Akademisi Tersinggung di RSUD Soedjono: “Kami Pulang dengan Luka Batin”

Lombok Timur, PorosLombok.com – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. R. Soedjono Selong kembali jadi sorotan publik. Kali ini, keluhan datang dari seorang akademisi yang tak main-main: Dr. Muhamad Ali, M.Si, warga asli Lombok Timur yang juga dosen senior di sebuah perguruan tinggi negeri.

Dr. Ali mengaku mendapatkan perlakuan tak menyenangkan saat mendampingi anaknya berobat ke Poli Penyakit Dalam RSUD tersebut. Ia tidak menyangka akan mengalami pengalaman buruk di institusi yang seharusnya menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan masyarakat.

“Saya dan anak saya pulang dengan luka batin,” ungkap Dr. Ali saat ditemui wartawan, Senin (2/6).

Kedatangannya ke rumah sakit bukan dalam rangka pengobatan biasa, melainkan untuk melengkapi persyaratan magang luar negeri anaknya. Sebagai bagian dari administrasi, anaknya diminta menjalani pemeriksaan kesehatan secara lengkap, termasuk konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam.

Awalnya, proses berjalan normal. Pemeriksaan dilakukan, dan dokter yang menangani—dr. Karsito, Sp.PD—langsung menyarankan pemeriksaan laboratorium. Dari hasil tes tersebut, diketahui bahwa sang anak reaktif Hepatitis B, hasil yang sejatinya sudah lebih dulu diketahuinya dari pemeriksaan di Mataram.

Namun, suasana berubah saat Dr. Ali mencoba meminta penjelasan lebih lanjut terkait langkah medis yang bisa diambil. Ia berharap ada saran atau rekomendasi, tetapi yang diterima justru jawaban dingin yang membuatnya terpukul.

“Beliau hanya bilang, ‘Tidak ada dan tidak bisa diobati,’ dengan nada tinggi dan sikap yang tidak bersahabat,” bebernya.

Dr. Ali menambahkan, suasana konsultasi tersebut tidak hanya membuat dirinya kecewa, tetapi juga meninggalkan trauma emosional bagi anaknya. Bahkan, menurutnya, sikap dokter itu sudah melampaui batas etika pelayanan medis.

Ia mengatakan dokter berdiri dari kursinya dan menunjukkan gestur yang membuatnya merasa terintimidasi. Suasana makin tidak nyaman saat ia dan anaknya meninggalkan ruangan, lalu terdengar suara benda dibanting dari dalam ruang praktik.

“Kami keluar dengan perasaan syok, bingung, dan sangat terpukul. Saya merasa harga diri saya sebagai orang tua dan sebagai manusia direndahkan,” ujarnya dengan suara bergetar.

Dr. Ali pun mulai mempertanyakan standar layanan yang berlaku di RSUD Soedjono. Menurutnya, jika seorang akademisi sepertinya saja bisa diperlakukan secara tidak manusiawi, maka bisa dibayangkan seperti apa perlakuan terhadap masyarakat biasa yang datang tanpa latar pendidikan atau keberanian menyuarakan keberatan.

“Kalau saya, seorang dosen saja, diperlakukan begini, bagaimana dengan masyarakat biasa?” sindirnya tajam.

Menurutnya, rumah sakit seharusnya menjadi ruang aman bagi pasien dan keluarga, bukan tempat yang justru memperparah kondisi psikologis orang yang datang dengan harapan.

“Rumah sakit itu tempat mencari harapan, bukan tekanan,” katanya.

Ironisnya, Ali mengaku pernah bertemu dengan dokter yang sama di tempat praktik pribadi dan mendapati sikap yang sangat berbeda. Di sana, dokter yang bersangkutan justru melayani dengan ramah dan penuh senyum.

“Di tempat praktik pribadi, beliau sangat ramah. Apakah keramahan hanya berlaku untuk pasien yang membayar lebih?” ucapnya, menyelipkan nada kecewa.

Ia mendesak manajemen RSUD dan Dinas Kesehatan Lombok Timur agar turun tangan secara serius. Menurutnya, tindakan satu-dua oknum bisa merusak marwah institusi, terlebih bila dibiarkan berulang tanpa sanksi maupun evaluasi.

“Kita bicara tentang nyawa dan martabat manusia. Tidak bisa dianggap sepele,” tegasnya.

Menanggapi hal itu, Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. R. Soedjono, dr. Bardan Salim, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait insiden tersebut. Ia mengatakan manajemen akan mempertemukan kedua pihak untuk mendengar klarifikasi secara langsung.

“Memang ada laporan masuk. Besok akan kami fasilitasi pertemuan untuk klarifikasi,” ujarnya kepada media.

Terkait status dokter yang dilaporkan, Bardan menjelaskan bahwa dr. Karsito sebenarnya sudah pensiun dini. Namun karena keterbatasan tenaga medis spesialis penyakit dalam, pihak rumah sakit kembali meminta bantuannya sebagai tenaga harian.

“Kami akui kebutuhan dokter spesialis sangat mendesak, jadi beliau kami minta bantu,” jelasnya.

Kasus ini menambah daftar panjang keluhan masyarakat terhadap RSUD Soedjono. Tak sedikit warga yang selama ini mengeluhkan pelayanan yang dinilai tidak ramah, lambat, bahkan diskriminatif.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

1 KOMENTAR

  1. kamipun dulu pernah mengalami tindakan diskriminatif, apalagi sekelas kami tentu saja sangat dianggap sepele lah ini sekelas dosen saja begitu. Apakah mungkin mayarakat langsung yg akan mengevaluasi sehingga mau berbenah. Sy ingat waktu itu begitu kecewanya kami dalam keadaan emergency di ruang UGD yg sampai sekarang masih trauma kami alami sehingga terus berdo’a semoga tidak ada sanak keluarga sy masuk di RS itu lagi. Kami trauma dg pelayanannya terlebih menyangkut nyawa seseorang. Mudahan RS ini bisa berbenah ke depannya hingga kami masarakat tidak mengalami kekecewaan berkepanjangan🤲

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU