Mampu Berkurban tapi Tidak Mau? Ini Kerugian yang Akan Didapat

PorosLombok.com – Idul Adha menjadi salah satu momentum besar dalam ajaran Islam, ditandai dengan pelaksanaan ibadah kurban. Ibadah ini tak hanya menjadi bentuk kepatuhan kepada Allah SWT, tetapi juga wujud solidaritas sosial kepada sesama, terutama mereka yang kurang mampu.

Namun, di tengah semarak perayaan kurban, masih ada sebagian umat Muslim yang secara ekonomi mampu, tetapi enggan untuk berkurban. Padahal, keputusan ini berpotensi mendatangkan sejumlah kerugian, baik secara spiritual maupun sosial.

Berikut sejumlah kerugian yang dapat dialami oleh orang yang mampu tetapi memilih tidak berkurban:

1. Melewatkan Pahala yang Besar

Berqurban memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi dalam Islam. Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa “tidak ada amalan yang lebih dicintai Allah pada hari Idul Adha selain menyembelih hewan kurban”.

Dengan tidak berkurban, seseorang melewatkan kesempatan meraih pahala yang hanya bisa didapatkan sekali dalam setahun.

2. Tidak Meneladani Pengorbanan Nabi Ibrahim

Ibadah kurban merupakan bentuk penghormatan atas ketaatan Nabi Ibrahim AS yang rela mengorbankan anaknya, Ismail AS, atas perintah Allah. Dengan tidak berkurban, seseorang kehilangan kesempatan untuk meneladani nilai-nilai ketaatan dan keikhlasan tersebut.

3. Berkurangnya Kepedulian Sosial

Berkurban bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Daging kurban yang dibagikan kepada fakir miskin menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan. Enggan berkurban dapat mencerminkan minimnya rasa empati terhadap kondisi masyarakat sekitar yang membutuhkan.

4. Tidak Mengoptimalkan Rezeki untuk Kebaikan

Islam mengajarkan bahwa harta yang dimiliki bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi ada hak orang lain di dalamnya. Membeli hewan kurban bukanlah bentuk pemborosan, melainkan investasi amal yang berjangka panjang. Tidak menggunakan rezeki untuk berkurban bisa menjadi bentuk kelalaian dalam memanfaatkan nikmat yang telah diberikan Allah.

5. Peringatan dalam Hadis

Dalam sebuah hadis riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memiliki kelapangan (rezeki) tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami.”

Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang mampu tetapi tidak berkurban, dipandang sebagai sosok yang lalai terhadap ajaran Islam, bahkan sampai dikecam secara sosial dan spiritual.

Berkurban bukan hanya kewajiban bagi yang mampu, tetapi juga bentuk syukur dan tanggung jawab sosial. Bagi umat Muslim yang memiliki kelapangan rezeki, momen Idul Adha seharusnya dijadikan sebagai peluang untuk meraih pahala, menumbuhkan empati, dan menunjukkan ketaatan.

Mengabaikan ibadah kurban bukan hanya berarti kehilangan pahala, tetapi juga mencerminkan sikap kurang peka terhadap nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan.

Sumber:

  • Hadis Riwayat Tirmidzi
  • Hadis Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah
  • Kementerian Agama RI – Panduan Ibadah Kurban
  • Kompas.com – Artikel Ibadah dan Keislaman

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU