Plt Kades Loyok Lantik Empat Pekasih Petahana Periode Baru

Plt Kades Loyok melantik empat Pekasih petahana periode 2026-2031. Pengurus baru didesak segera memetakan potensi konflik air demi menjaga ketahanan pangan dan kesejahteraan petani.

PorosLombok.com – Pemerintah Desa Loyok resmi melantik empat Pekasih atau Kepala Subak terpilih masa jabatan 2026-2031 guna memperkuat sistem pengairan pertanian di Aula Kantor Desa Loyok Kabupaten Lombok Timur pada Senin (6/7/2026).

“Melihat kondisi tersebut, kami membuka kembali pendaftaran tahap kedua,” katanya.

Ketua Panitia Pemilihan Pekasih M. Isnaini menjelaskan bahwa perpanjangan masa pendaftaran khusus tiga kesubakan tersebut sepi peminat hingga hari penutupan. Langkah ini diambil panitia karena mayoritas wilayah hanya memunculkan calon tunggal atau petahana sejak awal pembukaan.

“Akan tetapi sampai hari penutupan tidak ada yang mendaftar lagi,” ujarnya.

Panitia akhirnya menetapkan mekanisme pemilihan umum terbuka khusus untuk wilayah Kesubakan Kesambik Mate. Sementara itu, tiga daerah administrasi subak lainnya meliputi Bangka I, Bangka II, dan Temiling secara otomatis meloloskan para kandidat lama tanpa proses pemungutan suara.

“Proses pemungutan suara di Kesubakan Kesambik Mate sendiri telah sukses dilaksanakan,” jelasnya.

Hasil akhir penghitungan suara menetapkan kembali H. Ruslan selaku petahana sebagai pemimpin sah di wilayah tersebut. Plt. Kepala Desa Loyok Lalu Bahaiddin menyambut positif hasil final ini dan langsung memimpin pengambilan sumpah jabatan para pemenang demi legalitas kerja kepengurusan.

“Selamat atas dilantiknya Bapak-bapak sekalian,” katanya.

Bahaiddin mengingatkan bahwa kembalinya para wajah lama ini membawa tanggung jawab besar dari ribuan sektor pekerja tani. Sektor agraria setempat sangat bergantung pada distribusi air yang merata, sehingga kepemimpinan yang adil menjadi agenda paling penting dalam kepengurusan baru.

“Kepercayaan ini merupakan amanah besar dari masyarakat,” ujarnya.

Kepala desa mendesak seluruh jajaran pengurus subak yang baru disumpah untuk segera turun ke sawah memetakan potensi konflik musiman. Manajemen pengairan hulu ke hilir harus bersih dari praktik kecurangan agar produktivitas gabah meningkat dan ketahanan pangan wilayah tetap terjaga aman.

“Selesaikanlah dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat demi kesejahteraan petani kita,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU