya sekadar penampilan, tetapi juga mencerminkan spiritualitas dan kedalaman ilmu yang dimiliki oleh pemakainya.

Drs. H. Asipudin juga menyoroti pentingnya niat dalam memahami “wetu telu”. Ia menyatakan bahwa masyarakat Pengadangan menganggap “wetu telu” sebagai niat yang berasal dari hati untuk mendekatkan diri kepada Allah.

“Pemahaman ini tidak hanya melalui ceramah, tetapi juga dalam praktik nyata dalam ibadah dan zikir,” tuturnya.

Perdebatan mengenai “wetu telu” sering kali menimbulkan kesalahpahaman di kalangan masyarakat. Asipudin mengingatkan bahwa banyak yang belum memahami sepenuhnya, padahal makna yang terkandung lebih kepada ilmu hakekat yang dalam. Dengan demikian, penting bagi masyarakat untuk lebih mendalami dan menggali makna di balik istilah tersebut.

Sebagai penutup, Asipudin menjelaskan perbedaan antara kufur dan kafir, serta menjelaskan bahwa “waktu telu” dan “waktu lima” merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Dalam ibadah lima waktu, gerakan itu hanya tampak, sedangkan yang bekerja adalah hati, roh, dan nyawa,” tutupnya.

Dengan demikian, “wetu telu” bukanlah sekadar ritual, melainkan perjalanan spiritual yang mendalam bagi masyarakat Pengadangan. Melalui pemahaman yang lebih luas ini, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk dan penuh makna.

Penulis: Arul
Sumber: Drs. H. Asipudin

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU